
Berlian merasa hancur, hancur bukan karena pada akhirnya dia harus berbagi suami dengan adik tirinya melainkan hancur karena sebuah ucapan yang terlontar dari bibir sang adik...
"Aku juga mau hamil dan punya anak, namun apakah kau pernah tahu apa yang aku alami selama ini?" ucap Berlian dalam hatinya sembari menahan sesaknya perasaan yang semakin menghimpit jantungnya..
Di ruang tengah Amar di marahin habis habisan oleh sang Ayah dan Bundanya..
"Kamu itu kenapa Amar, Bunda sudah mencarikan wanita yang terbaik untukmu malah kau menyia nyiakan nya dimana hati kamu Mar." ucap Bunda Hesti dengan sedih..
"Kamu tahu Amar Ayah sendiri tidak pernah bermain wanita karena jika Ayah punya anak perempuan Ayah enggak mau dia di permainkan orang. Tapi lihat kamu Mar, lihat?? Apa yang kamu dapat sekarang apa?" bentak Tuan Wiguna dengan marahnya.
Amar hanya diam dan tak berani menjawab..
"Untung saja kamu mempunyai istri wanita yang berhati mulia Amar, wanita yang tak banyak menuntut bahkan dia rela untuk dimadu itu semua demi kamu. Apa kamu tahu bagaimana hancurnya perasannya saat ini Amar? Kapan kamu akan berubah dan melupakan masa lalu burukmu.. Lihat tidak semua wanita sama seperti Siska, contohnya wanita yang telah sah menjadi istrimu wanita yang justru kau sia siakan.." ucap Bunda Hesti semakin kesal..
Amar menitikan airmata setelah mendengar ucapan sang Bunda, memang benar Berlian wanita yang berbeda. Walaupun dia tak pernah mendapatkan apapun darinya namun dia tak menuntut dan tetap bisa menjaga aib suaminya..
"Iya Bunda... Ayah, Amar tahu Amar salah.." ucap Amar dengan tertunduk..
Bunda Hesti menangis mengingat apa yang telah putra nya lakukan, dulu dia berjanji untuk membahagiakan Berlian justru mereka kini memberinya duka yang panjang..
☪️☪️☪️
Sementara itu di dalam kamar Berlian masih saja menangis bahkan tak mau melakukan apapun.
Hatinya masih sangat sakit dan seandainya boleh meminta ini semua enggak mau terjadi..
Amar masuk kedalam kamar, Berlian membalikan badan dan pura pura tidur sembari mengusap airmatanya..
Amar mendekat ke arah Berlian, kemudian duduk menghadap Berlian sembari menatap punggung Berlian..
Amar tak berani menyentuh tubuh istrinya, dia ingin sekali memohon dan meminta ampun namun Amar lebih memilih mengurungkan niatnya..
"Lian maafkan aku, aku memang bodoh telah menyia nyiakan kamu selama ini, seharusnya jika aku tak egois kita pasti bahagia, seandainya aku bisa menyadari cinta ini dari awal pernikahan kita mungkin semua tak akan terjadi.." ucap Amar dalam hati tak terasa airmata menetes dari pelupuk mata Amar.
☪️☪️☪️☪️☪️
__ADS_1
Satu bulan setelah kejadian itu kini bertepatan dengan hari pernikahan Amar dan Fani, Berlian mencoba setegar mungkin walaupun hatinya tercabik cantik bak tertusuk seribu duri yang tajam..
Berlian mencoba untuk tersenyum dan kemudian mendekati sang Ibu dan Adiknya Fani..
Berlian sengaja memberikan gaun pernikahan yang indah untuk Fani, karena pada dasarnya Berlian sangat menyayangi Fani.
"Kamu nampak sangat cantik.." ucap Berlian kepada Fani, Namun Fani enggan untuk menjawabnya.
"Bunda Fani terlihat cantik kan?" tanya Fani kepada Bundanya.
