DERITA ISTRI PERTAMA

DERITA ISTRI PERTAMA
Bab 127_s2


__ADS_3

Fani tengah berada di dapur tepatnya di belakang Berlian..


"Assalamualaikum selamat pagi Nyonya Graha." ucap Fani sembari tersenyum..


Berlian yang sedang sibuk pun menoleh kearah sumber suara..


"Fan.... kapan kamu datang? Kok gak bilang mau datang kalau kamu bilang kan kakak suruh Mang Ijal untuk jemput kamu." ucap Berlian sembari menatap ke arah sang adik..


Fani pun tersenyum dan kemudian mendekat kearah sang kakak..


"Gak perlu merepotkan kakakku, Fani ingin mandiri dan Fani juga ingin belajar hidup dengan keterbatasan tanpa perlu kemana mana pakai supir.


Faniasih menatap ke arah sang kakak,


Jam berapa kita akan mengunjungi keluarga Wiguna, tapi aku takut kak." ucap Fani ragu..


Berlian pun tersenyum kemudian menghentikan aktifitasnya..


"Nunggu Aya je sekolah dulu ya De, tapi Mas Graha gak bisa nganter kita dia jadwalnya padat hari ini." ucap Berlian pelan..


Fani pun manggut-manggut menandakan dia setuju..


"Kak apa yang bisa Fani bantu?" tanya Fani sembari membantu Berlian menyiapakan sarapan..


Berlian hanya tersenyum..


"Sudah kamu duduk saja, biar kakak saja yang menyiapkan bekal buat Aya.." ucap Berlian sbari merapikan boks makanan untuk bekal sang putri yang kini telah masuk PAUD..


💗💗💗💗💗💗💗

__ADS_1


Setelah mengantar Aya ke sekolahnya, kini Berlian dan Fani pergi menuju kediaman Wiguna..


Ada perasaan takut di hati Fani, takut jika keluarga yang pernah disakiti nya enggan untuk memaafkan nya..


"Kak aku takut?" ucap Fani yang masih enggan untuk turun dari dalam mobil..


Berlian menatap kearah Fani.


"Percaya sama kakak, mereka pasti akan memberikan pintu maaf kepadamu." ucap Berlian dengan penuh keyakinan..


Setelah merasa sedikit tenang dengan mengucap lafaz bismillah Fani turun dari mobil dan mengikuti Berlian dari belakang..


Berlian yang sengaja tak memberitahu prihal kedatangannya, kala itu Bunda Hesti dan Ayah Wiguna sedang berada di ruang keluarga sedangkan Amar sedang berada di dalam kamarnya..


"Assalamualaikum.." ucap Berlian sembari tersenyum..


Ayah Wiguna dan Bunda Hesti pun terkejut..


Bunda Hesti lebih terkejut lagi dengan kedatangan Fani di belakang Berlian..


"Lian kamu kesini Nak, kenapa kamu bersamanya." ucap Bunda Hesti sedikit tidak suka..


Fani merasa tak enak hati mendapat tatapan yang berbeda dari Bunda Hesti..


"Ayah.. Bunda.. Bagaimana kabarnya sehat." ucap Berlian sembari mencium punggung tangan keduanya secara bergantian..


"Kami baik Lian ayo duduk." ucap Ayah Wiguna dengan lembut..


Ayah Wiguna dan Bunda Hesti menatap kearah Fani..Berlian yang mengertipun berbicara..

__ADS_1


"Bunda..Ayah.. Lian datang kesini dengan Fani, Fani ingin minta maaf kepada kalian dan Mas Amar dengan apa yang terjadi di masalalu. Lian mohon kalian mau membuakakan pintu maaf untuknya." ucap Berlian dengan pelan..


"Sudah tak akan ada maaf untuk wanita sepertinya." ucap Amar secara tiba tiba..


Fani dan Berlian menatap kearah sumber suara dan ternyata Amar telah berdiri di belakang mereka..


"Mas Amar.." ucap Fani pelan..


"Untuk apa lahi kamu hadir kembali dalam kehidupanku, apa kamu ingin menghancurkan kami untuk kedua kalinya?" ucap Amar dengan sangat ketusnya..


Fani tak menjawab dia hanya menunduk, ketakutannya terjadi bahwa keluarga Wiguna tak akan memaafkan nya begitu saja..


"Bunda... Ayah.. Mas Amar aki mohon maafin Fani, Fani tahu Fani pernah menghancurkan kalian. Tapi Fani mohon kasih Fani kesempatan untuk memperbaiki semuanya." ucap Fani sembari tertunduk..


Amar semakin geram setelah mendengar ucapan Fani..


"Jangan harap dan jangan pernah kamu bermimpi aku akan mau kembali denganmu lagi Fani." ucap Amar salah paham..


"Maafkan kami Fani, kami terlalu sulit untuk melupakan apa yang telah kamu lakukan kepada keluargaku. Jadi Tante mohon kamu pergilah." ucap Bunda Hesti yang kecewa..


Tak terasa airmata Fani jatuh membasahi kedua sudut matanya, kedatangan nya hanya untuk meminta maaf bukan untuk minta di kasihani..


Berlian yang melihat Fani bersedih pun angkat bicara..


"Maafkan Lian Bunda, apa seperti ini cara kalian menyambut seseorang yang dengan tulus ingin meminta maaf? Semua manusia pernah berbuat kesalahan bahkan tak jarang kesalahan mereka jauh lebih berat namun mereka masih bisa memberikan kesempatan kedua.. Lian kesini dengan Fani hanya ingin meminta maaf agar kehidupan adikku jauh lebih tenang sudah cukup Fani membayar kesalahannya. Jika yang merasa di rugikan disini adalah Lian Bunda. Lian yang menjadi korban namun Lian memaafkan Fani terlebih dia adikku." ucap Berlian sembari menitikan airmata..


Bunda Hesti menatap kearah Berlian dan Fani, Fani pun ikut menangis melihat sang kakak bersedih..


"Maafkan kami Lian, kami tahu kamu yang lebih terluka tapi kamu mampu untuk membukakan pintu maaf. Jika kamu bisa kenapa kami enggak." ucap Bunsa Hesti pelan....

__ADS_1


Amar masih menatap kearah Fani, Amar melihat banyak perubahan yang terjadi pada hidup Fani itu terlihat dari sorot matanya..


Wanita yang dulu sangat angkuh dan keras kepala kini menjadi wanita yang rapuh entah apa alasannya..


__ADS_2