
Berlian bersiap untuk bertemu dengan Fauzan, Fani pun curiga dengan tingkah Berlian..
"Mau kemana kamu?" tanya Fani tanpa menoleh kearah Berlian..
"Ke butik, kenapa apa ada yang mau aku siapkan dulu?" tanya Berlian pelan..
"Enggak..." jawab Fani sembari pergi meninggalkan Berlian...
Berlian pergi menuju Butikilik keluarga Wiguna, Berlian sengaja enggak mau di antar oleh supir karena memang dia mau bertemu dengan Fauzan..
Sesampainya di gerbang perumahan tempat yang mereka tinggali, Berlian nampak gugup takut jika Amar atau keluarga yang lain melihat..
Berlian mengetuk kaca sebuah mobil mewah milik Fauzan, dan tak lama kemudian keduanya tengah berada di dalam mobil..
Tak jauh dari sana ada sepasang mata yang mengawasi, Fani mengikuti Berlian dan merekam video Berlian yang bertemu dengan Fauzan secara diam diam..
Timbulah akal busuk Fani untuk membuat Amar membenci Berlian, dikirimkannya sebuah rekaman yang dengan cepat telah berpindah ke handphone milik Amar.
Amar membuka video yang Fani kirimkan, dengan sangat marah Amar mencoba menghubungi Berlian..
"Ah sial, aku kan gak punya kontak Berlian? Selama ini kan aku enggak pernah memikirkannya." pekik Amar dalam hati...
Amar menjadi sangat kesal setelah melihat video yang dikirimkan oleh Fani..
"Berlian kenapa kamu melakukan ini kepadaku? Aku mau kamu hanya menjadi milikku." ucap Amar dalam hati...
Hari itu Amar tak konsen dalam bekerja dan lebih memilih menghabiskan waktu dengan jalan jalan..
__ADS_1
Ketika Amar sedang berada di sebuah restoran, Amar melihat Berlian dan Fauzan di tempat yang sama.
Hati Amar terbakar oleh api cemburu yang berkobar kobar ria, dengan sepontan Amar mendekati Berlian dan Fauzan..
Amar mendekat dan kemudian mengucapkan kata yang belum pernah dia ucapkan..
"Sayang.. Kenapa kamu disini?" ucap Amar mengagetkan Fauzan dan Berlian..
Berlian mencari sumber suara dan ternyata dia.
"Mas Amar... aku?" ucap Berlian terpotong..
"Lian dia siapa?" tanya Fauzan pelan..
Sebelum Berlian menjawab Amar telah lebih dulu menjawab pertanyaan dari Fauzan..
"Saya Fauzan, saya temannya Berlian dan juga saya costumer butik miliknya." ucap Fauzan dengan teraenyum.
Berlian kaget mendengar ucapan Amar yang memperkenalkan dirinya sebagai seorang suami..
Fauzan menatap ke arah Berlian..
"Kata kamu suami kamu di luar kota." ucap Fauzan dengan polosnya..
Berlian menjadi salah tingkah mendengar ucapan Fauzan, karena pasti Amar akan sangat kecewa karena dirinya telah berbohong..
"Iya saya baru saja kembali." ucap Amar sembari melirik ke arah Berlian...
__ADS_1
Suasana menjadi sangat canggung, karena dengan sengaja Amar mendekat kearah Berlian..
"Sayang,maaf ya tadi aku gak sempat kabarin kamu kalau aku udah sampai jakarta.." ucap Amar sembari merangkul pinggang ramping Berlian..
Berlian terdiam seketika setelah mendapatkan perlakuan yang tak biasa dari Amar...
"Sayang boleh pinjam handphone kamu, aku mau telfon Bunda." ucap Amar berpura pura.
Berlian menjadi canggung kemudian menyerahkan handphonenya ke tangan Amar.
Amar lalu memasukan nomer ponselnya ke ponsel milik Berlian, dan setelah itu Amar berpamitan untuk pulang..
"Sayang aku pulang duluan ya, nanti pulangnya jangan malam malam aku menunggumu dirumah." ucap Amar sembari mencium kening Berlian..
Glekkkkkk jantung Berlian serasa mau lepas mendapatkan perlakuan yang tak bisaa dari Amar.
Berlian tersenyum..
"Iya Mas, hati hati di jalan aku akan pulang tepat waktu." ucap Berlian agak canggung...
"Iya sayang, Fauzan aku pamit." ucap Amar sembari senyum di paksakan...
Setelah Amar pergi, Berlian menjadi bengong karena bingung dengan jalan pikiran Amar..
"Kenapa dengan Mas Amar kenapa sikapnya jadi sok manis gitu? Apa karena dia cemburu melihat aku dengan Fauzan. Semoga saja moodnya gak akan berubah lagi." ucap Berlian dalam hati sembari mengaduk aduk minumannya tak jelas..
Fauzan yang melihat itu hanya geleng geleng kepala..
__ADS_1