DERITA ISTRI PERTAMA

DERITA ISTRI PERTAMA
Bab 31


__ADS_3

Berlian masih ada dalam kamarnya, dari luar terdengar samar samar ada langkah kaki yang mendekat ke kamarnya.


"Lian...." panggil Amar sembari mengetuk pintu kamar Berlian.


Berlian yang sedang mengaji pun berdiri lalu membuka pintu kamarnya..


"Ada apa Mas?" tanya Berlian singkat..


Amar menatap Berlian dengan tatapan yang berbeda, wajah Berlian kian terpancar tak kala Berlian mengenakan mukena..


"Udah selesai sholatnya? Ayo kita makan aku udah lapar?" tanya Amar dengan lembut..


Berlian hanya mengangguk kemudian masuk kembali kedalam kamarnya untuk melepaskan mukena yang Berlian pakai..


"Makan ya tinggal makan, kok pakai ngajakin segala mau nya apa si?" gerutu Berlian dalam hati...


Tak lama setelah itu, Berlian dan Amar pun tengah sampai di lantai bawah rumah mereka..


"Istri mudamu mana Mar?" tanya Ayah Wiguna pelan..


"Masih tidur Yah." ucap Amar lalu menarik kursi dan duduk..


"Wanita hamil kok kebanyakan tidur, padahal itu enggak baik loh." ucap Bunda Hesti pelan...

__ADS_1


Tak lama setelah itu Fani datang dan mengomel..


"Sayang.. kok aku di tinggalin. Kamu jahat deh." ucap Fani pelan..


Berlian menatap ke arah Fani yang menurutnya kurang sopan.


"Fani jaga sikapmu?" ucap Berlian kepada Fani.


Fani hanya melirik Berlian dan memilih untuk tak menghiraukannya..


Semua orang makan dengan tenang termasuk Amar, Amar sangat menikmati makanan yang Berlian buat..


"Sayang, kamu makan yang banyak yaa.." ucap Fani kepada Amar..


Pada malam harinya Berlian sedang berada di kamarnya Berlian mengingat kejadian 5 tahun yang lalu kejadian dimana hubungan Fani dan Berlian masih baik baik saja..


"Fan.. Apakah kamu tahu jika kakak menyayangimu? Kakak melakukan itu hanya untuk kebaikanmu karena kakak tak mau kamu terluka dengan Revan." ucap Berlian dalam hatinya.


Berlian pun menangis tersedu mengingat kejadian itu, karena pada saat yang sama Berlian pun kehilangan sang Ayah..


Ayah Berlian meninggal saat mengetahui bahwa calon suami Fani adalah pembohong besar, Ayah Berlian meninggal karena serangan jantung.


Berbeda dengan Fani, Fani sangat membenci Berlian karena baginya Berlian lah penyebab segala penderitaan yang dia alami..

__ADS_1


"Seandainya dulu kau tak menggagalkan pernikahanku aku yakin hubungan kita akan baik baik saja kak." ucap Fani sembari menatap foto dirinya dan Berlian yang masih tersimpan di ponselnya...


Fani memang membenci Berlian namun Fani tak bisa menghilangkan rasa sayangnya kepada Berlian...


"Apakah sebaiknya aku menemui Ari dan meminta untuk mengakhiri semua ini. Aku melakukan ini semata mata ingin menyakiti Berlian, namun aku menyadari bahwa apa yang aku lakukan salah." ucap Fani dalam hati. Sepintas otaknya sembuh.


Amar masih terbayang bayang dengan perilaku Fani lalu menegurnya..


"Fan kalau di depan Ayah sama Bunda kamu yang sopan dong? Jangan kayak tadi Aku gak enak sama Ayah." ucap Amar dengan memainkan ponsel di tangannya..


"Iya Mas aku enggak akan mengulangi lagi." ucap Fani dengan entengnya.


Amar kemudian melihat ke arah Fani lalu mulai membandingkan Fani dengan Berlian.


Menurut Amar Fani harus bisa seperti Berlian yang lembut dan juga pekerja keras..


"Fan contoh kakak kamu, kapan kamu mau berubah. Ingat sebentar lagi kamu jadi seorang Ibu." ucap Amar pelan..


Mata Fani melotot tak terima, merasa dirinya di bandingkan dengan Berlian.


"Mas aku ya aku, dan Berlian ya Berlian. Kami adalah dua orang yang berbeda." ucap Fani dengan berteriak.


Fani sangat marah karena dibandingkan dan Fani semakin ingin menyingkirkan Berlian...

__ADS_1


__ADS_2