
Satu bulan setelah peristiwa malam itu Amar semakin baik kepada Berlian, namun justru sikap Berlian sebaliknya. Berlian lebih memilih mengacuhkan Amar dan fokus pada pekerjaannya.
"Sayang, mau aku antar?" tanya Amar yang tiba tiba tengah berada di dalam kamar Berlian.
"Gak usah aku pergi sama supir aja." ucap Berlian menolak.
Amar kesulitan menahlukan hati Berlian, mungkin karena luka di hati Berlian yang terlanjur dalam sehingga Berlian memilih untuk cuek..
"Kamu masih marah ya sama aku? Aku tahu selama ini aku kurang baik bahkan gak baik sama kamu,tapi tolong beri satu kesempatan lagi untukku membuktikan bahwa aku akan belajar untuk mencintaimu setulus hatiku." ucap Amar yang berdiri di belakang Berlian..
Hati Berlian tersentuh setelah mendengar ucapan Amar namun dirinya juga gak mau egois karena masih ada Fani di antara mereka..
"Sudahlah Mas, semuanya sudah terlambat kita sekarang sudah berbeda. Seandainya dari dulu kamu menyadari semua ini mungkin kehidupan kita jauh lebih baik." ucap Berlian memojokan Amar.
Amar pun berfikir dan membenarkan ucapan Berlian..
"Kamu benar Lian, dan bodohnya aku yang justru menghadirkan Fani di antara kita."ucap Amar pelan..
Berlian hanya tersenyum getir mendengar ucapan Amar..
"Sudahlah Mas seumpama nasi telah menjadi bubur gak akan mungkin kembali menjadi nasi lagi, sekarang jalani saja sebagaimana mestinya.." ucap Berlian pelan..
Amar merasa gagal menjadi seorang lelaki seandainya dia menyadari bahwa Bundanya telah memberikan wanita yang begitu hebat dan wanita yang sangat sederhana namun dirinya justru menyia nyiakan wanita itu..
"Aku tahu aku salah Lian, harus dengan cara apa lagi kamu mau memaafkan aku?" tanya Amar pelan.
Berlian menatap kearah Amar..
"Lepaskan aku Mas." ucap Berlian dengan penuh keberanian..
Glekkkkkkkkkk jantung Amar serasa mau lepas dari dadanya..
"Itu enggak akan pernah terjadi Lian, kamu tenang saja setelah Fani melahirkan aku akan melepaskan dia dan kita bisa hidup bahagia." ucap Amar dengan entengnya.
Berlian pun terdiam dan tak bisa menjawab ucapan Amar..
"Jangan dengan mudah berasumsi bahwa Mas akan dengan mudah menyingkirkan Fani, dia adikku dan aku yang mengizinkan dia berada di antara kita. Sudahlah Mas aku cape." ucap Berlian kemudian bergegas pergi meninggalkan Amar..
Amar pun hanya diam melihat kepergian Berlian.
Berlian sedikit kecewa bahkan sangat kecewa dengan sikap Amar.
"Aku sangat kecewa denganmu Mas." ucap Berlian dalam hati...
Berlian memilih untuk pergi ke supermarket terlebih dahulu untuk membeli beberapa makanan ringan dan soft drink untuk di bawa ke butik..
Ketika sedang berada di parkiran Berlian melihat seorang laki laki tua yang nampak kebingungan lalu Berlian mendekati lelaki tua tersebut...
__ADS_1
Berlian kemudian menyapa lelaki itu dengan lembut.
"Maaf Opa, Opa sedang apa di sini?" tanya Berlian dengan lembut...
"Saya nyasar dan saya lupa jalan pulang." ucap laki laki tua itu dengan jujur...
Berlian berfikir sejenak lalu kemudian menawarkan diri untuk mengantar sang Opa pulang..
Berlian bertanya dengan sangat lembut..
"Maaf Opa jika boleh tahu Opa tinggal dimana biar Lian antar, Opa jangan takut saya bukan orang jahat." ucap Berlian pelan..
Opa itu hanya menatap ke arah Berlian..
"Saya lupa alamat rumah saya?" ucap sang Opa dengan tatapan sayu..
Berlian bingung lalu Berlian menanyakan keluarga dari si Opa..
"Oh iya Opa anak Opa dimana dan berapa nomer ponselnya biar saya menghubungi mereka.." tanya Berlian pelan..
