DERITA ISTRI PERTAMA

DERITA ISTRI PERTAMA
Bab 117_s2


__ADS_3

Kini Amar yang masih terbaring di tempat tidurnya pun tersentak oleh kehadiran seorang yang tak asing baginya..


"Lian, kamu kapan datang?" ucap Amar yangelihat Berlian tengah tersenyum kepadanya.


"Mas Amar gak boleh banyak bergerak dulu, kata Mas Gra kamu masih harus banyak istirahat." ucap Berlian sembari tersenyum..


Amar merasa bingung dengan perubahan sikap sang mantan, Amar menjadi merasa bersalah jika mengingat masa yang lamapau..


"Lian,, kemu kesini apa Mas Gra tahu." tanya Amar sembari menatap langit langit ruangan yanv di tempatinya..


Berlian tersenyum..


"Mas Gra tahu Mas, Mas Gra juga yang mengantar Lian kesini. Mas Gra sedang ada pasien dan aku di suruh nya menunggu di sini. Kenapa Mas kok Mas tanya seperti itu?" tanya Berlian dengan sedikit bingung..


Amar menarik nafas panjang kemudian membuangnya secara perlahan..


"Aku enggak mau jika nanti kamu dan Mas Gra salah paham karena kamu menjenguk aku kesini." ucap Amar dengan suara yang pelan..


Berlian mengerti bahwa Amar belum tahu bahwa dirinya kini adalah adik ipar buatnya..


"Mas Gra gak akan marah dia justru senang melihatmu telah membaik Mas." ucap Berlian sembari tersenyum..

__ADS_1


Sementara itu Bunda Hesti menatap keduanya dengan tatapan haru..


"Seandainya mereka masih bersama seperti dulu, mungkin mereka tidak akan memiliki perasaan sungkan seperti sekarang." ucap Bunda Hesti dalam hatinya..


Berlian kemudian duduk mendekati sang Bunda..


"Bunda, Bunda sudah sarapan? Kalau belum biar Lian beliin makanan ya?" tanya Berlian sembari tersenyum..


"Gak usah sayang nanti aja Bunda belum lapar? Oh iya gimana keadaan Opa?" tanya Bunda Hesti dengan sira pelan..


Opa Rahman sendiri sedang berada di luar kamar rawat Amar, Opa Rahman ingin menemui sang cucu yang telah lama dicarinya..


Opa Rahman mengetuk pintu kamar rawat Amar kemudian masuk..


Opa Rahman tak kuasa melihat sang cucu yang masih terbaring lemah..


"Cucuku kamu baik baik saja?" tanya Opa Rahman sembari memeluk Amar dengan erat..


Amar yang merasa bingung dan juga kaget mendapatkan perlakuan dari orang yang tidak dia kenal pun akhirnya angkat bicara..


"Maaf anda siapa? Kenapa peluk peluk saya seperti ini?" jawab Amar sembari berusaha lepas dari pelukan sang Opa..

__ADS_1


Tak lama setelah itu Ayah Wiguna datang bersama Kakek Sandy.


"Dia Opa kamu Mar." jelas Kakek Sandy dengan suara yang lantang..


Amar semakin tak mengerti dengan perkataan sang Kakek.


"Maksud Kakek apa?" tanya Amar pelan..


Kakek Sandy menceritakan semuanya kepada Amar bahwa Opa Rahman dan Graha adalah keluarganya. Graha adalah adiknya..


"Apa jadi Graha itu adikku?" tanya Amar dengan suara yang serak.


"Iya Mar, dia adikmu dulu Ayah pernah menikah dengan seorang wanita bernama Maheswari dia adalah Bunda kandungmu. karena suatu masalah kami terpisah san akhirnya Ayah menikah dengan Bunda Hesti." ucap Ayah Wiguna sedikit memberi penjelasan..


Amar semakin tak mengerti dengan ucapan sang Ayah, setahu Amar, Bundanya Amar ya Bunda Hesti..


"Bukankah Bundaku, Bunda Hesti?" tanya Amar pelan.


Bunda Hesti pun ikut mendekat kemudian memegang tangan sang putra..


Bunda Hesti pun menjelaskan bahwa dirinya bukanlah wanita yang melahirkannya, Bunda Hesti hanyalah wanita yang membesarkan dirinya dengan menyayangi nya dengan segenap jiwa raganya.

__ADS_1


"Maafkan Bunda ya Mar, Bunda memang bukan Bunda kandungmu." ucap Bunda Hesti pelan..


Amar semakin terlihat syok setelah mendengar bahwa dirinya bukanlah anak kandung dari wanita begitu menyayangi dirinya dengan segenap jiwa dan ragaya..


__ADS_2