DERITA ISTRI PERTAMA

DERITA ISTRI PERTAMA
Bab 89_s2


__ADS_3

Bunda Hesti sangat mengerti perasaan Opa Rahman, Dan Bunda Hesti pun sampai memohon untuk di maafkan, namun kendati demikian hati Opa Rahman masih belum menerima dengan perlakuan Alam dan keluarganya.


"Kamu pulanglah, saya cape saya perlu istirahat." ucap Opa Rahman kemudian bangkit dari duduknya dan pergi..


Sementara itu Bunda Hesti hanya menatap ke arah punggung Opa Rahman, tak terasa buliran airmatanya kian membanjiri kedua sudut matanya..


Langkah Opa Rahman terhenti setelah mendengar isak tangis Bunda Hesti..


Entah mengapa hatinya terasa teriris mendengar tangisan itu, tangisan yang kembali mengingatkannya kepada sosok sang putri Maheswari.


Opa Rahman kembali berbalik badan kemudian mendekati Bunda Hesti yang masih tertunduk sembari menangis..


Opa Rahman menyentuh pundak wanita itu..


"Sudahlah jangan kau menangis, pulanglah." ucap Opa Rahman dengan lembut..


Bunda Hesti pun menoleh kearah sumber suara, dan kemudian bersujud meminta maaf..


"Maafkan aku Opa, maafkan atas kesalahan yang tak pernah aku sengaja. Aku harap Opa bisa berlapang dada memaafkan kami." ucap Bunda Hesti di sela isak tangisnya..


Opa Rahman pun menjadi seketika diam, hatinya tersentuh dengan ketulusan Bunda Hesti namun Opa Rahman masih belum bisa menerima semuanya..

__ADS_1


"Bangunlah jangan kau bersujud seperti ini, meminta ampun lah kamu kepada Allah. Maaf untuk saat ini masih berat rasanya untukku memaafkan perbuatan suamimu yang telah menyakiti putriku sedemikian parahnya." ucap Opa Rahman sembari memegang pundak Bunda Hesti..


Bunda Hesti pun menatap kearah laki laki tua yang sedang berada di hadapannya itu.


"Aku selalu yakin Opa setiap kejadian pasti akan ada hikmahnya, suatu saat nanti Opa pasti akan dengan senang hati memaafkan kami." ucap Bunda Hesti dengan penuh percaya diri..


Opa Rahman hanya tersenyum...


"Alangkah beruntungnya kamu Alam mendapatkan istri seperti dia,." gerutu Opa Rahman dalam hati..


Pulanglah, aku perlu istirahat.ucap Opa Rahman kemudian.


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Dilain tempat, Graha berniat untuk menjenguk Amar kedalam rutan, entah mengapa walaupun Amar adalah mantan suami dari istrinya namun dihatinya tak ada perasaan cemburu ataupun apa, malah justru Graha merasa sangat dekat dengan Amar..


Sesampainya di Rutan, Graha meminta izin untuk menemui Amar dan tak lama setelah itu Amar menemui Graha di ruang besuk..


" Assalamualaikum," ucap Graha ketika melihat Amar telah datang untuk menemuinya..


"Waalaikumsalam, Mas Gra." ucap Amar pelan..

__ADS_1


Graha tersenyum menatap Amar yang telah berada di hadapannya, entah mengapa Graha selalu tenang dan senang berada di dekat Amar.


"Bagaimana kabarmu Mas?" tanya Graha sembari tersenyum..


"Kabarmu baik, bahkan sangat baik. Oh iya bagaimana kabar kalian? Dimana Lian? tanya Amar yang membuat sedikit hati Graha nyeri..


Graha mencoba rileks..


"Lian dirumah Mas. Oh iya Mas Lian sudah melahirkan dan anak kami perempuan." ucap Graha sembari tersenyum..


Amar sangat gembira mendengar kabar bahwa Berlian telah memiliki seorang anak.


"Syukur alhamdulillah kalau gitu. Mana fotonya aku mai lihat putri kalian." ucap Amar pelan..


Entah apa yang mendorong Amar ikut merasakan bahagia mendengar kabar sang mantan istri telah mempunyai anak. Seharusnya dia merasakan sakit namun mungkin kini Amar telah bisa mengikhlaskan Berlian sehingga dirinya pun ikut merasakan kebahagiaan yang Graha dan Berlian rasakan..


Graha menunjukan foto Aya kepada Amar..


"Namanya Cahaya Anastasya." ucap Graha sembari tersenyum..


"Dia sangat cantik, kalian harus menjaga dan membesarkannya dengan sangat baik." ucap Amar sembari tersenyum, hatinya merasakan bahagia menatap wajah cantik Aya...

__ADS_1


__ADS_2