
☪️ Terima kasih untuk dukungan dan support kalian semuanya, maaf jika tulisan Author masih banyak kekurangannya atau terkesan berlebihan, harap maklum. Happy reading.☪️
☪️☪️☪️☪️☪️☪️
Berlian bingung dengan perasaannya sendiri di lain sisi dia kecewa karena penghianatan yang Amar lakukan, di sisi lain Berlian merasa bahagia dengan perhatian Amar..
"Aku memang mencintaimu, tapi apakah aku sanggup bertahan jika rasanya seperti ini?" ucap Berlian dalam hati...
Bunda Hesti memperhatikan sikap Berlian..
"Sayang kamu kenapa?" tanya Bunda Hesti dengan lembut...
"Bunda...Lian gak apa apa Bunda. Lian bingung dengan sikap Mas Amar, kenapa dia berubah di saat situasi kami telah seperti ini. Maafkan Lian Bunda, jujur hati Lian sakit dengan semua keadaan ini." ucap Berlian sembari menunduk dan menangis..
Bunda Hesti mendekati Berlian kemudian memeluknya dengan eratnya.
"Putriku maafkan suamimu, Bunda tahu kamu begitu terluka dan kamu begitu kecewa. Bunda tahu kamu wanita yang kuat Lian, ada Bunda ada Ayah yang akan selalu menyayangimu." ucap Bunda Hesti dengan lembut. Bunda Hesti adalah mertua yang terbaik dia selalu mengerti keadaan yang Berlian rasakan..
Berlian tak kuasa menahan kesedihannya dan Bunda Hesti pun dengan lembut memberikan ketenangan di pelukannya.
"Bersabarlah sayang badai ini pasti akan berlalu." ucap Bunda Hesti pelan..
Sebagai seorang wanita Bunda Hesti memahami perasaan Berlian,tidak mudah menerima sebuah pernikahan poligami yang Amar lakukan terlebih lagi sikap Amar yang gak bisa di tebak..
"Iya Bunda terima kasih karena Bunda telah memberi Berlian cinta yang begitu besar, semoga Berlian tidak akan mengecewakan Bunda.." ucap Berlian pelan..
☪️☪️☪️
Sementara itu sang Ratu Fani baru saja membuka matanya, Amar sedikit kesal melihat tingkah istri barunya itu...
"Udah siang gini baru bangun, tidur aja sampai besok." ucap Amar ketus..
"Ihh sayang kok gitu, gak lihat apa anak yang ada dalam perutku, dia sedih denger kamu ngomong kayak tadi." ucap Fani sok manja.
Amar menatap ke arah Fani kemudian pergi berlalu ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuh..
"Wanita apa si yang aku nikahi ini, kenapa sikapnya bertolak belakang sama sikap Berlian." gerutu Amar dalam hati...
__ADS_1
15 menit kemudian Amar baru selesai dengan ritual mandinya kini dirinya berpakaian santai karena hari ini hari libur..
Amar melihat sekeliling kamar, di carinya si wanita yang menyebalkan itu tak ada pada tempatnya..
"Kemana wanita itu, kenapa dulu aku mencintainya. Apa yang dulu aku pikirkan." gerutu Amar dalam hati...
Amar pun kembali menuruni anak tangga dan di lihatnya Fani sedang memarahi Berlian..
Amar yang melihat itu pun kesal..
"Ada apa ini? kenapa kalian ribut.." ucap Amar dengan keras..
"Sayang.... Kakak membuatkan makanan gak enak, aku gak suka aku minta makanan lain malah dia marah?" ucap Fani sembari merengek manja seperti anak kecil.
Amar menatap ke arah Berlian kemudian duduk di samping Fani..
"Sebagai istri tua seharusnya kamu harus lebih memperhatikan kondisi anakku yang ada di dalam. perut Fani."ucap Amar pelan, sebenarnya Amar hanya kesal karena Berlian mulai mengacuhkan dirinya.
Berlian hanya menyunggingkan senyuman..
"Baiklah,, kamu mau makan apa? apa perlu aku pesen makanan?" tanya Berlian dengan sedikit kesal.
Amar pun semakin heran dengan sikap Berlian, Amar hanya ingin membuat Berlian cemburu namun itu enggak mungkin, karena menurut Amar memang Berlian tak pernah sedikitpun mencintai dirinya.
"Kamu memang tak pernah mencintaiku, apakah satu tahun ini tak bisa menumbuhkan rasa sayang di hatimu untukku? seperti aku yang telah mulai mencintaimu." gerutu Amar dalam hatinya..
Setelah selesai dengan drama pagi di rumah kini Berlian telah berada di butik, hari ini Berlian terlihat sangat cantik berbeda dari biasanya.
Amar menatap takjub dengan kecantikan Berlian.
"Mau kemana?" tanya Amar pelan..
"Ke butik..." jawab Berlian pelan, Berlian berpamitan kepada Amar lalu pergi meninggalkan rumah..
☪️☪️☪️
Berlian kini tengah berada di butik milik keluarga Wiguna, hari ini ada seorang pengusaha yang ingin memesan gaun untuk orang tuanya.
__ADS_1
"Siapa yang akan memesan gaun semahal itu Intan?" tanya Berlian kepada sang sahabat..
"Entahlah Li, aku enggak kenal dia minta kamu menemuinya siang ini di restorannya." ucap Intan pelan..
"Baiklah aku akan menemuinya, siapkan semua disaine yang kita punya, agar dia mudah untuk memilih." ucap Berlian dengan tersenyum...
Berlian kini tengah berada di restoran pelangi tempat mereka akan bertemu...
"Berlian....." ucap seorang laki laki yang mengagetkannya itu..
"Fauzan kau....?" ucap Berlian kaget...
"Biasa saja dong Lian, kamu kayak lihat seten saja." ucap Fauzan pelan..
Fauzan adalah teman Berlian waktu kuliah. Fauzan anak orang yang kaya raya di kampusnya dulu dan tak pernah menyangka Allah mempertemukan mereka lagi..
"Ya ampun Zan, bukannya kamu di Inggris? kapan kamu kembali?" tanya Berlian pelan..
"Udah lama di sini, oh iya kamu apa kabar? Aku dengar kini kamu sudah menikah ya?" tanya Fauzan dengan sedikit kecewa..
Fauzan memang mencintai Berlian semenjak kuliah, namun karena orang tua Fauzan tak merestui hubungan itu maka Fauzan tak pernah memberi tahu tentang perasaannya kepada Berlian.
"Iya aku udah nikah? Kamu gimana kapan ini mau nikah? jangan lupa undang undang ya." ucap Berlian sembari tertawa.
Dari sebuah meja di sudut ruangan sepasang mata menatap mereka dengan tatapan penuh amarah.
Rasa kecewa, sedih dan cemburu beradu menjadi satu.
"Mas Amar kenapa bengong." tanya Fani mengagetkan Amar..
Mata Fani mengikuti arahan mata Amar..
"Mereka bertemu lagi, mungkin mereka masih punya hubungan." ucap Fani membuat emosi Amar semakin naik..
Amar menatap ke arah Fani..
"Apa maksud kamu?" ucap Amar dengan kesal..
__ADS_1
"Dia itu Mas Fauzan teman atau pacar kak Lian, aku gak tahu ya, yang pasti saat dulu kuliah mereka selalu bersama dan mungkin hubungan mereka lebih dari sekedar teman. Lihat saja Kak Lian dia bisa tertawa sebahagia itu dengan laki laki lain." ucap Fani sengaja membuat Amar semakin di sulut emosi...