DERITA ISTRI PERTAMA

DERITA ISTRI PERTAMA
Bab 122_s2


__ADS_3

Kebahagiaan Amar terlihat jelas dikedua mata Amar setelah dia bercanda gurau dengan Cahaya dang keponakan yang lucu nan menggemaskan..


"Sayang sudah sini sama Bunda, kasihan Om Amar baru saja sembuh." ucap Berlian sembari mengulurkan tangannya kepada sang putri..


Cahaya pun tersenyum kemudian mendekat kearah sang Bunda dan bergelayut manja..


Semua orang tertawa melihat tingkah laku Cahaya dan kemudian saling tatap..


Amar sendiri tersenyum melihat tingkah lucu sang ponakan.


Sementara itu Graha yang baru datang ikut tersenyum melihat kedekatan semua anggota keluarga yang kini sedang bersama sama..


"Hemm anak Ayah habis ngapain ini?" tanya Grah sembari tersenyum menatap kedua mata sang putri..


Cahaya tersenyum kemudian memeluk sang Ayah..


Graha sangat bahagia mendapatkan pelukan hangat dari sang Putri. Amar yang melihat kedekatan Aya dan sang Adikpun ikut tersenyum bahagia...


"Alangkah bahagianya aku bisa melihat semua orang yang aku sayangi bahagia." gerutu Amar dalam hatinya..

__ADS_1


Sementara itu dua orang tua yang sedang asik bersenda gurau pun terlihat sangat bahagia melihat cucu mereka kini telah kembali sehat..


"Lihatlah Rahman cucu kita sudah sehat alangkah senangnya hatiku pada akhirnya aku masih memiliki penerus." ucap Kakek Sandy sembari tersenyum..


Opa Rahman hanya tersenyum tanpa menanggapi ucapan sang sahabat..


"Kenapa kamu diam saja ?Apa kamu tak mendengar apa yang aku katakan?" tanya Kakek Sandy sembari menepuk bahu sang sahabat..


"Apa si kamu, pukul pukul.. " ucap Opa Rahman pura pura marah..


Ayah Wiguna dan Bunda Hesti yang tadinya sedang tersenyum karena melihat tingkah Cahaya kini di buat terkejut dengan tingkah sang Opa..


"Opa ada apa?" tanya Graha dengan wajah yang sedikit tegang..


Kakek Sandy bingung dengan tingkah sang sahabat.


"Kamu kenapa marah sama aku?" tanya Kakek Sandy dengan wajah yang kebingungan..


Opa Rahman masih pura pura marah hingga dia tak dapat lagi menahan geli di perutnya dan ketawa dengan kencangnya..

__ADS_1


"Mukamu lucu San, mirip kelinci kalau lagi gitu." ucap Opa Rahman sembari memegangi perutnya..


Semua orang saling tatap dan kemudian ikut tertawa..


"Wah kamu ini gak berubah ternyata ya Rahman, idah bau tanah masih aja iseng. Awas aja nanti aku balas." ucap Kakek Sandy dengan sedikit acuh..


"Maaf San, aku kangen suasana dulu saat kita masih kuliah. Aku sering mengerjaimu hingga muka kamu mirip kepiting rebus." ucap Opa Rahman sembari tertawa..


Sementara itu Graha dan Amar pun saling tatap, mereka tak menyangka ternyata Opa mereka adalah raja jahil yang sama sekali tak menular kepada mereka..


"Mas kenapa Opa menjadi seperti itu?" tanya Graha yang mendekat kearah sang kakak..


Amar sendiri tersenyum kemudian menatap kearah sang adik..


"Kamu yang lebih tahu Opa Gra, Mas mana tahu Mas aja baru ketemu sama Opa?" ucap Amar sembari tersenyum..


"Iya Mas aku juga bingung, mungkin Opa senang kali bertemu dengan Kakek Sandy."ucap Graha pelan..


Sementara itu Berlian dan Bunda Hesti pun tersenyum melihat kedekatan sang Opa dan Kakek Sandy..

__ADS_1


"Lian senang deh Bun,melihat kedekatan Opa dan Kakek. Semoga meraka selalu seperti itu ya Bund." ucap Berlian sembari tersenyum bahagia..


"Iya Lian Bunda juga bahagia apalagi Bunda bisa melihat Kakek dan Opa bisa kembali akur itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Bunda." ucap Bunda Hesti sembari tersenyum...


__ADS_2