
Amar merasa bersalah terhadap Berlian sementara Berlian hanya terdiam tanpa berkata apapun..
"Lian,, maafin aku..." ucap Amar sembari memeluk Berlian, namun Berlian menolaknya..
"Jika Mas sudah puas keluarlah tinggalkan aku sendiri." ucap Berlian dengan memalingkan wajahnya..
Amar tahu jika Berlian kecewa dengan apa yang telah dia lakukan, Amar sadar walaupun Berlian sah sebagai istrinya harusnya tak ada paksaan.
"Baiklah, kamu tidur yah sayang. Tolong izinkan aku untuk menyayangimu aku melakukan semua ini karena aku enggak mau kehilangan kamu sayang." ucap Amar dengan lembut..
Berlian hanya diam tak menjawab apa apa.
Melihat Berlian diam, Amar pun keluar dari kamar Berlian dengan perasaan bahagia yang tak bisa dia lukisan dengan kata kata.
"Ternyata dia mampu menjaga kesuciannya untukku. Maafkan aku sayang jika aku mengambilnya dengan paksa."ucap Amar dalam hati dan dia pun bahagia..
Sementara itu Berlian menangis meratapi apa yang telah terjadi, Berlian tak pernah menyangka suaminya merebut haknya dengan cara memaksa...
"Kenapa kamu melakukan ini kepadaku Mas?" ucap Berlian dalam hatinya, hati Berlian pun merasa kecewa..
Pada keesokan paginya, Berlian bangun seperti biasa. Dia menyiapkan sarapan dan lain sebagainya. Bunda Hesti mantap kearah Berlian seperti ada yang berbeda.
__ADS_1
Bunda Hesti mendekat ke arah Berlian kemudian memegang bahu Berlian...
"Apa kamu baik baik saja sayang? Kok kamu pucat?" tanya Bunda Hesti dengan penuh kekhawatiran.
Berlian berbalik menatap ke arah sang Bunda...
"Berlian baik baik saja Bunda?"ucap Berlian pelan..
Tak lama setelah itu Amar tengah bersiap ke kantor pagi itu Amar terlihat sangat bahagia..
"Pagi Bunda.. Pagi sayang." ucap Amar pelan..
Bunda Hesti bingung dengan kelakuan anaknya yang tak seperti biasanya yang memanggil Berlian dengan sebutan nama...
"Kesambet bidadari cantik Bunda, gak ada yang salah kok Bunda." ucap Amar sembari tersenyum...
Berlian hanya tersenyum tipis dan memilih tak menanggapi ucapan Amar...
"Sayang.. Buatin kopi yaa, tolong?" ucap Amar dengan tersenyum..
"Iya tunggu sebentar." ucap Berlian pelan...
__ADS_1
Setelah Bunda pergi Amar mendekati Berlian..
"Sayang kamu kenapa? kamu marah ya." ucap Amar sembari memeluk Berlian dari belakang.
Berlian merasa risih di perlakukan seperti itu, sebisa mungkin Berlian menghindar.
"Lepaskan Mas, gak enak di lihat orang." ucap Berlian sembari meletakan secangkir kopi di atas meja makan..
Amar merasa bersalah kepada Berlian.
"Sayang maafin aku ya. Aku janji mulai dari sekarang aku akan memperlakukanmu selayaknya istriku, aku janji aku akan berubah." ucap Amar dengan serius..
"Sudahlah Mas aku cape, terserah Mas mau memperlakukan aku seperti apa, yang pasti aku kecewa sama kamu Mas." ucap Berlian sembari pergi meninggalkan Amar di meja makan..
☪️☪️
Fani yang melihat kedekatan Amar dan Berlian pun menjadi cemburu, walaupun niatnya hanya ingin menghancurkan Berlian namun perasaan Fani tak bisa di bohongi jika Fani memiliki perasaan dengan Amar.
"Dulu kamu telah menghancurkan pernikahanku dengan Mas Revan, dan aku akan membalasnya dengan mengambil suamimu seutuhnya agar kamu tahu bagaimana rasanya di campakkan." gerutu Fani dalam hati...
Fani mendekati Amar yang sedang sarapan di meja makan..
__ADS_1
"Selamat pagi sayang..." ucap Fani sembari mencium pipi Amar..
Melihat Fani timbulah niatan Amar untuk membuat Berlian cemburu melihat kemesraan Fani dan Amar...