DERITA ISTRI PERTAMA

DERITA ISTRI PERTAMA
Bab 70_s2


__ADS_3

Sementara itu keadaan Amar di sel semakin menujukan perubahan yang derastis pada dirinya..


Dari Amar yang dulu tak pernah membaca al Quran kini satu dua ayat telah di hafalnya, dan juga Amar yang dulu tak pernah mengerjakan sholat kini lima satunya pun tak pernah di tinggalkannya..


Dua bulan sudah Amar tinggal di hotel prodeo namun dirinya justru menemukan ketenangan dan lebih bisa mendekatkan diri kepada Allah, semua berkat bimbingan sang sahabat Alif..


Amar pun kini semakin ikhlas menjalani hari harinya di dalam hotel itu dan kini dirinya sedikit demi sedikit mulai terbiasa dan mulai melupakan sosok wanita yanh sangat di cintainya itu, Berlian...


Walaupun Amar selalu mengingatnya dalam hatinya namun dirinya mencoba melepaskan dan pasrah dengan garis takdir yang harus dia jalani...


Amar kini di kunjungi oleh sang Bunda dan sang Ayah..


Kemudian Amar pun di izinkan untuk menemui kedua orang tuanya...


"Bunda...." ucap Amar ketika melihat sang Bunda dan Amar tiba tiba bersujud meminta maaf di kaki sang Bunda..


"Bunda maafin Amar, Amar terlalu banyak kesalahan sama Bunda." ucap Amar dengan isak tangisnya..


Hati Bunda Hesti terenyuh melihat perubahan besar yang terjadi pada diri putranya itu.

__ADS_1


Memang terkadang sebuah pilihan yang sulit dapat membawa perubahan besar pada kehidupan seseorang contohnya pada kehidupan Amar..


Bunda Hesti memegang pundak sang anak dan kemudian memelukanya...


"Putraku apakah kamu baik baik saja?" tanya sang Bunda. yang melihat wajah Amar semakin bercahaya..


"Amar baik baik saja Bunda, kabar Bunda dan Ayah bagaimana?" tanya Amar pelan..


"Kami baik baik saja putraku." ucap Sang Ayah pelan..


Amar pun melepas kerinduannya pada orang tuanya dan bercerita tentang kehidupannya di dalam tahanan, dan kini Ayah Wiguna telah bisa mengerti bahwa setiap keputusan yang diambil pasti selalu ada hikmah dibalik semuanya..


"Ayah... Bunda.. tolong jangan salahkan Berlian dan Suaminya lagi perihal aku masuk kesini, Amar memang salah dan sepantasnya Amar mendapatkan ini." ucap Amar pelan..


"Baiklah putraku jika memang ini keinginanmu, Ayah akan menemui Lian dan suaminya untuk meminta maaf tanpa Ayah berfikir ucapan Ayah pasti menyakiti hati Berlian.." ucap Ayah Wiguna pelan..


"Baiklah Putraku, Bunda bangga sama kamu, semoga kamu bisa ikhlas menerima semua ini ya sayang, dan ingat kamu masih punya Ayah dan Bunda." ucap Bunda Hesti sembari tersenyum..


Jam besuk pun telah habis, Amar kini di kembalikan lagi kedalam kamarnya dan kemudian Ayah dan Bunda pun pulang..

__ADS_1


"Ayah.. Benarkah Ayah akan meminta maaf pada Berlian dan suaminya." tanya Bunda Hesti pelan..


"Jika itu perlu kenapa tidak, Ayah juga ingin cari tahu tentang teka teki yang dulu Papa berikan tentang asal usul Amar, Bukan Ayah tak menyayangi Amar tapi kini sudah 32 tahun Amar tak mengetahui jati dirinya sendiri." ucap Ayah Wiguna sembari tersenyum.


Bunda Hesti merasa senang kini sinyal sinyal kebaikan telah nampak di wajahnya, semoga selamanya akan selalu mendapatkan kebaikan pikirnya...


🌿🌿🌿🌿


Di lain tempat kini Kondisi Ari suami Fani pun telah sadar dari komanya akibat hujaman pisau yang di lakukan oleh Fani. Ari membuka matanya dan kemudian menyebutkan nama Fani..


"Fani... Fani..." ucap Ari lirih..


Dokter yang melihat kondisi Ari telah membuka matanya pun langsung mengecek semuanya, dan kini Ari memang telah melewati masa kritisnya.


Ari bertanya kepada sang Dokter, tentang keberadaan Fani istrinya..


"Dokter dimana istri saya Fani.." ucap Ari pelan..


Sang dokter bingung dengan pertanyaan dari Ari, lalu sang dokter menjelaskan bahwa Ari di larikan ke rumah sakit oleh beberapa orang dan hingga saat ini Ari sendirian..

__ADS_1


Kesedihan nampak di wajah Ari, penyesalan kini pun datang kepadanya penyesalan yang pernah menyakiti dan menggunakan ketulusan hati seorang wanita hanya untuk memenuhi egonya sendiri..


"Fani... Kamu dimana." ucap Ari dalam hatinya.


__ADS_2