
Bab sepesial siapkan tisu sebelum membaca...
☪️☪️☪️
Satu Minggu sebelumnya..
Fani menjadi sangat kesal karena kini Amar tengah jarang menemui dirinya..
Setelah Fani mengunjungi dokter Fani di nyatakan hamil tentu hal itu sangat membuat Fani syok, namun bukan Fani namanya jika dia tidak bisa membuat Amar yang bertanggung jawab walaupun Fani sering berhubungan dengan Ari kekasihnya..
Fani menyakini bahwa bayi yang dia kandung adalah anak Ari, namun Fani ingin menjadi Nyonya di kediaman Wiguna maka Fani menyiasati kehamilannya itu...
Usia kandungan Fani baru memasuki Minggu ke empat, namun Fani meminta dokter untuk membuat usia kehamilannya menjadi 3 bulan..
"Bagaimana beres semua?" ucap Fani kepada seorang perawat yang dia bayar untuk membuat hasil palsu..
"Beres Nyonya.." ucap seorang perawat.
☪️☪️☪️
Di kediaman Wiguna...
Semua keluarga sedang menikmati hari libur mereka dengan di rumah saja..
Amar dan Ayah Wiguna sedang berbincang di ruang keluarga, tiba tiba suara bel terdengar..
"Maaf Tuan ada tamu.." ucap Bi Ijah...
"Siapa Bi?" ucap Amar pelan...
Fani tiba tiba masuk dan membuat masalah...
"Mas Amar.." ucap Fani sembari memeluk Amar dan Tuan Wiguna terlihat sangat marah..
"Siapa wanita ini Amar.." ucap Tuan Wiguna setengah berteriak..
"Om.. aku Fani, aku aku aku..." ucap Fani terpotong...
Dari arah belakang datanglah Bunda Hesti dan Berlian..
"Fani mau apa kamu kesini?" ucap Be rlian pelan.
__ADS_1
"Mas Amar aku hamil..." ucap Fani membuat kaget semua orang termasuk Amar.
"Apa??" ucap Tuan Wiguna dengan penuh emosi..
Airmata Berlian sudah tak dapat di bendung lagi, hatinya hancur harapannya pupus sudah...
Amar menatap ke arah Berlian kemudian..
"Lian aku bisa jelasin semuanya.." ucap Amar pelan.
Bunda Hesti pun terlihat sangat marah...
"Kamu *ila Amar, apa kamu gak lihat istrimu kamu gak kasihan sama dia? " ucap Bunda Hesti dengan penuh kekecewaan...
Sementara itu Berlian hanya terdiam sembari menangis
Kecewa, marah, sedih beradu menjadi satu...
"Apa kalian pernah berhubungan?" tanya Berlian dengan sangat berat..
"Iya kami memang sering berhubungan layaknya suami istri, maaf kakaku sayang jika kamu menjadi kecewa tapi di sini di rahimku ada benih dari suamimu." ucap Fani sembari menunjuk ke arah perutnya yang masih rata..
Amar hanya diam tanpa berani menjawab apapun.
"Jika memang anak yang kamu kandung adalah anak Mas Amar menikahlah kalian..." ucap Berlian di sela Isak tangisnya.
Bunda Hesti dan Tuan Wiguna kaget mendengar ucapan Berlian..
"Lian sayang, masih ada jalan kami akan memikirkannya."ucap Bunda Hesti yang tak setuju dengan pendapat Berlian.
Amar menatap ke arah Berlian dengan tatapan yang tak biasa, Amar tahu hati Berlian hancur..
Berlian menarik nafas panjang..
"Bunda, Lian ikhlas jika harus di madu, lagipula anak Fani adalah keponakan Berlian, Bunda Lian mohon biarkan Mas Amar bertanggung jawab dengan apa yang telah dia buat Bunda?" ucap Berlian dengan memohon..
"Lian anakku maafkan Ayah yang tak bisa mendidik Amar dengan baik, kamu benar Lian jika anak yang di kandung oleh perempuan ini adalah anaknya amar, Amar memang harus bertanggung jawab." ucap Tuan Wiguna dengan berat hati...
Amar menundukkan wajahnya di hadapan Ayah dan Bundanya..
"Ayah.... Bunda maafin Amar..." ucap Amar pelan..
__ADS_1
plakkkkkkkkkk sebuah tamparan keras mendarat di pipi Amar..
"Bunda kecewa sama kamu Amar.." ucap Bunda Hesti sembari menangis..
Amar hanya bisa diam, Amar sadar dia telah membuat aib untuk keluarganya..
Bunda Hesti berlutut dan meminta maaf kepada Berlian karena merasa telah gagal dan membuat Berlian menderita..
"Lian maafin Bunda, maafin anak Bunda yang telah kau menyakitimu." ucap Bunda Hesti sembari menangis.
Lian mundur kemudian memegang pundak sang Bunda..
"Sudahlah Bunda Lian ikhlas semua demi kebaikan kita bersama dan demi kebahagiaan Mas Amar." ucap Berlian sembari menatap sang suami..
Hati Amar terasa perih mendengar ucapan Berlian baru saja dia ingin memulai kehidupan baru dengan Berlian kini ujianpun kembali menghadangnya..
"Lian kenapa kamu justru memintaku menikahinya, aku hanya ingin kamu dan hanya kamu yang akan menjadi istriku, kenapa kamu lakukan ini. Aku tahu aku salah Lian tapi harusnya masih ada jalan lain.." ucap Amar dalam hatinya..
Sementara itu batin Fani bersorak gembira..
"Berlian yang malang, kamu memang polos bahkan terlalu polos. Terima kasih kamu telah memberikan suamimu untukku." ucap Fani dalam hati..
Oh iya Kak Lian, kalian menikah kan sudah satu tahun kok masih belum hamil juga apa kakak mandul?" ucap Fani kemudian yang membuat luka di hati Berlian semakin terasa perih...
Bunda Hesti semakin marah mendengar ucapan Fani..
"Jaga bicaramu, kamu enggak perlu menginjak harga diri menantuku." ucap Bunda Hesti dengan emosi..
Hati Berlian tambah sakit rasanya, ingin dia berteriak dan menganggap bahwa ini hanyalah sebuah mimpi..
Amar semakin merasa bersalah setelah mendengar hinanan Fani, karena sampai sekarang Amar belum pernah menyentuh Berlian dan mana mungkin Berlian bisa hamil.
"Jangan teruskan ucapanmu Fani." ucap Amar pelan..
Berlian langsung berlari menuju kamarnya hatinya pedih mendengarkan ucapan Fani..
Amar menyusul Berlian kekamarnya.
"Lian.. maafkan aku.." ucap Amar pelan..
"Keluar Mas tinggalkan aku sendiri.." ucap Berlian sembari menangis tersedu..
__ADS_1
Amar bisa mengerti bagaimana hancurnya perasaan Berlian saat ini dan dia memilih untuk memberikan Berlian waktu untuk sendiri terlebih dahulu...