
Berlian merasa bahagia melihat tumbuh kembang Aya yang semakin hari semakin membanggakan Berlian juga selalu bersyukur atas apa yang telah dia dapatkan sekarang..
Berlian tak mau mengingat semua masalalunya tentang bagaimana sakitnya di duakan, tentang bagaimana rasanya menikahi lelaki yang sama sekali tak mencintainya dan harus rela berbagi suami dengan adiknya sendiri..
Berlian hanya bisa menarik nafas ketika ingatan itu kembali lagi. Buah dari kesabaran Berlian kini dirinya mendapatkan lelaki yang luar biasa. Lelaki yang begitu mencintai Berlian dengan segenap hatinya, lelaki yang begitu bertanggung jawab atas dirinya dan juga lelaki yang begitu mernomer satukan keluarganya..
Berlian selalu berdoa untuk kebaikan semua orang orang yang dia sayangi, ketika Belian sedang termenung tiba tiba suara Opa Rahman mengejutkannya..
"Nak apa yang sedang kamu pikirkan? Kenapa kamu kok melamun?" tanya Opa Rahman yang membuat Berlian terhempas dari lamunanya..
Berlian pun kaget melihat sang Opa yang telah berdiri di belakangnya semenjak tadi..
"Opa,, maaf Opa saya sedang memikirkan sesuatu jadi tak melihat Opa telah berada disini. Oh iya dimana Aya Opa?" tanya Belian sembari mencari cari Aya..
Opa Rahman tersenyum..
"Aya ada di kamarnya bersama dengan pengasuhnya. Lian jika kamu tak keberatan bolehkah Opa meminta bantuanmu?" tanya Opa Rahman sembari tersenyum..
Lian menatap kearah Opa Rahman kemudian tersenyum..
"Apa yang bisa Lian bantu buat Opa? Katakan saja jika Lian bisa Lian pasti akan melakukannya." ucap Berlian sembari tersenyum..
Opa Rahman pun tertawa..
"Beneran ya, coba kalau Opa suruh kamu loncat ke dalam sumur kamu mau gak?" ucap Opa Rahman sembari bercanda..
Berlian pun merasa malu karena ucapannya malah di sambut candaan oleh Opa Rahman..
__ADS_1
"Jangan dong Opa, kasihan Mas Graha dan Aya kalau Lian mati mereka sama siapa?" ucap Berlian merasa sedih membayangkan sesuatu yang gak ingin terjadi..
Opa Rahman tertawa kemudian menyentuh pundak Berlian..
"Mana mungkin Opa setega itu, kalau kamu gak ada siapa yang mau ngurusin Opa? Opa mau kamu antar Opa mengunjungi Sandy apa kamu mau? Kita bawa Aya aja pasti Sandy akan sangat senang bisa melihat Aya mengunjunginya." ucap Opa Rahman meminta Berlian menemaninya..
Berlian tersenyum menahan tawa..
"Baiklah Opa kebetulan juga Lian sedang jenuh dirumah terus. Tapi Lian minta izin dulu ya sama Mas Graha takutnya dia mencari kita nanti." ucap Berlian kemudian membuatkan Opa Rahman secangkir teh..
"Baiklah memang sebaiknya begitu. Kamu memang menantu idaman." ucap Opa Rahman sembari mengambil cangkir yang di pegang oleh Berlian..
💫💫💫💫💫💫💫💫💫💫💫💫💫💫💫💫💫💫💫
Dilain Tempat..
Bunda Risa melihat Fani yang sedang sibuk di dapur pun mendekatinya dan kemudian menawarkan bantuan..
Bunda Risa tersenyum melihat perubahan yang begitu besar pada diri Fani..
"Selamat pagi sayang, adakah yang bisa Bunda bantu?" tanya Bunda Risa sembari tersenyum bahagia..
Fani pun mencari sumber suara dan tang mendekatinya ternyata sang Bunda..
"Pagi juga Bunda.. Gak usah Bunda duduk aja biar Fani yang melakukannya ini juga sudah mau selesai." ucap Fani sembari menatap Bunda Risa..
Bunda Risa pun gak mau diam saja melihat sang putri yang terlihat sangat kerepotan..
__ADS_1
Bunda Risa pun melakukan apa yang dia bisa lakukan..
Sementara itu Salsa yang telah bersiap hendak ke kantor karena ada tugas dadakan pun dengan buru buru hendak berangkat..
Salsa melihat sang kakak ipar dan Bunda Risa yang sibuk pun menghampirinya..
"Selamat pagi kakaku, selamat pagi Bunda.." ucap Salsa sembari merapikan seragamnya..
Fani dan Bunda Risa terpana melihat Salsa yang terlihat begitu anggun dengan seragam kepolisian yang dia kenakan..
"Pagi juga Sa, Sa kok kamu sudah rapi mau kemana?"tanya Fani sembari menatap Salsa dengan tatapan yang bangga karena memiliki adik ipar seorang polwan..
Salsa pun tersenyum kemudian mengambil segelas air putih dan kemudian menenggaknya..
"Iya kakak maaf ya Salsa gak bisa membantu memasak ada tugas dadakan jadi Salsa harus ke kantor lebih awal." ucap Salsa sembari mencuci gelas yang telah dia pakai..
Fani pun tersenyum..
"Iya gak apa apa Sa, kamu sarapan dulu ya baru berangkat. Kakak sudah siapkan buat kamu." ucap Fani dengan lembutnya kemudian mengambilkan senwich yang telah dia buat dengan segelas susu hangat..
"Maaf ya kak jadi merepotkan." ucap Salsa merasa malu.
Fani pun tertawa..
"Kamu ini dari tadi minta maaf melulu Sa, sudah ayo sarapan dulu dan segeralah berangkat." ucap Fani sembari menepuk pundak sang adik..
"Terima kasih kakak.." ucap Salsa lalu menikmati sarapan paginya dan kemudian berangkat kerja..
__ADS_1