DERITA ISTRI PERTAMA

DERITA ISTRI PERTAMA
Bab 88_s2


__ADS_3

Di tempat yang berbeda Bunda Hesti telah sampai di butiknya, dan Bunda Hesti berencana untuk mengunjungi Opa Rahman untuk meminta maaf.


Pada jam makan siang, Bunda Hesti telah sampai di kediaman Prawira.


Berlian kaget melihat kedatangan Bunda Hesti yang tiba tiba tanpa memberinya kabar terlebih dahulu..


"Assalamualaikum" ucap Bunda Hesti ketika sampai di depan pintu utama..


"Waalaikumsalam" ucap seorang Art yang kemudian membukakan pintu..


Art itu merasa bingung melihat Bunda Hesti karena dirinya masih baru bekerja di rumah itu.


"Maaf mau bertemu siapa?" tanya Art itu dengan sopan.


"Maaf Ibu Berliannya ada? Tolong bilang saya Hesti ingin menemuinya?" ucap Bunda Hesti sembari tersenyum ramah..


"Baik tunggu sebentar." ucap Sang Art lalu pergi meninggalkan Bunda Hesti masih didepan pintu..


Tak lama setelah itu Berlian keluar setelah mendapatkan informasi bahwa ada Bunda Hesti yang hendak menemuinya.


Berlian turun dari kamarnya kemudian menuju ruang tamu untuk menemui sang Bunda..


"Assalamualaikum sayang." ucap Bunda Hesti ketika melihat Berlian datang bersama baby Aya..


Wah Cucu Nenek cantik sekali."ucap Bunda Hesti kemudian..


"Wa'alaikum salam Bunda,Iya Nenek Aya baru bangun tidur." ucap Berlian menirukan suara khas anak kecil..

__ADS_1


Berlian pun mencium tangan Bunda Hesti walaupun anaknya pernah memberinya luka yang sangat dalam namun tak pernah ada niatan untuk Berlian membenci..


"Bunda apa kabar?" tanya Berlian dengan lembut.


"Bunda sehat sayang.." ucap Bunda Hesti lirih..


Bunda Hesti dipersilahkan untuk duduk dan kemudian mereka pun berbincang sejenak...


"Dimanakah suamimu sayang?" tanya Bunda Hesti sembari tersenyum..


"Mas Gra di rumah sakit Bunda, lagi praktek." ucap Berlian dengan lembut..


Bunda Hesti tersenyum kemudian mengamati di sekitar, seperti mencari sesuatu..


"Lian sayang, dimana Opa Rahman?" tanya Bunda Hesti secara tiba tiba..


"Opa ada di dalam kamarnya Bunda, tadi habis bermain sama Aya, ada apa Bunda?" tanya Berlian mencoba mencari tahu..


Bunda Hesti hanya menggeleng kemudian kembali lagi bercerita..


Ketika Berlian dan Bunda Hesti sedang asik bercerita dari dalam sebuah ruangan keluarlah Opa Rahman dengan memakai tingkat..


"Ada siapa Lian?" tanya Opa Rahman pelan..


Belum mendapatkan jawaban Opa Rahman telah terkejut melihat kehadiran Hesti, wanita yang pernah menyebabkan putrinya menderita.


"Wanita itu mau apa lagi dia kemari." ucap Opa Rahman dalam hati..

__ADS_1


Berlian lalu bangkit dari duduk ya dan membawa sang Opa duduk bersama mereka..


"Sini Opa duduk kita berbincang dengan Bunda Hesti." ucap Berlian dengan tersenyum...


Opa Rahman tak menjawab lalu dia menatap ke arah Bunda Hesti dengan tatapan yang kurang menyenangkan...


"Lian sayang, bisa tolong tinggalkan Bunda sama Opa, Bunda mau bicara penting." ucap Bunda Hesti dengan lembut...


Berlian pun seperti memahami sesuatu, mungkin memeng mereka perlu berbicara..


"Baiklah kalau gitu Lian masuk dulu kasihan juga dede Aya nya udah mau tidur lagi." ucap Berlian sembari berdiri dan kemudian pergi menuju kamarnya.


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Diruang tamu kini tinggal ada Bunda Hesti dan Opa Rahman, keduanya masih saling diam tanpa bersuara.


Tiba tiba Bunda Hesti membuka percakapan..


"Opa Rahman maafkan kesalahan saya, saya tahu saya salah telah merebut Mas Alam dari putrimu. Tapi perlu Opa tahu saya sama sekali tidak mengetahui bahwa Mas Alam telah beristri. Seandainya saya tahu dari awal saya pasti akan menolak pernikahan itu." ucap Bunda Hesti sembari menunduk...


Opa Rahman menatap kearah wanita yang berada di depannya, terlihat jelas dari sorot matanya bahwa dia tak berbohong.. Namun Opa Rahman masih diam.


"Opa saya mohon maafkan kesalahan kami, kesalahan saya dan suami saya yang telah menyakiti putrimu. Kami tahu walau kami meminta maaf seribu kali pun luka dalam hati Opa tak akan hilang, tapi setidaknya itu akan meringankan beban fikiran Opa." ucap Bunda Hesti dengan menunduk...


Opa Rahman hanya menatap lalu tersenyum..


"Apa kamu pikir hanya dengan kata maaf bisa menyembuhkan luka batin putriku? Apa kamu pernah tahu bagaimana aku melihat hari harinya yang begitu menyedihkan?" ucap Opa Rahman dengan lirih..

__ADS_1


Bunda Hesti hanya menunduk tak terasa bulir kristal membasahi kedua pipinya. Hatinya nyeri saat membayangkan bagaimana penderitaan Maheswari kala itu, memang benar memaafkan tidak akan pernah bisa menyembuhkan luka, tapi dengan memaafkan kita bisa mengerti arti keikhlasan...


__ADS_2