
Berlian menatap rumah yang kini di tempati oleh Bundanya..
"Bunda kenapa Bunda menetap disini? Kan Bunda bisa tinggal di rumah peninggalan Ayah, atau enggak Bunda dan Fani tinggal sama Lian aja ya."ucap Berlian sembari menitikan airmata..
Fani memegang bahu sang kakak,
"Kami enggak mungkin tinggal sama kamu Kak, kini kamu telah memiliki keluarga dan biarkan kami tetap disini. Fani janji Fani akan membuat hidup Bunda jauh lebih baik lagi dan Fani janji Fani akan giat bekerja supaya Fani bisa membahagiakan Bunda." ucap Fani sembari menatap kearah sang Bunda..
Bunda Rusa pun ikut menimpali ucapan sang putri..
"Iya Lian kami enggak apa apa lagipula Bunda sudah terbiasa,dan Bunda juga masih bekerja di rumah sakit jadi kami bisa mencukupi kehidupan kami. Tugas Lian adalah jalani hidupmu dengan bahagia besarkan cucu Bunda dengan baik." ucap Bunda Risa sembari tersenyum..
Fani menatap kearah Berlian dan Graha.
"Dimana putri kalian Aya? Bisakah aku bertemu dengannya?" ucap Fani dengan mata yang berkaca kaca..
Berlian dan Graha saling pandang kemudian Graha keluar dan menuju mobil untuk menjemput sang putri..
Fani menatap Cahaya dengan tatapan haru sekaligus iri karena Berlian berhasil menjadi wanita yang sangat spurna berbeda dengan dirinya.
__ADS_1
"Kamu cantik sekali siapa nama kamu." ucap Fani sembari berjongkok sejajar dengan tinggi Cahaya..
"Cahaya Tante, pasti ini Tante Fani ya, Adiknya Bunda?" tanya Cahaya dengan lugunya.
Fani tak kuasa menahan airmatanya airmata bahagia karena masih diberi kesempatan untuk berkumpul lagi dengan keluarganya walaupun kini dirinya sudah tak sempurna lagi..
"Iya sayang ini tante Fani, Cahaya cantik." ucap Fani sembari memeluk tubuh mungil Cahaya..
Suasana haru pun dilewati dengan penuh dengan kebahagiaan setelah sekian lama terpisahkan namun mereka masih bisa kembali bersama lagi, dan kini mereka pun bisa hidup berdampingan kembali..
🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿
(Meninggalkan kebahagiaan Berlian kini kita melihat kehidupan Amar.)
Tujuh tahun hidup didalam hotel prodeo membuat Amar belajar banyak hal.
Amar kini menjadi sosok laki laki yang jauh lebih baik bahkan berubah 180% dari Amar yang dahulu..
Bunda Hesti sangat bahagia dengan perubahan sang Putra..
__ADS_1
"Amar putraku kamu enggak mau makan dulu? Bunda telah menyiapkan semua makanan kesukanmu?" tanya Bunda Hesti dengan lembut..
Amar tersenyum kearah sang Bunda..
"Bunda gak usah repot repot nanti Amar ambil sendiri saja. Terima kasih karena Bunda telah mau capek untuk menyiapkan makanan kesukaan Amar." ucap Amar dengan lembut..
Bunda Hesti memeluk sang Putra yang sangat dia rindukan..
"Seandainya kamu tahu jika Ayah sama Bunda bukanlah orang tua kandungmu apakah kamu masih mau menyayangi kami?" tanya Bunda Hesti dalam hati..
Amar yang melihat sang Bunda melamun pun Bertanya?
"Bunda ada apa? Apa Bunda sakit?" tanya Amar sembari memegang beberapa bagian tubuh sang Bunda seperti tangan dan kening sang Bunda..
"Bunda enggak apa apa putraku, Bunda hanya bahagia karena kini kamu telah bebas dan Bunda juga sangat bersyukur karena kini kamu sudah menjadi putra Bunda yang jauh lebih baik. Bunda kagum denganmu putraku." ucap Bunda Hesti sembari tersenyum..
Amar pun ikut tersenyum dan merasa lega bahwa perubahan yang dia lakukan membuat sang Bunda merasakan bahagia dengan seperti itu perubahan Amar tak sia sia..
"Terima kasih Bunda, banyak hal yang aku pelajari dari kehidupan Amar kemarin Bunda. Amar enggak mau mengulang kesalahan Amar untuk kesekian kalinya lagi, dan kini Amar hanya ingin menjadi lelaki yang baik dan bertanggung jawab kepada siapa saja jodoh Amar yang kelak Allah berikan. Bunda jangan lupa doain Amar agar Amar busa selalu berada di jalan yang benar ya Bun." ucap Amar sembari bergelayut manja di lengan sang Bunda..
__ADS_1
Ayah Wiguna yang menyaksikan kedekatan keduanya dari arah sekarang mereka justru merasa cemas, bagaimana jika nanti Amar tahu yang sebenarnua? Amar tahu tentang jati dirinya bahwa Amar bukanlah keturunan Wiguna pasti Amar akan sangat marah bahkan kecewa..
Ayah Wiguna masih menatap keduanya dengan tatapan kasihan sungguh besar cinta kasih yang telah di berikan oleh Hesti kepada Amar sama seperti pesan dari sang Ayah Tuan Sandy bahwa keduanya harus benar benar menyayangi Amar entah apa yang di maksud oleh Ayahnya itu.