
Setelah keluar dari rumah sakit Fani langsung pergi meninggalkan rumah Amar dan tinggal bersama sang Bunda. Perasaan bersalahnya kian menghantui hari harinya membuat Fani menjadi semakin frustasi, kadang dia berteriak dan kadang juga menangis dan tertawa..
Bunda Risa semakin bingung melihat kondisi Fani dan yang membuat dia semakin hancur adalah mereka kini tak punya apa apa..
"Sayang kenapa kamu harus seperti ini?" ucap Bunda Risa sembari menangis..
Fani hanya menatap Bunda Risa dengan tatapan kosong..
"Bunda anak Fani dimana?" ucap Fani sembari meraba perutnya yang kini telah rata..
Fani berteriak ketika merasakan bahwa bayinya telah gak ada..
"Anakku anakku dimana Bunda, Bunda anakku dimana?" teriakan Fani semakin memilukan hati..
Lima bulan sudah kondisi Fani seperti itu. Hal ini yang membuat keluarga Wiguna pun merasa iba dan mau membiyayai pengobatan Fani hingga dia sembuh..
"Maafkan putriku Nyonya Hesti." ucap Bunda Risa kepada Bunda Hesti dengan berderai airmata.
"Sudahlah Bu yang penting sekarang Fani bisa sembuh." ucap Bunda Hesti dengan Lembut..
Begitupun dengan Amar, Amar kini menjadi pendiam dan masih tetap mencoba mencari keberadaan Berlian dengan menyuruh semua orang kepercayaannya untuk bergerak..
"Bagaiman apa kalian sudah mengetahui dimana kini mantan istriku berada?" ucap Amar dengan serius..
"Kami belum menemukannya Tuan, dan kami juga telah mencari di semua sudut jakarta namun belum membawakan hasil." ucap seorang yang Amar suruh untuk mencari Berlian..
__ADS_1
Hati Amar kian sakit sudah 6 bulan Berlian menghilang dan entah kini bagaimana keadaannya dan dimana dia tinggal..
"Ya Allah mudahkanlah aku bertemu dengan Berlian." ucap Amar dalam hatinya..
🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿
Usaha Berlian kini kian maju dan dalam waktu lima bulan Berlian sudah berhasilembuka cabang baru di pusat kota Bali.
"Lian lihatlah hasil kerja keras kamu? Sekarang kamu telah menjadi orang yang sukses dan aku bangga sama kamu." ucap Graha sembari tersenyum..
"Aku bisa meraih ini semua kan berkat campur tangan mas Graha juga, terima kasih ya Mas." ucap Berlian sembari tersenyum...
Hati Graha selalu terkesima setiap kali melihat Berlian tersenyum.
Berlian melihat kearah Graha dan sepertinya Graha gak fokus..
"Mas kenapa?" ucap Berlian pelan..
"Gak apa apa, Oh iya Lian Mas boleh bertanya sesuatu gak?" ucap Graha dengan tenangnya.
"Tentu Mas mau tanya apa?" ucap Berlian pelan..
Graha mengumpulkan semua keberaniannya untuk bertanya..
"Lian.. Seandainya ada seseorang yang menyayangimu apakah kamu mau membuka hatimu?" ucap Graha pelan..
__ADS_1
Berlian tak mengerti dengan ucapan Graha..
"Aku masih belum berfikir kesana Mas, buatku sekarang adalah menjalani kehidupan ini dengan sendiri. Jujura aku masih trauma dengan kegagalanku yanv kemarin dan aku enggak mau itu terulang lagi.
Mas apakah kamu tahu sakitnya di poligami dengan saudara sendiri aku butuh waktu Mas." ucap Berlian seolah dia mengerti tentang apa yang Graha ucapkan..
Graha pun tersenyum..
"Aku pasti akan membantumu melupakan semuanya dengan ketulusan cinta yang aku miliki, kamu tidak akan pernah bersedih lagi yang ada hanya rasa bahagia yang selalu ada di hatimu kelak." ucap Graha pelan..
Graha pun berdiri kemudian menarik tangan Berlian.
Berlian kaget di tarik oleh Graha..
"Mas kamu mau bawa aku kemana?" ucap Berlian pelan.
"Ikutan aja kita akan ketempat dimana kamu bisa melupakan segala masalah yang kamu miliki." ucapa Graha dengan lantang nya.
Tiga puluh menit kemudian Berlian dan Graha yelah sampai di sebuah danau dengan pemandangan yang sangat indah dan dengan suasana yang asri membawa kedamaian di dalam jiwa.
"Disinilah tempat yang aku maksud Lian, tempat favorite aku ketika aku sedang memiliki banyak masalah dan ketika aku sedang merindukan kedua almarhum orang tuaku." ucap Graha pelan..
Berlian pun merasakan ketenangan disana dan kemudian tersenyum..
"Aku bersyukur bisa mengenal lelaki sebaik kamu Mas Graha terima kasih kamu selalu ada dimanapun aku sedang membutuhkan pundak untuk bersandar." ucapa Berlian dalam hati...
__ADS_1