DERITA ISTRI PERTAMA

DERITA ISTRI PERTAMA
Bab 110_s2


__ADS_3

Amar nampak sangat bahagia bisa kembali dekat dengan sang Bunda..


Ayah Wiguna pun mendekat kearah dua orang yang paling dia sayangi.


"Kalian sedang membicarakan apa di kok Ayah perhatikan serius sekali." ucap Ayah Wiguna sembari tersenyum...


Amar dan Bunda Hesti sama sama menoleh kearah sumber suara.


"Ayah.. "panggil Amar sembari tersenyum dan kemudaian mencium tangan sang Ayah.


"Ayah bikin kami kaget aja si, kami kan sedang merlepas rindu Ayah." gerutu Bunda Hesti sembari memanyunkan bibirnya ke depan.


Ayah Wiguna pun tersenyum mendengar ucapan sang istri...


"Melepas rindu? terima kasih ya Bun kamu telah menjalankan perintah Ayahku dengan baik, kamu mampu menyayangi Amar layaknya anak yang lahir dari rahimmu. Terima kasih sayang." ucap Ayah Wiguna dalam hati...


Bunda Hesti berbalik menatap sang suami yang kini sedang berada di dalam lamunannya.


"Kok Ayah bengong kenapa Ayah?" tanya Bunda Hesti kini sembari tersenyum..


"Ayah bahagia melihat keluarga kita bisa seperti ini lagi. Kini Amar putra kita talah berada di antara kita dan itu adalah anugrah terindah yang kita dapat." ucap Ayah Wiguna sembari tersenyum...


Ayah Wiguna menatap kearah sang putra Ayah Wiguna memperhatikan wajah Amar dan tiba tiba sekelebat bayangan Maheswari sang mantan istri terlihat di matanya.


"Astagfirullahalazim." ucap Ayah Wiguna sembari mengelus dadanya.

__ADS_1


Amar dan Bunda Hesti yang tak tahu apa apa pun kaget.


"Ada apa Ayah? Kenapa Ayah menatap Amar seperti itu?Apa ada yang aneh dengan wajah Amar?" tanya Amar yang merasa bingung.


"Ayah senang bisa melihat banyak perubahan pada dirimu putraku." ucap Ayah Wiguna sembari mengelus pucuk kepala Amar.


🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Pada pagi harinya kini Amar bersiap untuk menemui sang Kakek yaitu Tuan Sandy..


Amar terlihat berbeda pada hari itu..


"Sayang kamu mau kemana? Kok kamu sudah bersiap pagi pagi." ucap Bunda Hesti sembari menyiapkan sarapan untuk sang putra kesayangan..


Amar hanya tersenyum kemudian menghabiskan satu cangkir kopi yang berada di hadapannya..


Bunda Hesti tersenyum kemudian memukul pelan bahu sang putra..


"Tentu saja boleh dia kan Kakek kamu, Amar jika nanti Kakek berbicara sesuatu Amar dengerin aja ya." ucap Bunda Hesti pelan..


setelah menyelesaikan sarapannya Amar bergegas mengendarai mobil kesayangannya yang telah ia tinggal selama tujuh tahun..


Tanpa Amar sadari ternyata mobil yang Amar menderai mengalami rem blong dan pada akhirnya kecelakaan pun tak dapat dihindarkan lagi...


Belum juga satu jam Amar pergi meninggalkan rumah kini Bunda Hesti mendapatkan telfon dari pihak rumah sakit yang mengabarkan bahwa Amar sang putra mengalami kecelakaan...

__ADS_1


"Selamat siang maaf dengan keluarga dari Bapak Amar?tanya seseorang dari sebrang sana..


Jantung Bunda Hesti telah berdetak dengan kencaangnya dengan berat pun dia menjawab..


"Benar Saya Bunda nya Amar Alamsyah ada apa , san maaf ini siapa?" tanya Bunda Hesti dengan sedikit kekhawatiran...


"Kamu dari Rumah sakit Karya Mandiri Bu mau mengabarkan bahwa Putra Ibu mengalami kecelakaan dan sekarang keadaanya kritis." ucap Seorang Suster Rumah sakit tempat Amar kini berada..


Sontak Bunda Hesti langsung histris dan kemudian menjerit membuat sang suami kaget dibuatnya..


"Bunda ada apa?" tanya Ayah Wiguna dengan paniknya..


"Amar Yah, Amar putra kita.."ucap Bunda Hesti terbatas bata..


"Iya Amar kenapa Bunda? Dia kan tadi berpamitan mau kerumah Ayah, dia kenapa?" tanya Ayah Wiguna sembari menggoyangkan bahu sang istri..


Belum ada jawaban dari Bunda Hesti namun sambungan telfon itu masih bisa terdengar.


Dengan cepat Ayah Wiguna mengambil handphone sang istri kemudian mulai berbicara..


"Maaf ini dengan siapa?" tanya Ayah Wiguna pelan.


"Kami dari Rumah sakit pak mengabarkan bahwa Amar putra Bapak kecelakaan dan sekarang kondisinya kritis." jawab Suster itu lagi..


Sontak Ayah Wigunapun diam mematung seolah tak percaya dengan apa yang dia dengar,

__ADS_1


"Amar putraku kecelakaan." ucapnya lirih..


__ADS_2