
Dalam tidurnya Amar bermimpi jika sang Bunda menemui dirinya dan menyuruhnya untuk kembali ketengah tengah mereka yang menyayanginya..
Satu minggu sudah semenjak kecelakaan itu kini tanda tanda kesadaran Amar mulai nampak.
Amar mulai membuka matanya samar samar, Amar melihat sang Bunda Hesti yang dengan setia menungguinya..
"Amar sayang kamu sudah bangun nak." ucap Bunda Hesti dengan penuh kebahagiaan.
"Bunda,, Amar dimana?" tanya Amar dengan sira yang nyaris tak terdengar..
Sang Bunda mendekat lalu menyuruh Amar untuk tenang.
"Sayang, putraku kamu di rumah sakit, satu minggu yang Lalau saat kamu hendak menemui Kakekmu kamu mengalami kecelakaan." terang Bunda Hesti sembari mengusap kepala Amar..
Amar mencoba mengingatnya tapi rasa nyeri di kepalanya membuatnya kesakitan.
"Bunda.. kepala Amar sakit banget.." ucap Amar sembari memegangi kepalanya..
Bunda Hesti panik, namun tak laman setelah itu Graha masuk untuk memeriksa kondisi sang kakak..
Kini Amar telah dipindahkan ke rumah sakit milik Graha.
"Mas Amar kamu kenapa?" ucap Graha sembari mengecek kondisi sang kakak.
Amar merasa ada yang sedikit aneh dari sikap Graha..
"Aku udah gak apa apa kok Mas Graha." ucap Amar pelan..
__ADS_1
Graha menatap kearah sang kakak yang masih berbaring lemah..
"Belum saatnya Mas tahu jika aku adalah adikmu Mas, kita tunggu kondisimu pulih dulu agar Mas tidak syok." ucap Graha dalam hati..
Syukur Alhamdulillah kalau Mas Amar sudah merasa baikan, ya sudah silahkan istirahat dan saya permisi Mas, Bunda Graha mau ngecek pasien lain dulu." ucap Graha kemudian..
Setelah Graha keluar kini Bunda Hesti dan Amar saling diam, Bunda Hesti juga tahu mungkin ini belum saatnya Amar tahu segalanya.
"Ya sudah kan sudah di periksa dokter, sekarang kamu mau makan apa? Biar Bunda beliin." ucap Bunda Hesti mencairkan suasana.
"Amar gak lapar Bunda nanti aja." ucap Amar pelan..
Bunda Hesti pun tersenyum menatap kearah Amar..
"Ya sudah kamu istirahat aja yaa." ucap Bunda Hesti sembari tersenyum..
"Siapa wanita itu? Kenapa dia menyuruhku kembali?" ucap Amar dalam hati...
🌿🌿🌿🌿🌿🌿
Dilain tempat kini Fani telah bersiap intuk mencari pekerjaan, Fani ingin menunjukan bahwa dirinya bisa berguna untuk sang Bunda dan juga sudah tak mau lagi merepotkan siapapun.
Ketika sedang berada di halte bus, Fani melihat seorang anak kecil dan hal itu membuat hatinya teriris.
"Mungkin jika aku bisa memiliki anak mungkin aku akan menjadi wanita paling bahagia."ucap Fani dalam hatinya..
Tak jauh dari tempat Fani menunggu bus, Fani melihat seorang anak lelaki yang nampak sedang kebingungan.
__ADS_1
Fani mendekat kearah sang anak itu kemudian bertanya dengan lembut..
"Adik ganteng kenapa sendirian di sini? Dimana Bunda kamu?" tanya Fani dengan lembut..
Anak itu hanya menatap kearah Fani dengan tatapan bingung..
"Kata Ayah Bunda sudah di syurga." ucap Anak itu sembari menunduk..
Ada sesuatu yang menjalar di sekujur tubuh Fani mendengar bahwa sang Bunda telah di syurga..
"Siapa namamu." tanya Fani pelan..
"Vano Tante." ucap Devano dengan menatap ke arah jalan raya..
"Rumah kamu dimana? Biar Tante anterin ya?" ajak Fani dengan lemah lembut..
Vano menatap kearah Fani kemudian menjabat tangannya..
"Tante cantik namanya siapa?" tanya Fani sembari tersenyum..
"Nama Tante Fania, kamu sudah makan?"ucap Fani sembari menyunggingkan senyuman...
Vano hanya menggeleng kemudian menatap kembali kearah Fani..
"Belum Tante, Vano mau pulang tapi Vano lupa bengkel Ayah dimana? Tadi Vano mengejar kucing tapi sampai sini." ucap Vano dengan raut wajah dipenuhi kesedihan..
Karena merasa iba Fani kemudian memeluk Vano.
__ADS_1
"Ya sudah Tante Fani anterin ya cari bengkel Ayahnya Vano." ucap Fani menenangkan Vano.