DERITA ISTRI PERTAMA

DERITA ISTRI PERTAMA
Bab 81_s2


__ADS_3

Setelah menikah Revan dan istrinya hidup bahagia hingga pada saat istrinya melahirkan istri Revan meninggal karena mengalami pendarahan yang hebat..


Hati Revan hancur setelah kehilangan sang istri Revan kini lebih memilih untuk menduda...


Kabar baik pun datang dari Berlian dan Graha kini bayi mungil nan cantik telah lahir, bayi cantik itu di beri nama Cahaya Anastasya Prawira..


Graha sangat bahagia dan tak kuasa menahan airmatanya ketika melihat Berlian bertaruh nyawa demi melahirkan sang buah hati..


Graha memeluk Berlian dengan sangat erat dan kemudian menghujani Berlian dengan ciuman ciuman di keningnya berkali kali sebagai ucapan terima kasih atas karunia dan berkah yang telah hadir dalam kehidupan Graha..


"Terima kasih sayang, kamu telah menyempurnakan hidupmu. Kau telah membuatku menjadi seorang Ayah dan ajari aku untuk menjadi seorang Ayah dan suami yang baik buat kalian kelak." ucap Graha sembari tersenyum..


Berlian yang masih lemah pasca melahirkan pun hanya menyunggingkan senyuman dan kemudian mengangguk..


Graha tak kuasa menahan airmatanya lagi ketika melihat putri mungilnya..

__ADS_1


"Anak Ayah.." ucap Graha sembari mengucap syukur dan kemudian mencium pipi sang putri dengan lembut...


Kebahagiaan terpancar di wajah sang Opa, dia menangis melihat sang cicit telah lahir dengan keadaan sehat dan juga berterima kasih kepada sang cucu menantu karena telah memberikan penerus untuk keluarga Prawira..


"Lian cucuku terima kasih karena kamu telah memberi Opa seorang penerus yang sangat cantik." ucap Sang Opa dengan tersenyum..


Berlian tersenyum.


"Iya Opa, Lian yang berterima kasih karena Mas Gra dan Opa telah memberi Lian dengan begitu banyak cinta." terima kasih Opa.." ucap Berlian dengan suara yang masih lemah..


"Kamu adalah anugrah terindah buat aku dan Opa, jadi mana mungkin kami akan membuarkanmu menangis sedangkan kamu memberi kami begitu banyak cintamu." ucap Graha sembari tersenyum..


🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Meninggalkan suasana bahagia Graha dan Berlian kini kita kembali pada kehidupan keluarga Wiguna.

__ADS_1


Kini Bunda Hesti dan Ayah Wiguna nampak duduk termenung di ruang tengah, mereka memikirkan nasib keluarga mereka.


Bunda Hesti nampak mengingat masalalunya bersama Berlian, di sini dirumah itu...


"Ayah... Seandainya rumah tangga Amar dan Lian baik baik saja mungkin sekarang kita sedang bermain dengan cucu kita."ucap Bunda Hesti pelan..


Ayah Wiguna pun memikirkan hal yang sama.


"Iya Bunda.. Seandainya saja waktu dapat di ulang ingin rasanya Ayah mengajari Amar dengan perlakuan yang baik, dan dia dan Berlian masih tetap bersama sampai sekarang ini." ucap Ayah Wiguna mengingat kebersamaan mereka ketika dengan Berlian dulu..


Namun kini keduanya sadar bahwa angan hanya tinggal angan, kenangan yang sudah terlewatkan hanya mampu untuk dikenang. Masa masa indah yang telah terlewati kini telah berubah menjadi rasa bersalah di hati dua orang tua itu..


Kini mereka hanya bisa mengharapkan kebebasan Amar dan menantikan cucu dari Amar.


Namun keraguan masih selalu menyelimuti benak Ayah Wiguna. Dia masih teringat dengan ucapan sang Ayah yang mengatakan bahwa akan membuat perhitungan dengan keluarga Prawira. Sebenarnya ada apa di balik ini semua." gumam Ayah Wiguna dalam hati..

__ADS_1


Ayah Wiguna pun masih terus mencoba mencari tahu tentang asal usul Amar, asal usul anak yang diberikan begitu saja oleh sang Ayah, namun Ayah Wiguna selalu gagal ketika bertanya tentang keluarga Amar sebenarnya karena Ayahnya bersi kekeh menyembunyikan jati diri Amar...


__ADS_2