
Berlian seperti melihat bayangan seseorang yang berlari dari balik tembok.
Berlian tak pernah melupakan postur tubuh wanita yang dulu merawatnya...
"Bunda..." panggil Berlian sembari berlari kecil mengejar bayangan yang tadi dilihatnya...
Graha pun menjadi panik melihat Berlian yang tiba tiba berlari bersama Baby Aya di gendongannya.
"Sayang ada apa? Kamu kenapa?" tanya Graha sembari mengejar Berlian..
"Mas,, Lian lihat Bunda. Bunda Risa ada disini tadi." ucap Berlian dengan terbata bata...
Graha pun menjadi bingung dan mencari cari namun tak nampak siapapun di dekat mereka..
Lalu Graha mencoba menenangkan sang istri..
"Iya sayang,, sudah ya jangan sedih kitaa berdoa saja supaya bisa bertemu dengan Bunda Risa." ucap Graha dengan lembut...
Berlian nampak murung Berlian tetap yakin bahwa yang dilihatnya adalah Bunda Risa.
__ADS_1
"Tapi Mas aku yakin tadi itu Bunda." ucap Berlian dengan tertunduk..
"Iya sudah sekarang kita bawa Aya ke Dokter dulu ya, biar kita langsung pulang." bujuk Graha dengan lembut..
Setelah merasa cukup tenang Berlian dan Graha berjalan menuju ruangan Dokter, sementara itu isak tangis semakin terdengar jelas dari wanita paru baya yang kini sedang bersembunyi..
"Maafkan Bunda Lian, Bunda enggak bisa bertemu denganmu sekarang. Bunda terlalu malu untuk menunjukan wajah Bunda di hadapanmu mengingat dengan apa yang telah kita lakukan untukmu." ucap Bunda Risa sembari terisak..
Setelah merasa cukup tenang Bunda Risa meminta izin untuk menjenguk Fani sang Putri yabg kini sedang berada di hotel prodeo..
Setelah di izinkan secepatnya Bunda Risa meninggalkan Rumah sakit karena takut bertemu dengan Berlian kembali..
Sesampainya di rumah tahanan, Bunda Risa meminta Izin untuk bertemu dengan Fani sangb Putri.
"Assalamualaikum Bunda." ucap Fani sembari mencium punggung tangan sang Bunda..
"Waalaikumsalam putriku, bagaimana kabarmu?" tanya Bunda Risa dengan sedikit tersenyum..
"Fani sehat Bunda, Bunda sendiri bagaimana? Kenapa Bunda nampak kurus dan letih?" tanya Fani yang merasa tak tega melihat kondisi sang Bunda saat ini..
__ADS_1
Bunda Risa pun tersenyum.
"Bunda gak apa apa Putriku. Sayang tadi Bunda melihat kakakmu dan dia nampak sangat bahagia." ucap Bunda Risa dengan riang..
"Syukurlah Bunda, kak Lian sehat kan? Dia memang pantas bahagia Bunda." tanya Fani sembari tersenyum..
Bunda Risa pun tersenyum melihat perubahan besar dalam diri Fani kali ini. Biasanya Fani akan selalu marah jika sang Bunda memuji Berlian.
"Mereka sehat sayang, dan lihatlah ini foto Aya putri mereka." jelas Bunda Risa pelan..
Mata Fani berkaca kaca melihat foto baby mungil yang sangat menggemaskan. Fani merasa sedih mengingat dirinya tang tak bisa memiliki keturunan lagi..
"Subhanallah lucu sekali dia, aku sangat senang melihatnya Bunda. Betapa beruntungnya kak Lian bisa memiliki baby gak sepertiku." ucap Fani dengan mata sembab..
Bunda Risa merasa bersalah karena telah membuat sang Putri merasa sedih..
"Maafin Bunda sayang, bukan niatan Bunda untuk membuatmu kecewa. Tapi Bunda hanya ingin kamu melihat putri dari kakakmu." ucap Bunda Risa sembari menggenggam erat tangan sang Putri..
Fani pun tersenyum..
__ADS_1
"Bunda gak salah kok, gak apa apa ini mungkin sudah menjadi nasib Fani Bunda. Fani sudah mengikhlaskan semuanya Bunda Insyaallah." ucap Fani sembari tersenyum untuk membuat sang Bunda merasa senang.
Dalam lubuk hati Fani dia masih belum sanggup menerima semua kenyataan yanv sedang menemaninya saat ini, namun satu keyakinan Fani bahwa Allah tak pernah tidur dan Allah pasti akan memberinya kebahagiaan suatu hari nanti.