DERITA ISTRI PERTAMA

DERITA ISTRI PERTAMA
Bab 38


__ADS_3

Amar masih saja teringat pada Berlian, Amar bisa melihat dengan jelas bahwa Berlian pergi dengan keadaan marah. Kata kata Berlian menjadi cambuk buat Amar hatinya sakit setelah mendengar isi hati Berlian..


"Lian maafkan aku, aku berharap kamu gak benar benar pergi.." ucap Amar dalam hati...


Sementara penyesalanpun datang pada hati Tuan Wiguna, tanpa sadari dia telah melukai hati Berlian, hati wanita yang telah di sakiti oleh anak semata wayangnya..


"Maafkan Ayah Lian, Ayah harap kamu masih di rumah jika kamu pergi bagaimana dengan Bundamu." ucap Tuan Wiguna dalam hatinya...


Pada keesokan paginya Amar pulang kerumah berharap Berlian masih tetap tinggal dirumah..


"Bi dimana Lian?" tanya Amar kepada Bi Ijah..


"Maaf Tuan buat apa lagi Tuan nyariin Mbak Lian?" ucap Bi Ijah yang kian berani dengan Tuannya..


"Wajar dong jika saya mencari dia, dimana apa dia ada di kamarnya?" ucap Amar sembari berjalan mencari keberadaan Berlian...


Lama Amar mengetuk pintu namun tak ada jawaban..

__ADS_1


"Percuma Tuan, mau di ketuk seribu kali pun Mbk Lian gak akan keluar, semalam dia pulang tapi hanya untuk mengambil pakaian yang dia punya. Bibi gak habis pikir sama jalan pikiran Tuan, Bibi yang merawat Tuan dari Tuan masih bocah namun kini Bibi kecewa." ucap Bi Ijah kian berani..


"Pergi??" ucap Amar sembari mematung seolah tak percaya..


Amar masuk kedalam kamar Berlian dan memastikan bahwa Berlian pasti ada di dalam sana..


Amar mancari di sekeliling kamar itu tak nampak Berlian disana, Amar hanya menemukan semua barang yang pernah dia dan Bundanya kasih, dan Amar juga melihat cicin pernikahan mereka yang sengaja Berlian kembalikan.


Dan satu hal yang membuat hati Amar teramat salit adalah Amar melihat foto pernikahan dirinya dan Berlian yang telah tersobek..


"Apakah sesakit ini perasaanmu." ucap Amar dalam hatinya..


Bi Ijah mendekati Amar yang sedang duduk di atas ranjang milik Berlian..


"Tuan kenapa Tuan berubah menjadi manusia yang tak punya hati, Bibi sudah menganggap Tuan seperti anak Bibi sendiri jangan sampai Tuan melakukan sebuah kesalahan besar yang akan Tuan sesali dikemudian hari." ucap Bi Ijah sembari menepuk bahu sang majikan...


Amar terdiam sudah setelah mendengar ucapan pengasuhnya..

__ADS_1


"Bi kira kira Lian pergi kemana?" ucap Amar pelan..


"Kalau Bibik tahu Bibik sudah pasti akan menyusulnya." ucap Bi Ijah pelan...


Oh iya Mbk Lian menitipkan surat ini sebelum Mbk Lian pergi.. ucap Bi Ijah sembari memberikan amplop berisi surat dari Berlian..


Dalam surat itu Berlian menuliskan..


Untuk Mas Amar..


Mas maafin Lian jika Lian punya salah terhadapmu dan juga terhadap Ayah dan Bunda, aku tidak melakukan apapun kepada Bunda, namun mau seperti apapun aku menjelaskan kamu juga gak akan pernah percaya.


Aku terima keputusan talak dari kamu Mas, mulai sekarang aku sebagai istrimu membebaskanmu dari tanggung jawabmu terhadapku. Masalah surat cerai secepatnya aku akan mengurusnya, dan Mas tenang saja aku enggak akan pernah terlihat lagi, itu janjiku jikalaupun suatu saat kita akan bertemu lagi anggaplah itu sebuah kebetulan..


Jaga dirimu baik baik dan aku titip adikku kepadamu.


Salam Berlian..

__ADS_1


Setelah membaca surat dari Berlian hari Amar kian hancur, seharusnya dia tak menuduh tanpa bukti yang jelas terlebih dahulu, seharusnya dia tak dengan begitu mudahnya mengucapkan kata talak kepada Berlian.


Amar berfikir bahwa semuanya belum terlambat..


__ADS_2