
Berlian berjalan dengan langkah yang lunglai, yang dia fikirkan bukan tentang rasa sakit yang telah dia terima melainkan bagaimana dengan kondisi Bunda Hesti, baru tadi pagi mereka merasakan kebahagiaan ketika rancangan gaun pertama Berlian berhasil memenangkan peragaan busana.
"Bunda maafin Lian, Lian gak bisa berada di samping Bunda. Semuanya sudah berakhir Bunda, maafkan Lian jika Lian harus pergi." ucap Berlian dalam hatinya.
Langkah Berlian di temanai dengan cucuran airmata,, Berlian tak menyangka jika laki laki yang sangat di cintainya telah membuang dirinya layaknya sampah..
"Kenapa kamu setega ini terhadapku Mas, disaat aku sudah mencintaimu kamu justru membuangku seperti ini? Apa salah dan dosaku kepadamu kepada kalian semua." ucap Berlian dalam hatinya...
Berlian terus berjalan menyusuri gelapnya jalanan, hatinya masih belum percaya dengan kenyataan pahit ini. Berlian tak berhentinya menangis rasanya sesak di dadanya kian bertambah..
Berlian sampai di kediaman Wiguna, dia pulang hanya untuk mengambil pakaian dan beberapa bang berharga miliknya, Berlian pergi tanpa membawa apapun kecuali barang miliknya..
Bi Ijah sang pembantu yang selalu setia menemaninya pun bersedih melihat Berlian hendak pergi..
"Mbk Lian, kenapa semua ini menjadi seperti ini Mbk,. Mbk mau tinggal dimana?terus bagaimana nanti jika Nyonya besar pulang?" ucap Bi Ijah sembari menangis..
"Bi maafin Lian ya jika selama ini Lian selalu merepotkan Bibi, aku sudah bukan siapa siapa lagi di rumah ini Bi, udah Bibi jangan nangis?" ucap Berlian pelan..
Bi Ijah masih saja terus menangis dia tak pernah menyangka wanita sebaik Mbk Lian harus mengalami nasib yang sangat kurang beruntung..
__ADS_1
"Baiklah Mbk, Mbk hati hati Bibi akan selalu merindukan Mbk." ucap Bi Ijah kemudian memeluk Berlian..
💔💔💔💔
Setelah keluar dari rumah Wiguna Berlian pergi menuju kost Intan sahabatnya.
Berlian masih saja menangis mengingat semua kejadian yang baru saja dilaluinya.
"Mungkin ini jalan terbaik yang Allah kasih buatku aku harus ikhlas dan aku harus kuat." ucap Berlian dalam hatinya sembari memberikan semangat kepada dirinya sendiri...
Sesampainya di kost Intan jam menunjukan tengah pukul 2 dini hari. Intan kaget karena tengah malam pintu kamarnya di ketuk orang..
"Tan... buka pintunya.." ucap Berlian dari luar pintu..
Intan kaget melihat Berlian yang membawa koper di pagi buta seperti sekarang...
"Lian kamu kenapa?" tanya Intan sembari mengajak Lian masuk kedalam kostnya..
"Intan bolehkah aku menginap di sini?" ucap Berlian dengan tertunduk..
__ADS_1
Mata Berlian terlihat sembab, dan Intan dengan senang hati menerima kedatangan Berlian..
"Tentu dong Lian, kamu bisa tinggal disini tapi maaf beginilah keadaan kost aku." ucap Intan pelan.
Apa yang terjadi Lian, katakanlah ayo ceritakan. Gak mungkin jika tak ada apa apa kamu sampai seperti ini..ucap Intan kemudian..
Berlian mulai menceritakan tentang masalah yang dia hadapi, tentang ketidakadilan yang dia terima san hal itu membuat Intan emosi..
"Apa si maunya itu keluarga, harusnya jangan main tuduh begitu aja ada buktinya gak. terus bagaimana dengan suamimu." tanya Intan dengan raut wajah yang kesal..
Berlian menarik nafas panjang kemudian membuangnya secara berlahan..
"Mas Amar menjatuhkan talak 3 kepadaku. Dan secara Agama kami telah bercerai." ucap Berlian dengan menunduk sedih..
"Wah dasar laki laki tak berpri kemanusiaan, main talak talak aja emang dia bocah apa main seenaknya aja. Udah Lian gak apa apa syukur kamu bisa lepas dari sia di luar sana masih banyak laki laki yang akan menyayangimu dengan setulus hati mereka." ucap Intan dengan kesal..
Intan memeluk Berlian dan kini Berlian menangis di bahu Intan..
"Lalu apa rencanamu sekarang Lian." ucap Intan mencoba menenangkan Berlian..
__ADS_1
"Aku akan mengurus perpisahanku dengan Mas Amar terlebih dahulu dan setelah itu semua selesai aku akan meninggalkan Jakarta." ucap Berlian pelan..
"Ambilah keputusan yang membuat hatimu tenang Lian, aku akan selalu siap untuk mendukungmu. Besok aku akan mengantarkanmu kepengadilan agama untuk mengurus semuanya...