
(Karma itu tak semanis kurma)
Fani menangis dengan terisak, dia menuju kerumaah h Bunda Risa berharap Berlian ada disana?
Fani merasa sangat terpukul setelah mendengar penjelasan dari Revan lelaki yang di cintainya dulu..
"Kak Lian maafin Fani..." ucap Fani dalam hati..
Sesampainya di rumah Bunda Risa Fani langsung menangis histris karena mencari Berlian tak ada di dalam kamarnya..
"Sayang kamu kenapa?" ucap Bunda Risa pelan..
"Bunda apa kak Lian pernah datang kesini?" ucap Fani di sela isak tangisnya...
Bunda Risa menjadi bingung setelah mendengar ucapan Fani.
"Fani kamu kenapa?? Semenjak dia menikahkanmu dengan Amar dia sudah tak pernah datang kesini lagi sayang." ucap Bunda Risa dengan pelan...
Fanibsemakin histris dia terus saja menangis menyesali semua yang telah terjadi.
"Sayang jelaskan kepada Bunda kamu kenapa?" ucap Bunda Risa dengan serius dan juga panik..
Fani menjelaskan semuanya kepada sang Bunda, Bunda Risa pun ikut menangis mengingat semua apa yang telah dia lakukan kepada Berlian selama ini.
__ADS_1
"Maafkan Bunda Fan, ini salah Bunda.." ucap Bunda Risa sembari menangis..
"Bunda kita harus menemukan ka Lian Bunda." ucap Fani dengan terus menangis menyesali semua perbuatannya..
Fani menangis dan tiba tiba saja perutnya merasa kram dan Fani kesakitan..
"Bunda perut Fani sakit..." ucap Fani pelan.
Bunda antar Fani ke kamar mandi tolong Bunda..
Bunda Risa mengantar Fani ke kamar mandi dan dalam kamar mandi Fani terjatuh dan dia mengalami pendarahan...
Bunda Risa pun menjadi panik melihat darah dimana mana dan yang lebih membuat Bunda Risa panik adalah kondisi Fani..
"Fani sayang kenapa kamu seperti ini Fan.." ucap Bunda Risa dengan berteriak..
💘💘💘💘💘💘
Bunda Risa menelfon keluarga Wiguna untuk membitahu bahwa Fani mengalami pendarahan...
"Hallo Amar ini Bunda Risa, Amar Fani.. Fani.." ucap Bunda Risa terpotong..
"Iya Bunda ada apa? Kenapa dengan Fani?" ucap Amar pelan...
__ADS_1
"Fani mengalami pendarahan dan kini Fani Bunda bawa di rumah sakit.." ucap Bunda Risa dengan panik..
Amar syok mendengar Fani pendarahan, dan secepat kilat Amar dan semua keluarga Wiguna telah sampai di rumah sakit..
"Bunda ada dengan Fani kenapa dia menjadi seperti ini?" ucap Amar pelan..
"Fani terjatuh di kamar mandi." ucap Bunda Risa dengan panik..
Kondisi Fani semakin kritis saat ini dan Dokter mengatakan bahwa bayi yanga da di dalam rahimmya telah tiada dan harus segera di ambil tindakan..
Benar benar membuat Amar semakin syok, baru saja dia kehilangan Berlian kini harus kehilangan Calon anaknya juga..
Dengan sangat terpaksa Amar mengizinkan agar rahim Fani di angkat dan kemudian dengan berat hati Amar harus merelakan anaknya yang meninggal..
"Lakukanlah yang terbaik Dok.." ucap Amar pelan..
Setelah itu Amar terduduk dilantai menyesali tentang semua kebodohan yang terjadi, menyesali semua masalah yang menimpa dirinya kini..
Amar tak kuasa menahan airmatanya.
"Amar kamu harus kuat.." ucap Bunda Hesti mencoba menenangkan Amar..
"Bunda kenapa semua ini harus Amar lalui Bunda, pertama Amar harus kehilangan Berlian, kedua Amar harus melihat Fani tak berdaya dan ketiga Amar harus rela kehilangan calon anak Amar. " ucap Amar di sela sela isak tangisnya..
__ADS_1
Hati Amar hancur seketika dan semua harapan untuk bahagia hilanglah sudah yang ada tinggal rasa sakit yang harus dia tanggung sendiri..
"Seandainya waktu bisa di ulang kembali, ingin rasanya alu memperbaiki semuanya." ucap Amar dalam hati...