DERITA ISTRI PERTAMA

DERITA ISTRI PERTAMA
Bab 13


__ADS_3

Hati Berlian benar benar hancur, Berlian menangis tersedu mengingat kejadian beberapa menit yang lalu..


Sementara itu pikiran Amar terus menjalar kemana mana, ada perasaan bersalah dan juga ada perasaan marah..


"Kenapa wanita itu tak cemburu juga aku bersama adiknya, hatinya terbuat dari apa sehingga dia bisa setegar itu?" ucap Amar dalam hati..


Berlian gak fokus dalam pekerjaannya lalu Berlian memilih untuk pulang dan menyerahkan segala kerjaan di butik kepada Intan sang sahabat.


"Tan, aku nitip butik untuk hari ini ya? Aku mau pulang sepertinya aku kurang enak badan." ucap Berlian berbohong...


"Baiklah sahabatku, kamu hati hati di jalan." ucap Intan dengan tersenyum..


Sesampainya di rumah Berlian bertemu dengan Bunda Hesti di ruang tengah...


"Sayang kok kamu baru jam segini sudah pulang? Kamu baik baik saja bukan?" tanya Bunda Hesti dengan pelan.


"Iya Bunda, sepertinya Lian kurang enak badan.." ucap Berlian pelan sembari menyembunyikan luka pada hatinya...


Bunda Hesti mendekat ke arah Berlian kemudian memeluknya..


"Kamu istirahat saja ya Li, apa kita perlu ke dokter?" tanya Bunda Hesti pelan..


Berlian mencoba untuk tersenyum.


"Gak usah Bunda, Lian istirahat aja nanti juga sembuh." ucap Berlian dengan sopan...

__ADS_1


"Baiklah kalau gitu kamu kekamar aja ya, apa mau Bunda temanai?" tanya sang Bunda dengan penuh perhatian.


"Gak apa apa Bunda Lian sendiri aja." ucap Berlian menolak dengan halus...


☪️☪️☪️☪️☪️


Pada malam harinya tepatnya pukul 10 malam Amar baru saja pulang. Di ruang tamu Bunda masih dengan setia menunggu..


"Baru pulang kamu dari man saja seharian." tanya Bunda yang tiba tiba membuat Amar terkejut..


"Bunda... "ucap Amar pelan..


"Kamu dari mana saja? Istrimu sakit malah kamu baru pulang jam segini." ucap Bunda Hesti dengan marah..


Amar berfikir sejenak.


Ya udah Bunda Amar naik dulu mau lihat Berlian. ucap Amar kemudian..


Sesampainya di kamar Amar masuk dengan mengetuk pintu namun tak ada jawaban dari dalam. Di bukanya pintu dengan pelan dan di lihatnya kalau Berlian telah tertidur dengan pulasnya..


Di dekatinya Berlian untuk pertama kalinya Amar melihat mata Berlian sembab karena menangis..


"Apakah dia bersedih setelah melihatku dengan Fani.. Maafkan aku Lian." ucap Amar dalam hatinya..


Amar pun merebahkan diri di kasur empuk miliknya di lihatnya Berlian dari tempat tidurnya.

__ADS_1


"Dia cantik.... " ucap Amar dalam hati sembari tersenyum..


Pada ke esokan harinya Berlian bangun dan melihat Amar masih tidur di ranjangnya.. Berlian langsung bergegas membersihkan diri dan kemudian menunaikan shalat subuh..


Berlian memohon kepada Tuhan supaya dia bisa ikhlas menerima segala takdir yang telah Tuhan gariskan untuknya..


"Kamu kenapa?" ucap Amar mengagetkan Berlian yang baru saja selesai melaksanakan sholat.


Berlian menoleh ke atas tempat tidur Amar.


"Aku tidak apa apa." ucap Berlian singkat..


Amar menjadi semakin merasa bersalah kepada Berlian karena semenjak itu Berlian berubah..


Di meja makan, Berlian telah menyiapkan segala sesuatunya untuk sarapan..


"Sayang apa kamu sudah sehat, kenapa kamu yang menyiapkan semuanya?" tanya Bunda Hesti pelan..


"Udah Bunda Lian hanya cape aja mungkin." ucap Berlian sembari tersenyum..


Tak lama setelah itu Amar turun dari kamarnya dan bergabung di meja makan untuk sarapan...


Berlian menyiapkan roti berselaikan kacang dan segelas green tea.


"Makasih.." ucap Amar sembari tersenyum..

__ADS_1


"Iya, makanlah." ucap Berlian pelan...


Amar melihat ada rasa kecewa dan marah di mata Berlian namun Berlian memilih untuk tak mengatakannya dan lebih memilih memendamnya. sendiri....


__ADS_2