"Kamu cantik seperti bidadari." ucap Bunda Risa dengan tersenyum bahagia.
Sementara itu Bunda Hesti terus memperhatikan Berlian, hatinya sakit melihat Berlian tersenyum.
"Sayang maafin Bunda, Bunda tak bisa menepati janji Bunda untuk membuatmu bahagia, justru kesedihan yang bunda Berikan kepadamu." ucap Bunda Hesti dalam hati.....
Tepat pukul 10 pagi acara akad nikah antara Amar dan Fani akan di laksanakan.
"Bagaimana apa semuanya sudah siap?" tanya sang penghulu dengan pelan..
"Sudah Pak, kita bisa mulai sekarang." ucap Tuan Wiguna pelan..
"Iya saya mengizinkan." ucap Berlian dengan tertunduk..
Amar menatap Berlian dengan tatapan sedih.
"Kenapa kamu justru merelakan aku menikahi wanita lain, yang aku mau hanya kamu dan cuma kamu?" ucap Amar dalam hatinya sembari menatap ke arah Berlian.
Tak lama setelah itu acara ijab qobul pun berjalan dengan lancar kini Amar telah resmi menikah dengan Fani..
Berlian menghilang dari pandangan semua orang, Berlian tak kuasa menahan kesedihannya dan ingin melepaskan semua beban yang dia miliki..
Semua orang panik mencari Berlian termasuk dengan Amar, Amar takut jika Berlian akan nekad untuk bunuh diri atau semacamnya..
Amar menghubungi Pak Aris supir Berlian guna menanyakan dimana istrinya.
__ADS_1
"Halo Pak Aris, apa Bapak bersama Ibu." tanya Amar dengan panik..
"Iya Pak, Ibu bersama saya, Ibu sedang berziarah kemakan orang tuanya." ucap Pak Aris memberikan ketenangan untuk semua orang...
Pada sore harinya Berlian baru pulang setelah merasa sedikit tenang..
"Sayang kamu dari mana Bunda khawatir." tanya Bunda Hesti pelan..
"Maafkan Lian Bunda, Lian ke makam Ayah dan Bunda setelah itu Lian ke panti asuhan." jawab Berlian dengan tertunduk..
Bunda Hesti mencoba untuk tersenyum..
"Baiklah sayang, kamu istirahat saja sana." ucap Bisma Hesti pelan..
"Baik Bunda.." ucap Berlian lalu pergi menaiki anak tangga menuju ke kamar Amar untuk mengambil pakaiannya.
Sebelum ke kamar Berlian menemui Bisa Ijah meminta tolong untuk membersihkan kamar tamu, Berlian ingin pindah kamar..
"Sedang apa kamu.." ucap Amar yang tengah berdiri di belakang Berlian..
"Fani kan lagi hamil dia butuh ketenangan jadi biar dia di sini bersama Mas, dan aku akan pindah ke kamar tamu." ucap Berlian tanpa menoleh ke arah Amar..
Amar sedih mendengar ucapan Berlian..
"Fani.. Fani. Itu Yanga selalu kau pentingkan." ucap Amar dalam hati..
Enggak ini kamar kita, dan kamu gak boleh pindah biar Fani yang tidur di kamar tamu.ucap Amar kemudian..
"Sejak kapan kamu menyebut ini kamar kita? Ini kamarmu dan tetap menjadi kamarmu? sampai kapanpun aku gak berhak di sini." ucap Berlian dalam hati..
Amar merasa kesal karena Berlian tak menjawab.
Amar memegang tangan Berlian agar berhenti mengemasi barang ya.
"Kamu dengerin aku gak." ucap Amar sembari menatap Berlian dari dekat..
__ADS_1
"Lepaskan Mas, dan tolong hargai keputusanku." ucap Berlian sembari melepaskan tangannya dari genggaman Amar..
Amar menjadi sedih karena Berlian mulai berubah.