DERITA ISTRI PERTAMA

DERITA ISTRI PERTAMA
Bab 100_s2


__ADS_3

Berlian hanya bisa menatap sang Opa dengan tatapan bingung, Berlian masih penasaran dengan apa yang telah terjadi? Sebenarnya apa yang mereka sembunyikan?


"Sayang kamu kenapa?" tanya Graha sembari menyentuh tangan sang istri.


Berlian kaget dan sontak menatap kearah Graha..


"Lian gak apa apa Mas." ucap Berlian dengan tersenyum..


Opa Rahman pun menatap kearah Berlian dan Graha..


"Kalian kenapa?" tanyanya dengan sedikit heran..


"Kami enggak apa apa Opa." jawab Graha sembari tersenyum..


Sesampainya di kediaman Prawira, Opa Rahman langsung menuju kamarnya dan kemudian langsung mengunci pintu kamarnya..


Didalam kamar Opa Rahman mengenang kembali pertemuannya dengan Sandy sahabatnya sejak kecil yang berakhir menjadi seorang musuh karena hadirnya seorang wanita..


Opa Rahman membuka laci dan mengambil foto dirinya dan Sandy saat masih muda.


Terlihat raut bahagia di wajah lelaki tua itu..


"Maafkan aku San, bukan niatanku untuk menggoreskan luka dalam hatimu dengan menikahi Astuti, namun keadaanku yang harus dengn terpaksa menerima semua itu." pekik Opa Rahman dengan lirih..


Matanya kini berkaca kaca mengingat saat bahagia mereka sebagai sahabat dan kini menjadi dua sosok yang tidak saling mengenal.


"Seandainya aku bisa menemukan Grahadi, pasti kita akan bisa melupakan segalanya. San Grahadi adalah cucu kita anak Alam putramu." ucap Opa Rahman sembari memandangi foto sang sahabat...


Tidak terasa mata lelaki tua itu sembab mengingat bait demi bait kehidupannya, kehidupan putrinya dan juga kehidupan masa tuanya..


"Jika aku boleh meminta aku ingin sekali mengulang waktu dan aku tak akan pernah mau menerima pernikahan itu, pernikahan yang menyakiti hati sahabatku dan pernikahan yang membuat hubungan baik kita hancur. Namun waktu sudah Taka akan pernah kembali hanya kata maaf yang mampu terucap dengan tulus dari dasar hatiku." ucap Opa Rahman sembari menatap langit langit kamarnya.

__ADS_1


🌿🌿🌿🌿🌿


Dilain tempat hal yang sama pun di alami oleh Tuan Sandy, hatinya sangat senang bisa bertemu dengan Rahman di usia senja.


"Kamu masih enggak berubah, Masih sama saja seperti dulu." ucap Tuan Sandy sembari tersenyum...


Tuan Sandy kembali bernostalgia pada masa lampau, masa dimana dirinya dan Rahman masih sama sama kuliah hingga mereka menjadi sarjana dan menjadi pengusaha sukses. Susah dan senang mereka alami bersama hingga pada suatu hari Tuan Sandy harus menerima kenyataan bahwa wanita yang di cintainya harus menikahi sahabat terbaiknya.


Semua kini terasa asing bagai orang yang tak saling mengenal, seandainya ada keajaiban yang bisa mempersatukan dua orang sahabat itu tapi siapa? Amar, Amar adalah cucu keduanya dan melalui dirinyalah kelak mereka akan kembali menjalin tali silaturahmi..


Kini pencarian tentang latar belakang Amar kian sulit, karena sepertinya Sandy berhasil membuat identitas Amar menghilang..


Graha menyerah untuk mencari tahu tentang jati diri Amar, namun hatinya selalu berkata bahwa Amar adalah kakaknya Grahadi.


Graha lebih memilih untuk menyimpan kecurigaannya sendiri hingga suatu saat nanti mereka dipertemukan dan disatukan oleh takdir, karena Graha sendiri pernah melakukan uji DNA antara dirinya dan Amar, tentunya tanpa sepengetahuan siapapun namun hasilnya negatif..


(Author skip saja ya ke 5 tahun kedepan dimana kini Amar dan Fani sama sama bebas dari penjara, biar gak terlalu panjang ceritanya ..)


Kini masa tahanan Amar telah berakhir, sambutan hangat dari Ayah Wiguna dan juga Bunda Hesti untuk kebebasan sang putra..


"Bunda... Amar sangat merindukan Bunda." ucap Amar sembari memeluk sang Bunda..


Mata Ayah Wiguna pun berkaca kaca melihat kehadiran sang putra yang sagat dirindukannya .


"Ayah... Maafkan Amar.." ucap Amar sembari memeluk sang Ayah.


Ayah Wiguna tersenyum dan merasa sangat bahagia mendapatkan pelukan hangat sang putra yang telah 7 tahun berada di dalam penjara..


Amar terharu melihat sang Ayah yang kini nampak lebih berwibawa..


"Ayah apa kabar.." ucap Amar pelan..

__ADS_1


"Ayah baik putraku, Ayah sangat merindukanmu.."ucap Ayah Wiguna sembari memeluk Amar dengan sangat erat..


Dari arah belakang mereka nampaklah Graha dan Berlian bersama si kecil Aya yang kini telah berusia 5 tahun..


"Selamat menikmati hari kebebasanmu Mas.." ucap Graha dengan tiba tiba membuat semua Irang menatap dengan heran termasuk Berlian..


Amar menatap kearah Graha dan Berlian kemudian menghampiri keduanya.


"Terima kasih Dokter Graha telah menyempatkan kemari, oh iya Lian kamu apa kabar?" tanya Amar dengan tersenyum...


Semenjak Berlian menjenguk Amar 5 tahun yang lalu disaat masih mengandung Aya, ini adalah pertemuan pertamanya kembali setelah 5 tahun..


"Kabar ku baik Mas, oh iya ini putriku." ucap Berlian sembari menunjuk kearah gadis kecil yang sangat manis Cahaya.


Mata Amar berkaca kaca melihat Cahaya..


"Subhanallah kamu cantik sekali sayang, siapa nama kamu?" tanya Amar sembari mencoba mengajak bicara Cahaya..


Cahaya yang sedikit ketakutan menatap kearah sang Bunda dan Ayahnya secara bergantian.


Graha kemudian berjongkok agar sejajar dengan putri kecilnya..


"Sayang, ini Om Amar, ayo salam dulu." ucap Graha dengan lembut..


Cahaya menurut apa yang Ayahnya perintahkan.


"Namaku Cahaya Om." ucap Aya pelan..


Kini Bunda Hesti dan Ayah Wigunapun menghampiri Berlian dan Graha..


"Om.. Tante bagaimana kabar kalian?" tanya Graha dengan lembut..

__ADS_1


"Kami baik bahkan sangat baik. Kalian sendiri bagaimana?" tanya Ayah Wiguna dengan lembut..


Semenjak Ayah Wiguna tahu bahwa Graha adalah putra Maheswari mantan istrinya segala sikap dan prilakunya berubah total, kini Ayah Wiguna pun menyayangi Graha seperti dirinya menyayangi Amar...


__ADS_2