DERITA ISTRI PERTAMA

DERITA ISTRI PERTAMA
Bab 93_s2


__ADS_3

Berlian dan Graha masih membicarakan tentang Amar dan juga Salsa..


"Sayang ingin deh rasanya aku menjodohkan mereka, soalnya Mas melihat sesuatu diantara mereka." jelas Graha sembari memainkan rambut sang istri..


"Maksud Mas?" tanya Berlian tak mengerti..


Graha tersenyum kemudian memeluk sang istri lagi.


"Maksud Mas, Mas mau menjodohkan Mas Amar dengan Salsa. Sayang kamu tahu engga kenapa ya setiap kali Mas lihat Mas Amar itu seperti ada sesuatu. Dan secara logikanya kan mana mau kita berdamai dan berteman dengan seseorang dari masalalu kamu, tapi entahlah Mas bingung." ucap Graha meluapkan semua perasaannya.


Berlian pun menjadi bingung.


"Maksud Mas apa? Apa Mas beranggapan kalau Mas Amar itu Kakak Mas yang hilang?" tanya Berlian dengan sedikit ragu...


"Iya sayang, sekarang juga Mas lagi cari tahu tentang jatidiri Mas Amar." ucap Graha pelan. Ya udah ayo kita tidur aku ngantuk.ucap Graha kemudian...


Berlian hanya menatap dang suami dengan tatapan yang sedikit penuh tanda tanya..


"Mas besok jadwal Aya imunisasi ya, jangan lupa." ucap Berlian dengan lembut..

__ADS_1


"Iya sayangku, kan Mas dokternya dan juga Ayahnya jadi mas tahu. Udah sini bobo aku mau di peluk sama kamu." ucap Graha dengan manja..


Berlian pun hanya tersenyum kemudian ikut merebahkan tubuhnya kembali di samping sang suami.


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Pada keesokan paginya di tempat Bunda Risa, kini Bunda Risa hendak bersiap menuju rumah sakit untuk bekerja, Bunda Risa sangat senang karena tahu jika hari ini Aya putri dari Berlian akan chek up untuk jadwal imunisasi. Hati wanita paruh baya itu sangat senang karena bisa melihat sang cucu walau dari kejauhan..


Sesampainya di rumah sakit, Bunda Risa pun langsung melakukan pekerjaannya. Walaupun kini dia hidup dengan serba kekurangan namun hatinya merasa damai, dan hari ini juga Bunda Risa berniat untuk mengunjungi Fani sang putri di rutan...


Ketika sedang mengepel lantai rumah sakit, Bunda Risa melihat Graha dan Berlian beserta Aya putri mereka.


Mata Bunda Risa berkaca kaca menahan haru melihat sang putri yang dulu di dia sia-siakannya nampak sangat bahagia...


Bunda Risa tersenyum kearah Berlian dan Graha..


"Selamat atas kelahiran putri mu Nak, maafkan Bunda yang tak bisa memberi kalian apapun. Hanya doa yang tulus yang bisa Bunda lantunkan untuk kalian du setiap sujud Bunda." ucap Bunda Risa dalam hatinya...


Seperti mempunyai sebuah ikatan, tiba tiba Berlian teringat dengan Bunda Risa.

__ADS_1


"Bunda kenapa Lian tiba tiba kangen sama Bunda. Bunda baik baik saja kan." rintih hati Berlian..


"Sayang are you ok." ucap Graha yang memperhatikan sang istri nampak murung.


Berlian menengok kearah sang suami dan tersenyum.


"Aku baik baik saja Mas, tapi entah kenapa tiba tiba aku mengingat Bunda Risa dan Fani. Entah seperti apa kehidupan mereka sekarang." ucap Berlian lirih..


"Kamu yang sabar ya sayang, kita doakan saja semoga secepatnya kita bisa berkumpul kembali dengan mereka. Dan aku salut sama kamu sayang, walaupun kamu pernah disakiti sedemikian perihnya tapi kamu masih tetap memaafkan dan menyayangi mereka. Aku bangga punya istri sepertimu." ucap Graha sembari memencet hidung Berlian..


Berlianpun hanya menaikan satu alisnya.


"Mas ku tersayang kita itu hanya manusia biasa yang tak luput dari dosa, jika Allah saja maha pemaaf kenapa aku enggak. Lagian kita gak boleh menilai orang dari sisi buruknya Mas, tapi lihatlah sisi baiknya biar bagaimanapun mereka itu keluargaku dan selamanya akan tetap menjadi bagian dari hidupku. Karena semenjak Bundaku meninggal dan Ayah menikahi Bunda Risa, Bunda Risa selalu memperlakukan aku dengan baik Mas. Jadi sampai kapanpun aku enggak akan melupakan kebaikannya." jelas berlian yang membuat Graha semakin kagum dan semakin yakin bahwa Berlian adalah wanita yang pantas untuk di jaga..


Graha terharu mendengar ucapan Berlian dan dari ucapan sang istri Graha mengambil satu hal positif yaitu seburuk buruknya sikap manusia pasti selalu ada sisi baiknya, dan sebaik baiknya manusia pasti ada sisi buruknya pula.


Di balik tembok ada sepasang mata yang mengamati mereka. Bunda Risa menangis mendengar ucapan Berlian, Berlian masih saja mau memaafkan mereka sementara mereka telah menggoreskan luka yang teramat perih dihatinya .


"Maafkan Bunda Sayang, belum saatnya Bunda menemuimu. Bunda malu dengan keadaan Bunda saat ini yang terpenting adalah Bunda selalu ada di dekat Berlian." ucap Bunda Risa di sela isak tangisnya...

__ADS_1


__ADS_2