"Saya hanya tinggal dengan cucu saya, dia seorang Dokter, tapi dia sekarang sedang di luar kota." ucap sang Opa yang masih mengingat prihal sang cucu..
Berlian bingung lalu Berlian meminta sesuatu kartu nama atau apa..
"Jika Lian boleh tahu apakah ada semacam kartu nama cucu Opa biar saya lihat." ucap Berlian dengan sopan..
"Ada di sini..." ucap sang Opa sembari menyerahkan dompetnya.
Tak lama sang Opa mencari akhirnya dia menyerahkan sebuah kartu nama kepada Berlian..
"Dokter T.Graha Prawira." ucap Berlian pelan.
"Iya dia cucu saya." ucap Opa pelan.
"Baiklah jika Lian boleh tahu siapa nama Opa?" tanya Berlian dengan lembut..
"Opa Rahman." ucap Opa Rahman pelan..
"Baiklah Opa, Lian bantu Opa pulang ya." ucap Berlian kemudian mengajak Opa Rahman mengendari taxsi online yang Berlian pesan...
☪️☪️☪️
Sementara itu Graha yang mendengar bahwa Opa Rahman hilang pun panik dan langsung memutuskan kembali ke Jakarta..
Dengan terburu buru Graha mengurus kepulangannya..
"Bagaimana apakah Opa sudah ditemukan?" tanya Graha dengan panik..
__ADS_1
"Belum Tuan, Tuan besar belum pulang." ucap seorang pegawai di kediaman Rahman Prawira..
Graha adalah tipe laki laki yang lemah lembut, bahkan dengan semua pekerja yang membantunya pun tak pernah berbicara dengan kasar.
"Ya sudah tolong sebar semua Yanga dan ke berbagai tempat, kalian kan tahu Opa itu pikun. Dan secepatnya saya akan kembali ke Jakarta." ucap Graha dengan pelan..
Kini Berlian telah sampai di kediaman Opa Rahman, Berlian takjub melihat bangunan rumah milik Opa Rahman, sederhana namun elegan.
"Rumah yang sangat indah," ucap Berlian dalam hati..
"Mari silahkan masuk Nak." ucap Opa Rahman dengan sopan.
Semua pekerja tampak senang melihat Opa Rahman pulang..
"Opa udah pulang, kami sangat khawatir Opa, sampai sampai Tuan muda langsung terbang ke Jakarta." ucap seorang pegawai wanita di rumah itu..
"Apa kalian yang kasih tahu Graha?" tanya Opa Rahman pelan.
"Iya Opa maafkan kami.." ucap Ucup pengawal Opa Rahman.
Berlian hanya bisa melihat kearah semua orang..
Tak selang beberapa lama Berlian berpamitan untuk pulang karena Berlian harus ke butik..
"Opa Lian pamit dulu." ucap Berlian pelan sembari mencium tangan Opa Rahman.
"Yah nak Berlian, tunggu cucu saya datang dulu nanti saya kenalin." ucap Opa Rahman pelan.
"Lain waktu ya Opa, Lian ada urusan." ucap Berlian dengan sopan..
Setelah Berlian pulang tak lama kemudian Graha sampai di rumah milik mereka..
"Ya ampun Opa, Graha sangat cemas setelah mendengar Opa nyasar." ucap Graha dengan panik..
"Opa gak apa apa Gra, Gra tadi Opa di tolong dan di antar oleh seorang wanita cantik dan masih muda lagi." ucap Opa Rahman dengan antusias..
Graha hanya menaikan satu alisnya..
"Opa aku khawatir, malah Opa ngomongin cewek." ucap Graha pelan..
"Gra jika suatu saat Opa bertemu dengannya lagi Opa mau kamu menikah dengan dia." ucap Opa Rahman dengan mantap..
Graha mengacak acak rambutnaya dengan kasar.
"Ini sudah bukan jamannya di jodoh jodohkan Opa,lagian Graha sudah punya cewek yang Graha suka." ucap Graha berterus terang.
"Siapa dia?"tanya Opa Rahman dengan menatap ke arah Graha..
__ADS_1
"Aku gak tahu namanya Opa?" ucap Graha sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Opa Rahman pun kesal dan melempar Graha dengan bantal sembari tertawa...