
Graha nampak senang setelah bertemu dengan Opa Rahman, karena hanya Opa Rahman yang Graha punya setelah kedua orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan..
Di ruang keluarga Opa Rahman mengajak Graha berbicara..
"Gra usia kamu sekarang sudah kepala tiga, kapan kamu akan menikah?" tanya Opa Rahman dengan serius...
Glekkkkkkkkkk Graha nampak kaget mendengar ucapan sang Opa..
"Opa nanti juga Graha menikah nunggu yang tepat dulu, Graha gak mau salah pilih nantinya." ucap Graha pelan..
"Opa mau kamu menikah dengan gadis yang menolong Opa tadi siang." ucap Opa Rahman dengan kekeh..
Graha pun menjadi bingung, Graha tak mengenal siapa wanita itu bagaimana akan dia jadikan istri..
Graha bengong dan sepintas bayangan Berlian muncul dalam ingatannya...
"Seandainya wanita yang Opa maksud adalah gadis itu, aku akan dengan senang hati menerimanya." ucap Graha dalam hati sembari senyum sendiri..
Opa Rahman menjadi heran dengan tingkah sang cucu akhir akhir ini...
"Gra,, kamu itu kenapa? Opa ajakin bicara malah kamu senyum senyum sendiri. Apakah ada sesuatu?" tanya Opa Rahman dengan serius..
Graha diam, dan kemudian tersenyum kearah sang Opa,.
"Opa ada seorang wanita yang membuat hati Graha berdetak lebih kencang dari biasanya? Apakah ini yang dinamakan cinta?" tanya Graha kepada sang Opa.
Opa Rahman tersenyum bahagia..
"Akhirnya ada seorang wanita yang bisa membuatmu jatuh cinta, sempat Opa mengira bahwa kamu mencintai sahabatmu Anton." ucap Opa Rahman dengan tertawa..
Graha menatap kearah sang Opa yang sedang menertawakan dirinya.
"Opa mana mungkin si jeruk makan jeruk, asem kali Opa." ucap Graha sembari tersenyum dan kemudian dia berlalu menuju kamarnya...
Opa Rahman pun bahagia setelah mendengar pengakuan Graha.
☪️☪️☪️
Berlian kini telah sampai di butik milik keluarga Wiguna, dengan langkah yang kurang semangat dia memulai aktivitasnya...
Semenjak gak ada Intan sahabatnya Berlian menjadi kurang semangat di butik...
Tiba tiba ponsel Berlian berdering sebuah pesan dari Amar masuk..
__ADS_1
"Sayang.. Jangan lupa makan siang ya." tulis Amar pada pesan Wa yang dia kirimkan.
Berlian bingung dengan sikap Amar belakangan ini, semenjak kejadian pada malam itu sikap Amar berubah...
Berlian enggan untuk membalas pesan dari Amar lebih memilih untuk tak memperdulikannya.
"Seandainya kamu seperti ini semenjak awal kita menikah mungkin kita adalah pasangan yang paling bahagia, namun nyatanya semuanya berbeda sekarang.
Kau bukan hanya milikku melainkan juga milik Fani adikku, dan seandainya aku boleh meminta aku ikhlas untuk kau tinggalkan Mas." ucap Berlian dalam hati.
Pintu ruangan Berlian di ketuk oleh seseorang..
"Pagi sahabatku..." ucap Fauzan yang ternyata telah kembali dari Bali.
"Zan kamu kapan kembali?" tanya Berlian dengan bahagia.
"Kemarin, sengaja aku tak mengabarimu. Ayo kita makan siang." ucap Fauzan yang mengajak Berlian akan siang bersama..
"Baiklah.. kamu yang traktir." ucap Berlian pelan kemudian keduanya pergi bersama..
Sesampainya di sebuah restoran, Berlian dan Fauzan pun memesan makanan dan setelah menunggu lumayan lama keduanya pun kini tengah menikmati pesanan mereka...
"Lian bagaiman hubunganmu dengan suamimu?Apa kalian baik baik saja?" tanya Fauzan pelan.
Mata Berlian menatap ke arah lelaki yang ada di depannya..
"Syukurlah kalau baik baik saja, Aku cuma takut saja kedekatan kita menjadi anacaman buat hubungan kalian, padahal kita hanya berteman bukan?" tanya Fauzan menahan getirnya hatinya..
