
Babak baru kehidupan Fani dan Revan...
Revan masih saja mencoba untuk membuat Fani yakin akan dirinya, yakin akan keseriusannya dan yakin akan cintanya..
"Fan setelah selesai kerja bawa aku kepada Bunda, aku ingin menemuinya." jelas Revan sembari tersenyum..
Fani menatap aneh kearah Revan dan kemudian mengangguk..
Tak lama Vano kembali memasuki ruangan sang Ayah dengan wajah yang cemberut..
"Putra Bunda kenapa?" tanya Fani dengan lembut..
"Bunda sama Ayah lagi ngapain, kok Vano di suruh main sendiri." ucap Vano sembari memalingkan wajahnya..
Revan tertawa melihat tingkah sang putra yang membuatnya geli sendiri...
"Huhhhh anak Ayah kenapa? Sini sama Ayah, Van nanti kita mau kerumah Nenek Risa Bundanya Bunda Fani, Vano mau gak ketemu Nenek?" tanya Revan sembari mengulurkan kedua tangannya..
Wajah Vano berubah senang setelah mendengar ajakan sang Ayah..
"Mau Ayah, Vano mau bertemu dengan Nenek. Bunda Nenek dimana?" tanya Vano dengan polosnya..
"Nenek ada dirumah Bunda, ya sudah habis Bunda dan Ayah selesai kerja kita temui Nenek ya." jelas Fani sembari tersenyum.
Vano terlihat sangat senang dan kemudian berlari memeluk Fani..
"Vano sayang Bunda." ucapnya yang berhasil membuat airmata Fani jatuh..
__ADS_1
Revan yang melihat itu merasa sangat bahagia, terlihat jelas ada rasa kasih sayang yang tulus di kedua bola mata Fani..
Vano kaget melihat Bundanya menangis.
"Bunda kenapa menangis? Vano nakal ya Bunda, Bunda jangan menangis dong." ucap Vano yang mulai berkaca kaca, seolah ikut merasakan kesedihan yang Fani rasakan..
"Bunda gak apa apa sayang, mata Bunda kelilipan." jelas Fani sembari menghapus sisa airmatanya.
Revan semakin yakin dengan keputusannya untuk menikahi Fani. Semua orang pernah melakukan sebuah kesalahan namun semua orang juga pantas untuk mendapatkan kesempatan kedua..
"Kamu memang wanita yang luar biasa Fan, walaupun dulu kamu bukan wanita yang baik tapi lihat sekarang dirimu? Kamu wanita yang kuat maafkan aku yang telah membuatmu menjadi wanita yang gak baik di masalalu." ucap Revan dalam hatinya..
Setelah jam kerja selesai kini Fani, Revan dan Vano pergi menuju ke rumah Bunda Risa..
Sesampainya disana Revan di kejutkan dengan tempat tinggal Fani. Tempat tinggal yang sangat sempit, pengap dan juga kumuh..
Tak lama kemudian keluarlah seorang wanita paruh baya yang tak asing untuk mereka..
"Assalamualaikum Bunda." ucap Revan yang terlebih dahulu melihat Bunda Risa.
"Waalaikumsalam, nak Revan apa kabar?" tanya Bunda Risa sembari tersenyum..
"Revan baik Bunda," ucap Revan sembari mencium punggung tangan Bunda Risa..
Bunda Risa tersenyum kemudian pandangannya tertuju kepada sosok anak laki laki yang sangat tampan..
"Assalamualaikum Nenek." ucap Vano dengan lugunya.
__ADS_1
Mata Bunda Risa berkaca kaca..
"Waalaikumsalam anak ganteng. Nama kamu siapa sayang?" tanya Bunda Risa sembari berjongkok sejajar dengan tinggi Vano.
"Devano Nenek." ucap Vano dengan polosnya..
Bunda Risa terlihat sangat senang melihat Vano, Bunda Risa jadi teringat dengan sosok Cahaya..
"Bunda kenapa?" tanya Fani yang mengejutkan lamuanan sang Bunda.
"Bunda ingat dengan Aya, Bunda merindukannya." ucap Bunda Risa sembari tertunduk..
Dari arah halaman terdengar suara anak kecil yang memanggilnya..
"Nenek Risa.." sebuah suara yang tak asing di telinga Bunda Risa..
"Cahaya...." ucap Bunda Risa sembari tersenyum.
Tak lama setelah itu terlihat Berlian dan Graha, mereka berniat untuk mengunjungi Bunda Risa dan Fani..
"Mas Revan?" ucap Berlian dengan lembut..
Revan menoleh kearah sumber suara dan melihat Berlian dan juga Graha berada di belakang mereka..
"Kak Lian, Mas Graha." ucap Revan sembari tersenyum..
Graha dan Berlian pun semakin mendekati mereka dan ini pertama kalinya Revan bertemu dengan Berlian semenjak dia bebas dari penjara dulu...
__ADS_1