
Berlian dan Graha kini telah menikmati kehidupan baru mereka di Bali.
Hal yang berbeda di alami oleh Amar dan keluarganya, Satu minggu sudah Fani koma dan belum sadarkan diri.
Amar merasa sedih karena berlahan kehilangan orang orang yang dia sayangi..
"Ayo Fan bangun, buka matamu." ucap Amar pelan..
Dibawah alam sadar Fani bermimpi bertemu dengan Ayah Bram, yaitu Ayah Berlian.
Dalam mimpinya Ayah nya kecewa dengan Fani dan berharap untuk segera mencari Berlian dan meminta maaf..
"Ayah.... Ayah..." ucap Fani mulai sadar..
Amar langsung memanggil perawat dan tak lama Dokter Najwa pun datang..
"Wah ini sebuah mukzizat Ibu Fani telah melewati mas kritisnya." ucap Dokter Najwa pelan..
Amar sangat senang mendengar ucapan sang dokter..
"Benarkah Dokter terima kasih Ya Allah." ucap Amar penuh kebahagiaan..
Dokter Najwa mulai memeriksa keadaan Fani dan kini Fani telah mulai bisa membuka matanya.
Fani menangis melihat Amar di sampingnya..
"Hei kamu kenapa menangis?" tanya Amar pelan..
"Maafkan aku Mas." ucap Fani pelan karena kondisinya masih lemah..
"Udah jangan banyak bicara dulu ya." ucap Amar penuh kebahagiaan..
Fani sangat syok ketika mengetahui bahwa bayi yang dikandungnya telah tiada dan Fani juga harus menerima kenyataan bahwa kini rahimnya telah di angkat..
🌿🌿🌿🌿
Beberapa hari kemudian kondisi Fani sudah mulai membaik dan Fani ingin mengatakan sesuatu dan meminta Amar untuk menghubungi semua keluarganya..
__ADS_1
Kini Ayah Wiguna dan Bunda Hesti telah berada di rumah sakit begitu juga Amar dan Bunda Risa.
Fani menangis melihat Ibu mertuanya dan kemudian memegang tangan Bunda Hesti..
"Bunda maafkan Fani Bunda.." ucap Fani dengan deraian airmata..
Bunda Hesti memegang tangan Fani..
"Bunda Fani ikhlas jika Bunda mau memasukan Fani ke penjara, Fani tahu Fani salah telah berniat membunuh kak Lian dan justru Bunda yang harus mengalaminya." ucap Fani dengan deraian airmata.
Amar dan Ayah Wiguna sangat syok mendengar pengakuan Fani, terlebih Bunda Risa yang langsung menampar Fani.
"Fani apa yang telah kamu lakukan?" ucap Bunda Risa dengan marah..
Fani hanya diam saja dan masih saja menangis.
Amar semakin merasa sangat bersalah kepada Berlian, karena ulah Fani Berlian yang harus mengalami sakitnya di rendahkan dan dihina.
"Kenapa kamu melakukan ini kepadaku Fani kenapa?" ucap Amar dengan penuh emosi..
Fani hanya diam saja dan kemudian menjelaskan alasannya kenapa Fani sangat membenci Berlian, dan kini Fani benar benar menyesali perbuatannya.
Fani masih menangis dan meminta maaf kepada Amar namun Amar diam tak berkata apa apa.
"Mas Amar aku mau kita bercerai, carilah kak Berlian dan kembalilah kepadanya?" ucap Fani dengan tatapan yang sayu..
Amar kaget mendengar ucapan Fani..
"Apa Cerai?" ucap Amar pelan..
Fani menarik nafas panjang dan kemudian mengucapkan kata yang dia rahasiakan..
"Mas Amar maafkan Fani jika selama ini Fani telah menipumu atas kehamilan Fani, jujur anak yang Fani kandung itu bukanlah anak kamu Mas." ucap Fani sembari menunduk..
Bagai di sambar petir di siang hari.. Semua orang merasa terpukul atas pengakuan Fani..
"Dengan dasar apa kamu membodohiku Fani?" ucap Amar sembari menahan emosi di jiwanya..
__ADS_1
"Maafkan aku Mas, aku tahu aku salah dan aku menerima apapun keputusanmu Mas." ucap Fani pelan..
"Baiklah mulai sekarang aku jatuhkan talak tigaku atas kamu Fani, dan mulai sekarang kamu sudah bukan istriku lagi dan aku harap kamu mengerti maksudku." ucap Amar dengan penuh emosi..
Airmata Fani mengalir membasahi kedua pipi mulusnya dia mengingat ucapan Amar kepada Berlian beberapa bulan yang lalu ternyata ini sangatlah menyakitkan..
Bunda Risa menangis merasa sangat kecewa dengan sikap dan perbuatan Fani yang membuat aib keluarganya..
Ayah Wiguna kini menyesali perbuatannya kepada Berlian dan untuk kali kedua Ayah Wiguna harus menjadi saksi bahwa Amar telah menjatuhkan talak'nya kepada Fani..
Amar pergi dengan perasaan yang sangat hancur.
Amar berteriak dengan kencangnya..
"Ya Allah kenapa nasibku seperti ini..." teriak Amar dengan kencang sembari menangis.
Lian kamu dimana aku membutuhkan mu, maafkan aku Lian.ucap amar kemudian..
Amar sangat kecewa setelah mendengar pengakuan Fani, ternyata dia hanya diperdaya oleh wajah polos Fani. Bunda Hesti menyusul Amar yang kini berada dia atas gedung rumah sakit.
"Amar anakku tenagkanlah dirimu.." ucap Bunda Hesti pelan..
Amar berlari dan kemudian memeluk sang Bunda..
"Bunda kenapa semua ini menyakitkan Bunga, kenapa?" tanya Amar sembari memeluk sang Bunda..
"Bunda mengerti sayang, tapi mau bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur Amar, kamu yang telah membuat masalah itu sendiri dan sekarang carilah Berlian dan minta maaflah, Bunda sangat yakin Berlian pasti akan memaafkanmu." ucap Bunda Hesti mencoba menenangkan Amar..
Sementara itu Fani merasa hidupnya telah benar benar hancur kini Fani merasakan apa yang kakaknya rasakan.
"Kak Lian maafkan Fani, Fani tahu Fani salah." ucap Fani disela isak tangisnya.
Bunda Risa sangat kecewa dengan tindakan Fani.
"Fani Bunda gak menyangka kamu bisa melakukan hal sekeji itu, hanya karena kamu membenci Berlian kamu melakukan segala cara untuk menyakitinya dan lihatlah buah dari perbuatanmu, kamu sendiri yang sengsara."ucap Bunda Risa dengan kesal..
Fani turun dari tempat tidurnya lalu melepaskan infisnya dengan paksa dan berlari keluar ruangan.
__ADS_1
Fani berlari dan terus berlari, hingga pada akhirnya Fani jatuh dan kembali pingsan..