Berlian tersenyum dan kemudian menatap ke arah Fauzan...
"Seandainya kamu tahu bagaimana rumah tanggaku Zan, aku sedih merasakan ini semua setiap kali hatiku sakit menerima kenyataan namun aku enggak mau menjadikanmu alasan perpisahan ku kelak. Kamu itu sahabatku Zan.." ucap Berlian dalam hati..
Emang kamu mau aku anggap apa? Selingkuhanmu?" ucap Berlian sembari tertawa.
Fauzan pun ikut tertawa..
"Kamu pikir aku itu apaan aku bukan lelaki cadanganmu baby." ucap Fauzan dengan suara keras.
Dari sudut ruangan nampak sepasang mata mengawasi mereka siapa lagi kalau bukan Amar, Amar yang kebetulan berada di restoran yang sama pun menjadi sangat cemburu dengan kedekatan Berlian...
Amar menatap Berlian dari kejauhan, Berlian sedang tertawa dengan Fauzan, entah tertawa bahagia atau sedang menertawakan dirinya sendiri..
"Senyum itu, seandainya senyuman itu kau ciptakan untukku sayang aku akan sangat bahagia. Namun pada kenyataannya senyuman itu kau ciptakan untuk laki laki lain. Sakit Lian ketika aku harus melihatmu tertawa sebahagia itu.." ucap Amar dalam hati tanpa memikirkan kesalahan terbesar dalam hidupnya itu.
__ADS_1
Amar mencoba menghubungi Berlian, namun lagi lagi Berlian tidak membalas chat dari Amar, dan kemudian Amar mencoba menghubungi Berlian...
"Lian ponselmu berdering.." ucap Fauzan pelan..
Berlian kemudian meraih ponselnya dari dalam tas dan melihat nama sang pemanggil Mas Amar..
Setelah meminta izin pada Fauzan, Berlian pun mengangkat telfon..
"Assalamu'alaikum, iya Mas Amar ada apa?" tanya Berlian singkat.
"Kamu lagi dimana sayang?" tanya Amar pura pura tidak tahu..
"Aku lagi makan siang sama Fauzan kenapa?" jawab Berlian jujur apa adanya.
Amar diam seketika mendengar kejujuran Berlian, enggak kenapa hatinya menjadi sedikit sakit terasa.
"Gak usah berfikir yang macam macam aku dengan dia hanya bersahabat dan tak lebih." ucap Berlian lalu mematikan sambungan teleponnya..
Berlian melihat Amar berada di sebuah meja di restoran yang sama...
"Dasar aneh, mau apa coba udah lihat pula aku disini kenapa pake telfon. Aku bukan kamu Mas yang tukang selingkuh." ucap Berlian dalam hati dengan kesalnya.
Berlian kembali ketempat duduknya dan melanjutkan acara makan siangnya bersama Fauzan.
Pada sore hari sekitar pukul 5 sore Berlian tengah sampai di rumah..
Seperti biasa Berlian langsung membersihkan diri dan menunaikan ibadah puasa ashar.
Setelah selesai Berlian pun kedapur untuk menyiapkan makan malam...
Bunda Hesti yang melihat Berlian di dapur pun mendekatinya.
"Sayang.. kamu kan cape dari butik kenapa mau masak juga?" ucap Bunda Hesti dengan tersenyum.
"Gak apa apa Bunda, Lian suka kok.." ucap Berlian pelan. Oh iya Bunda mau di masakin apa untuk malam ini? ucap Berlian kemudian.
"Terserah kamu saja sayang, ya sudah Bunda mau kekamar dulu ya." ucap Bunda Hesti sembari pergi meninggalkan Berlian yang sedang memasak di dapur...
Tepat pukul tujuh malam Amar telah sampai di rumah,
Setelah itu Amar masuk kedalam kamarnya untuk membersihkan diri dan kemudian turun lagi untuk menikmati makan malam.
Fani yang masih enak tidur pun tak tahu jika Amar tengah pulang..
__ADS_1
"Tidur terus kerjaanmu, kamu bantuin Berlian mask apa gimana, bergunalah sedikit kamu disini." ucap Amar dalam hati...
Setelah itu Amar turun ke bawah dan sebelum sampai di lantai bawah Amar menghampiri kamar Berlian..