
Salsa dan Amar saling tertawa kini mereka sedang menertawakan diri mereka sendiri..
"Kamu itu ternyata lucu juga ya?" ucap Amar sembari menatap ke arah Salsa..
"Lucu? Emang aku badut!" ucap Salsa sembari menjulurkan lidahnya..
Amar semakin terkesan melihat kekonyolan Salsa.
Amar tersenyum dan menatap Salsa dengan dalam..
"Sudah sampai kantor? Apa kamu gak mau turun?" tanya Amar sembari menatap Salsa agak dekat..
Salsa melihat di sekitar dan merasa malu sendiri..
"Hee iya makasih ya udah mengantarku? Oh iya kamu pulang aja." ucap Salsa pelan..
Amar menggeleng..
"Sudah sana kamu selesaiin dulu urusan kamu aku tunggu kamu disini." jawab Amar pelan..
Salsa kaget mendengar bahwa Amar akan menunggunya..
"Apa gak merepotkanmu?" tanya Salsa pelan..
Amar tersenyum dan kemudian menggeleng..
"Enggak, walupun kamu seorang polwan tetap saja kamu itu perempuan jadi mana tega aku biarkan kamu pulang sendiri." ucap Amar sembari tersenyum.
Sudah sana selesaiin aku di sini.ucap Amar kemudian..
Salsapun tersenyum hatinya sangat bahagia baru pertama kali ada seorang lelaki yang begitu memperhatikan dirinya.
__ADS_1
"Terima kasih apa Mas gak mau ikut kedalam?" tanya Salsa pelan..
"Kesana?ucap Amar lirih, Enggak aku trauma dengan penjara.ucap Amar kemudian..
Salsa malah tertawa mendengar ucapan Amar..
"Kamu itu lucu juga ya Mas?" ucap Salsa pelan..
"Udah sana turun, kalau gak aku bawa pergi lagi ni." ucap Amar pura pura ngambek..
Salsa semakin geli melihat tingkah lucu Amar, hatinya merasakan kebahagiaan yang belum pernah dia dapatkan dari siapapun..
Salsa masih saja senyum senyum sendiri..
"Ya sudah aku turun dulu ya, gak lama kok." ucap Salsa sembari membuka pintu mobil milik Amar.
"Eh tunggu..." ucap Amar mengejutkan Salsa..
"Kenapa lagi Mas?" tanya Salsa pelan..
Salsa semakin terhipnotis dengan kebaikan Amar, bahkan dirinya saja tidak sadar bahwa Salsa masih mengenakan dress..
"Makasih ya Mas." ucap Salsa sembari berlalu turun meninggalkan mobil milik Amar..
Amar pun menatap punggung Salsa yang lama kelamaan hilang dibalik tembok..
💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟
Dilain tempat kini Berlian dan Graha bingung mencaribarah kemana Amar pergi. Pasalnya mereka datang bersama menggunakan satu mobil namun kini Amar tak kunjung memperlihatkan batang hidungnya.
"Kemana si Mas Amar?" gerutu Graha pelan.
__ADS_1
Berlian menatap Graha..
"Coba di telfon lah Mas." ucap Berlian sembari tersenyum melihat wajah panik sang suami..
Graha menatap kearah Berlian sambil medegus sedikit kesal..
"Kenapa gak bilang dari tadi bikin kesel." ucap Graha sembari meraih ponsel yang ada di saku jasnya.
"Kan Mas gak nanya hanya muter muter aja."jelas Berlian sembari tersenyum...
Graha menatap Berlian dan kemudian mencubit hidung sang istri..
"Kamu bisanya ngeledek Mas terus, awas aja ya kita sampai rumah kamu harus membayarnya?" ucap Graha mengancam..
"Kok gitu??" ucap Berlian protes..
Graha menaikan satu jarinya di bibirnya menyuruh Berlian diam...
"Halo Mas Amar dimana? Kami telah selesai dan ayo antar kami pulang?" tanya Graha dengan suara yang agak keras..
Pada sambungan telfon itu Amar menjelaskan bahwa dirinya sedang mengantar Salsa adik Revan ke kantor karena ada urusan yang penting.
Graha pun tersenyum dan merasa sangat senang karena kini sang kakak telah berhasil move on dan bangkit dari rasa sakitnya..
"Terus kami pulangnya bagaimana?" ucap Graha lirih..
Terdengar suara Amar tertawa dari sebrang sana..
"Kalian jalan kaki saja." ucap Amar pelan..
Sementara Berlian merasa bingung melihat tingkah sang suami yang berbisik bisik dalam menelfon..
__ADS_1
"Mas siapa yang kau telfon?" tanya Berlian curiga.
"Mas Amar sayang ternyata dia sedang berdua dengan Salsa." ucap Graha sembari tersenyum bahagia..