
Amar menatap kearah sang Bunda dan kemudian menarik nafas dengan dalam..
"Sebenarnya apa yang kalian sembunyikan, katakanlah agar aku bisa memahami semuanya. Jika aku bukan anak Bunda lantas aku anak siapa?"pekik Amar dengan pelan..
Bunda Hesti pun tak kuasa menahan airmatanya.
"Amar putraku, walaupun kamu tak lahir dari rahim Bunda, tapi rasa sayang Bunda sama kamu tidak pernah berkurang. Percayalah sayang Bunda tetap sayang sama kamu."
Amar menatap kearah laki laki paruh baya yang berada dihadapannya..
"Apakah benar anda Opa'ku? Dan bolehkah aku mengetahui tentang siapa orang tuaku yg sebenarnya?" ucap Amar sembari berusaha untuk duduk.
Opa Rahman pun duduk disamping Amar kemudian membelai rambutnya..
"Amar cucuku sebenarnya kamu itu tetaplah anak kandung dari Ayahmu, hanya saja Bundamu itu anak Opa. Dulu karena sebuah masalah dan Opa sama Kakek sama sama menentang pernikahan Ayah dan Bundamu, dan pada akhirnya mereka nekad untuk tetap menikah." jelas Opa Rahman..
Amar masih terdiam kemudian menatap kearah sang Ayah..
__ADS_1
"Maafkan Ayah Nak, Ayah juga baru tahu bahwa kamu adalah putra kandung Ayah. Percayalah kami selalu menyayangimu." ucap Ayah Wiguna sembari mendekati kearah Amar..
Tak lama kemudian Graha memasuki ruang rawat Amar dan kemudian tersenyum..
"Mas, maafkanlah mereka. Mereka memang telah membuat kesalahan namun Allah masih berbaik hari sehingga Allah menyatukanmu dengan Ayahnn
kandungmu Mas. Kita memang saudara satu Ibu dan aku mohon Mas bisa ikhlas dan mari kita hidup bersama sama." jelas Graha dengan penuh kelembutan..
Amar terdiam dan kemudian mengambil nafas panjang dan membuangnya ke sembarang arah..
"Ya sudahlah maafkan Amar juga jika belum bisa menjadi anak dan cucu yang baik buat kalian. Amar masih banyak kekurangan."ucap Amar sembari menunduk..
"Tidak ada satu manusia pun yang sempurna Mas, dan tak ada seorang manusia pun yang tak pernah melakukan kesalahan. Jadi sekarang kita lupakan masa lalu kita yang buruk dan kita tatap masa depan kita bersama sama." ucap Graha sembari tersenyum..
Amar pun kini tersenyum setelah mendengar ucapan sang Adik, dan kemudian Amar memeluk lelaki paruh baya yang sedang duduk disampingnya..
"Opa Maafin Amar jika Amar baru bisa menemui mu sekarang." ucap Amar sembari memeluk Opa Rahman dengan eratnya..
__ADS_1
Opa Rahman tak dapat berkata apa apa hanya isak tangis yang terdengar..
"Kenapa Opa menangis?" tanya Amar sembari menghapus airmata yang mengalir membasahi pipi keriput lelaki tua itu..
"Opa bahagia kini janji Opa kepada Bunda kalian sudah Opa tepati. Jikalaupun nanti Opa tiada Opa telah tenang dan Opa tidak akan di tagih janji lagi oleh Bunda kalian." ucap Opa Rahman di tengah isak tangisnya..
Graha mendekati sang Opa kemudian ikut memeluknya dengan erat..
"Opa masih belum boleh kemana mana sebelum cucu cucu Opa sukses, dan kami masih sangat membutuhkan Opa untuk membimbing kami." ucap Amar dengan menitipkan airmata haru..
Berlian dan Bunda hesti pun ikut menangis melihat pemandangan langka yang kini terpapar jelas dihadapan mereka.
"Lian sangat bahagia pada akhirnya Opa bisa menemukan Mas Amar dan juga kini keluarga kita telah kembali akur dan rukun. Buat Lian ini adalah hadiah terindah yang Allah kasihkan kepada kehidupan Berlian..
Dari semua rasa sakit yang pernah Berlian terima kini Berlian bisa kembali bersama dengan keluarga Berlian dan semoga selamanya keluarga kita akan tetap seperti ini." ucap Berlian sembari tersenyum..
Bunda Hesti pun tersenyum kemudian mengaminkan doa sang mantan menantunya itu..
__ADS_1
"Amin Lian semoga Allah senantiasa menjaga keutuhan keluarga kita dan selamanya kita akan menjadi keluarga yang paling harmonis" ucap Bunda Hesti sembari tersenyum...