DERITA ISTRI PERTAMA

DERITA ISTRI PERTAMA
Bab 113_s2


__ADS_3

Kini Opa Rahman, Graha, Berlian dan Tuan Sandy telah sampai di rumah sakit..


Alangkah terkejutnya Ayah Wiguna melihat sang Ayah dan Sang mantan Mertuanya berjalan bersama. Ayah Wiguna sendiri tidak pernah mengetahui permasalahan apa yang membuat kedua belah pihak menentang keras pernikahannya dengan Mahes..


Ayah Wiguna mendekat dan kemudian memberi salam kepada Opa Rahman, Graha dan juga Berlian.


Sementara Berlian langsung menuju kepada Bunda Hesti untuk menenangkan nya..


"Bunda yang sabar ya, kita disini mendoakan Mas Amar dan Lian yakin Mas Amar akan baik baik saja." ucap Berlian sembari memeluk Bunda Hesti..


Sementara itu mata Opa Rahman melihat ketulusan Hesti, wanita yang sebenarnya menjadi korban atas keegoisan Sandy dan dirinya..


Opa Rahman tak pernah menyangka jika Cucu yang dicarinya selama ini telah kembali kepada Ayahnya walaupun mereka tak pernah mengetahuinya..


Tuan Sandy lalu memanggil Ayah Wiguna yang masih terlalu menatap keduanya..


"Alam kemarilah maafkan Ayah, jika kamu mau tahu jati diri Amar sebenarnya dia adalah Grahadi anak Mahes cucu Sahabatku Rahman." ucap Tuan Sandy sembari mengusap airmata yang kini mulai membasahi pipi lelaki tua itu..

__ADS_1


Bunda Hesti dan Ayah Wiguna sangat syok setelah mendengar kabar itu, namun mereka mencoba untuk menahan diri lalu Ayah Wiguna bersujud meminta maaf kepada Opa Rahman dan memohon untuk mau mendonorkan darahnya demi nyawa Amar. Walaupun Ayah Wiguna tak pernah menyadari bahwa sebenarnya Amar adalah putranya..


Ayah Wiguna berlutut di hadapan Opa Rahman dan Graha..


"Saya mohon selamatkan Amar, kami sangat menyayangi nya dan kami enggak mau jika harus kehilangannya. Graha jika dia kakakmu Saya mohon selamatkan dia." ucap Ayah Wiguna sembari terus memohon..


Ada perasaan iba dalam hati Opa Rahman, dan pada akhirnya semua fakta mengejutkan terucap dan membuat kaget semua orang..


"Maaf kami tidak bisa membantu. Golongan darah Graha berbeda dengannya." ucap Opa Rahman pelan..


"Aku mohon Ayah, maafkan atas Segala kesalahanku dimasa lalu. Aku akan menerima segala konsekwensinya tapi aku mohon selamatkan nyawa Amar." ucap Ayah Wiguna terus memohon..


"Aku mohon Ayah.. Graha Om mohon selamatkan Amar." ucap Ayah Wiguna pelan..


"Rahman aku mohon selamatkan Amar, jika setelah ini kamu mau mengambilnya kami ikhlas asal kami masih bisa melihatnya kami sangat menyayanginya." ucap Tuan Sandy ikut menimpali..


Opa Rahman mengambil nafas panjang kemudian membuangnya secara berlahan..

__ADS_1


"Sebelumnya maafkan aku, kami memng tidak bisa menolongnya golongan darah kami berbeda." ucap Opa Rahman pelan..


"Bukankah Grahadi anak Maheswari, jika darahmu tak cocok dengannya tentu saja darah Graha cocok karena mereka adalah saudara kandung." ucap Tuan Sandy lirih..


Opa Rahman pun merasa kasihan melihat cucu ya g selama ini dicarinya sekarat di dalam ruang ICU..


"Graha dan Grahadi itu beda Ayah jadi mana bisa dia mendonorkan darahnya buat Amar. Alam bangunlah dan selamatkan anakmu sekarang." ucap Opa Rahman sembari menitikan airmata.


Semua orang semakin terkejut setelah mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut Opa Rahman.


"Maksud Ayah apa?" tanya Ayah Wiguna tak mengerti.


"Nanti saya jelaskan sekarang kamu masuk dan selamatkan nyawa putramu." ucap Opa Rahman..


Tanpa bertanya lagi Ayah Wiguna langsung menemui dokter dan langsung melakukan tes lab untuk melakukan tes, dan benar adanya darah Ayah Wiguna cocok dengan darah Amar...


Kini Tuan Sandy menatap ke arah Rahman seolah meminta penjelasan..

__ADS_1


"Nanti aku akan menceritakan semuanya." ucap Opa Rahman yang tahu dengan apa yang di pikirkan oleh sahabatnya itu...


__ADS_2