
Berlian dan Amar masih saling diam, mereka bermain dengan fikirannya gak masing masing.
"Kamu menuduhku tanpa bukti Mas." ucap Berlian memecahkan suasana...
Amar menatap ke arah Berlian dan tatapan itu membuat jantung Berlian berdetak lebih cepat.
Amar terus memandangi mahluk yang ada di depannya, wanita yang selama ini telah dia sia siakan, wanita yang tak di anggap keberadaannya. Dan entah kenapa hatinya terasa sakit ketika melihat Berlian bersama lelaki lain.
"Kamu itu istriku, jadi aku berhak melarangmu dekat dengan lelaki manapun, karena aku enggak suka melihatnya kamu paham." ucap Amar sedikit keras.
Berlian hanya tersenyum.
"Secara hukum aku memang istrimu Mas, namun apa kamu tahu arti dari sepasang suami istri?" tanya Berlian dengan tatapan yang tak seperti biasanya.
Amar diam setelah mendengar ucapan Berlian dan menundukkan kepalanya.
"Aku tahu, tapi aku enggak mau sampai kamu selingkuh di luar sana, ingat kamu telah punya suami.." ucap Amar tanpa rasa malu...
Berlian tertawa mendengar ucapan Amar...
"Aku masih tahu etika Mas, dan aku tak akan main api jadi Mas Amar tak perlu khawatir." ucap Berlian pelan..
Amar menjadi serba salah, Amar ingin menunjukan bahwa dia telah mencintai Berlian namun lidahnya selalu kelu ketika bertatapan dengan Berlian.
__ADS_1
Berlian kemudian balita dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu kamarnya..
"Jika sudah tak ada yang mau di bicarakan Mas tolong keluar aku mau istirahat." ucap Berlian dengan sopan..
"Dasar wanita gak peka, aku ini suamimu dan aku berhak juga di sini." gerutu Amar dalam hatinya.
Amar berdiri lalu keluar dari kamar Berlian tanpa bersuara..
Setelah Amar pergi, Berlian kembali menangis hatinya perih namun di depan Amar Berlian bersikap sekolah Berlian baik baik saja...
"Kenapa kamu seperti ini Mas? Aku mohon jangan semakin membuatku mencintaimu aku tak sanggup jika harus merasakan sakit ketika aku melepaskanmu suatu hari nanti." ucap Berlian dalam hatinya...
☪️☪️
"Pagi..." ucap Amar yang tiba tiba telah berada di dapur entah darimana datangnya??
Berlian menoleh ke arah belakang, " pagi.." ucap Berlian pelan..
"Bisa minta tolong bikinin kopi?" ucap Amar meminta tolong dengan lembut..
"Iya, tunggu sebentar.." ucap Berlian sembari tersenyum..
Hati Amar merasa tenang melihat senyuman yang Berlian suguhkan di pagi hari..
__ADS_1
"Cantik, kamu sangat cantik.." pelik Amar dalam hatinya.
Tak selang beberapa menit kopi pun telah tersedia, namun Amar masih bermain dengan lamunannya..
"Mas kok bengong?" tanya Berlian sembari menggoyangkan tangan Amar karena dipanggil gak menjawab..
"Iya sayang kenapa?"jawab Amar reflek..
Berlian merasa tersipu malu mendengar panggilan Amar entah itu kebetulan atau memang sengaja..
"Terima kasih." ucap Amar dengan pelan...
Setelah selesai dengan pekerjaannya Berlian pun bersiap untuk pergi ke butik, tidak banyak tiba ponselnya berdering..
"Assalamu'alaikum iya Zan kenapa?" jawab Berlian pelan.
"Waalaikumsalam, Lian aku jemput kamu ya ada yang mau aku omongin." ucap Fauzan dengan suara yang agar serak..
Berlian berfikir sejenak, di rumah masih ada Amar mana mungkin dia pergi bersama dengan Fauzan.
"Baiklah, tapi jemputnya di persimpangan saja jangan ke rumah. Ada Bunda aku gak enak." jawab Berlian sedikit berbohong...
"Baiklah.. 20 menit lagi aku sampai.." ucap Fauzan kemudian menutup telfonnya...
__ADS_1