DERITA ISTRI PERTAMA

DERITA ISTRI PERTAMA
Bab 120_s2


__ADS_3

Revan mengusap airmatanya kemudian masuk kedalam ruangan yang kini Fani dan Varo tengah berpelukan...


"Hemmmm anak Ayah sedang apa?"ucap Revan sembari melipat kedua tangannya di atas dada bidangnya..


Fani dan Vano menoreh kearah Revan yang tengah berada di belakang mereka..


"Ayah..." panggil Vano yang kemudian melepaskan pelukan Fani...


Ayah Vano sekarang punya Bunda, Bunda Vano Bunda Fani.." jelas Varo kegirangan...


Revan menatap kearah Fani kemudian mengangguk sebagai ucapan terima kasih...


"Ooh sekarang Tante Fani mau jadi Bundanya Vano ya? Wah nanti Tante Salsa pasti akan sangat senang.." ucap Revan pelan..


Sementara itu Fani merasa tersipu malu dan kemudian menunduk..


"Fan makasih ya udah buat anakku se bahagia ini. Aku berharap jika semua ini bisa menjadi kenyataan." ucap Revan lirih nyaris tak terdengar..


Fani menatap kearah Revan kemudian mengalihkan pandangannya kepada Vano..

__ADS_1


"Vano sayang bisa keluar sebentar gak? Bunda mau berbicara sama Ayah." ucap Fani dengan penuh kelembutan...


Setelah Vano keluar, Fani kemudian menarik nafas panjang dan kemudian membuangnya secara berlahan..


"Maksud Mas Revan apa??" tanya Fani dengan suara yang pelan..


"Fan maafin aku, aku hanya ingin membuat Vano bahagia. Dan aku melihat kebahagiaan Vano ada padamu aku mohon Fan lupakan semua yang terjadi di masalalu kita. Mari kita buka lembaran baru." ucap Revan semabri menatap tajam kearah Fani..


Fani hanya tersenyum kemudian memalingkan wajahnya.


"Maksud kamu itu apa Mas?"tanya Fani dengan suara yang lirih..


Revan mendekat kearah Fani kemudian memegang tangan Fani..


Fani kaget setelah mendengar ucapan Revan..


Hati Fani terasa sakit setelah mendengarnya, laki laki yang dulu pernah mai menjadi suaminya dan sekarang laki laki itu meminta hal yang sama kembali kepadanya..


"Maaf Mas Revan aku gak pantas buatmu, kamu carilah wanita yang jauh lebih baik dariku. Masalah Vano hak apa apa dia menganggapmu sebagai Bundanya akupun gak keberatan. Namun jika harus menjadi pendamping hidupmu aku enggak bisa." ucap Fani sembari menitikan airmata..

__ADS_1


Revan merasa bingung setelah mendengar ucapan Fani, entah apa yang membuat keceriaannya sirna dan kini berubah menjadi kesedihan yang mendalam di wajah Fani..


Revan menatap Fani mencoba mencari tahu tentang apa yang dia fikirkan dan tentang apa yang membuatnya menjadi terpuruk..


Revan kembali menggenggam tangan Fani dengan lembut..


"Fan, ada apa? kenapa kamu menjadi seprti ini? katakanlah aku akan mendengarkannya." ucap Revan pelan..


Fani enggan menjawab namun isak tangisnya mulai terdengar..


"Maaf Mas Revan aku enggak pantas untukmu? Aku hanyalah seorang mantan narapidana dan aku juga memiliki masa depan yang suram. Tak akan ada yang bisa kamu harapkan dari wanita sepertiku Mas?" ucap Fani sembari mengusap airmatanya..


Revan menatap Fani dengan dalam kemudian tersenyum..


"Apakah aku juga bukan seorang mantan narapidana? Apakah menurut kamu seorang mantan narapidana itu tak bisa berubah? Jika masa depanmu suram maka biarkan aku menjadi penerang didalam kehidupan mu. Semua orang pantas untuk menerima kesempatan kedua Fan?" jelas Revan panjang lebar..


Fani menoleh kearah Revan seolah tak percaya dengan ucapan Revan...


"Mas Revan aku divonis dokter sudah tak akan bisa memiliki keturunan, dan aku hanya akan menjadi beban untukmu kelak.. Maaf Mas aku enggak bisa, aku enggak mau menyakitimu nantinya.." jelas Fani sembari membuang muka..

__ADS_1


Revan tak kehabisan akal untuk berusaha menyakinkan Fani..


"Kita sudah memiliki Vano lantas siapa lagi yang kita harapkan dalam kehidupan kita. Kita hanyalah manusia yang penuh dengan dosa di masalalu kita, jadi aku mau kuta sama sama belajar dari semuanya dan aku berharap kamu mau memberiku kesempatan kedua lagi." ucap Revan dengan setulus hatinya...


__ADS_2