
Amar tak melirik Fani sama sekali, justru pikirannya hanya tertuju kepada Berlian, Berlian dan Berlian..
Amar mengambil ponsel miliknya kemudian keluar meninggalkan Fani sendirian di kamar..
"Sayang kamu mau kemana?" tanya Fani dengan muka cemberut..
"Mau nyari Berlian, kenapa mau ikut?" ucap Amar pelan..
Fani merasa kesal setelah mendengar ucapan Amar..
"Bukankah kamu tak pernah memikirkannya? kenapa sekarang kayak gini palingan juga dia lagi sama Fauzan." ucap Fani dengan kesalnya..
"Jaga omongan kamu itu. Ingat dia juga masih sah sebagai istriku jadi aku bertanggung jawab atas dirinya." ucap Amar dengan serius..
Mata Fani melotot setelah mendengar ucapan Amar.
"Sejak kapan Mas Amar menganggap Berlian sebagai istrinya?" ucap Fani dalam hati..
Tapi Mas aku mau di temani sama kamu?ucap Fani dengan manjanya..
"Udah kamu tidur aja, aku pergi." ucap Amar tak memperdulikan Fani lagi..
Fani menjadi semakin kesal setelah mendapatkan penolakan dari Amar..
"Berlian semua ini gara gara kamu, kenapa si kamu gak pergi aja yang jauh sekalian bila perlu pergi dari dunia ini." ucap Fani dalam hati..
Amar kini telah berada di rumah sakit dimana Berlian berada sekarang. Amar sengaja hanya melihat apakah benar Berlian berada di sana ataukah hanya alasan saja untuk menghindari dirinya.
Amar melihat Berlian dari kantin untuk membeli beberapa makanan, Amar tersenyum kemudian pergi meninggalkan rumah sakit.
Ketika masih berada di koridor rumah sakit Berlian seperti melihat Amar, namun Berlian mencoba menepis rasa penasarannya itu...
"Mana mungkin dia kesini? Lagian juga mau ngapain?" ucap Berlian dalam hatinya..
Sudah cukup rasanya sakit di hatiku ini, terlebih perlakuan barunya itu justru membuatku tambah sakit. Jika aku boleh memilih aku lebih suka dia yang dulu dari pada dia yang sekarang. ucap Berlian kemudian.
Sepasang mata terus mengawasi Berlian, Graha terus memandang ke arah Berlian namun hanya dari kejauhan..
"Kalau suka pepet, jangan diam aja." ucap Anton dari arah belakang Graha..
"Papar pepet emang truk di pepet." ucap Graha sembari memasuki ruangannya..
__ADS_1
"Ayolah Gra cari pendamping hidup,lihatlah kamu itu ganteng, mapan, dan orang yang punya segalanya masa untuk mencari pasangan aja kamu enggak bisa apa perlu aku masukin kamu ke biro jodoh?" ucap Anton sembari tertawa..
"Brisik..." ucap Graha pelan..
"Kamu itu anak pemilik rumah sakit ini Gra, mana mungkin kamu tua nanti tanpa pendamping? huh sadis." ucap Anton kembali menggoda Graha.
Graha melempar Anato dengan pulpen..
"Kamu bisa diam gak? Nyerocos terus kayak bencong lama lama aku terkena darah tinggi olehmu." ucap Graha sembari menyalakan laptopnya.
"Oke oke, kalau udah bencongnya keluar mah udah takut aku. Aku kabur aja deh bye jomblo akut." ucap Anton sembari tertawa lepas..
Setelah Anton keluar dari ruangannya Graha tersenyum sendiri mendengar ucapan sang sahabat tadi..
"Benar juga ya, aku ganteng tapi kok jomblo terus ya. Seandainya Allah menjodohkan aku dengan wanita itu." ucap Graha kembali mengingat wajah Berlian.
Huh... Bisa gila aku kalau kayak gini?ucapnya kemudian..
☪️☪️☪️
Hari ini Dokter Graha akan berangkat ke Bali untuk meninjau rumah sakit yang kakeknya bangun disana dan kemungkinan besar sementara Graha akan menetap di Bali.
"Iya yakinlah, kamu tenang saja kalau kamu rindu kamu bisa menemuiku di Bali." ucap Graha pelan...
"Ih ogah aku rindu kau, aku normal aku masih suka sama cewek." ucap Anton sembari tertawa..
Suasana berbeda di alami oleh Berlian, Berlian baru saja sampai di kediaman Wiguna.
"Assalamu'alaikum.." ucap Berlian pelan..
"Waalaikumsalam, sayang kamu sudah pulang bagaiman keadaan Intan?" tanya Bunda Hesti dengan lembut.
"Sudah lebih baik Bunda.." ucap Berlian pelan.
Dari lantai atas terdengar suara Amar.
"Tahu pulang juga kamu?" tanya Amar tak mengenakan hati..
"Amar kamu ini apa apaan si? Ingat ya dia itu istrimu dan dia pergi juga seizin Bunda." ucap Bunda Hesti mencoba membela Berlian.
Berlian hanya tersenyum kemudian meraih tangan Amar..
__ADS_1
"Maaf Mas jika aku gak pamit." ucap Berlian pelan..
"Iya sudah lain kali jangan kayak gitu lagi." ucap Amar dengan menatap Berlian.
Berlian hanya mengangguk mendengar ucapan Amar..
"Ini orang maunya apa si, kadang naik kadang ngeselin juga kadang nyakitin." gerutu Berlian dalam hati..
Selepas itu Berlian menuju kamarnya untuk menyegarkan diri. Baru saja memasuki kamarnya pintu kamarnya ada yang mengetuk..
"Mas Amar mau ngapain."ucap Berlian pelan ketika melihat Amar yang ada di ambang pintu.
Tanpa menjawab Amar masuk kedalam kamar Berlian dan tidur di pembaringan..
"Mas ngapain, keluar..." ucap Berlian dengan keras.
Amar tak menghiraukan ucapan Berlian malah Amar terlelap dalam mimpi indahnya..
"Dasar kebo, ketemu bantal langsung molor." ucap Berlian dalam hati..
Berlian lalu membersihkan diri dan setelah itu melakukan sholat Dzuhur..
Amar memperhatikan Berlian ketika solat.
"Udah cantik dan kamu juga taat dalam beragama, nyesel rasanya aku menyia nyiakan kamu selama ini. Mulai sekarang aku janji aku akan memberikanmu kebahagian yang kamu mau." ucap Amar dalam hatinya lalu Amar tertidur hingga sore hari..
Melihat Amar tidur Berlian keluar dari kamarnya karena Berlian enggan untuk berduaan dengan Amar..
Berlian lebih suka membantu Bunda Hesti membuat rancangan gaun yang akan mereka pasarkan..
"Lihatlah Lian hasil gambar kamu bagus banget." ucap Bunda Hesti dengan tersenyum.
"Bunda akukan baru aja lagi belajar." ucap Berlian dengan polosnya.
Bunda Hesti sangat senang melihat kemampuan yang Berlian punya..
"Kamu memang hebat sayang, oh iya dimana Amar?" tanya Bunda Hesti dengan pelan...
"Tidur Bun dikamar Lian." ucap Berlian dengan polosnya.
Bunda Hesti tersenyum dan berharap bisa secepatnya mendapatkan cucu dari Berlian bukan dari Fani..
__ADS_1