How Way Us Fell In Love

How Way Us Fell In Love
101


__ADS_3

"Masih ingat aja Ca," Ucap Juni senang.


"Eh?" Kaget Carisa yang juga terkejut, karena dirinya tadi hanya spontan saja mengatakannya.


"Ehem ehemm" Goda Aurel.


Carisa pun menyikut lengan Aurel, "Diem deh" Bisik Carisa.


"Gimana hubungan kamu sama Risa? Aman kan?" Tanya Carisa tanpa menatap Jino.


"Aduh ini Carisa kenapa malah nanya hubungan Jino sama pelakornya sih," Batin Aurel yang sudah merasakan hawa yang tidak enak.


"3 hari setelahnya, aku putus sama Risa. Aku gak bisa sama Risa, masih ada orang lain yang ngisi disini. Sampai sekarang," Ucap Jino menunjuk pada harinya dan juga menatap Carisa dengan penuh arti.


Carisa melihatnya kok, Carisa melihat Jino yang menunjukka letak hati pria itu. Carisa juga tidak bodoh, dia tahu siapa orang lain yang di maksud Jino yang masih mengisi hari pria di hadapannya ini. Siapa lagi kalau bukan dirinya? Pikir Carisa.


Lagipula ini sudah 4 bulan lamanya semenjak mereka berpisah, seharusnya Jino sudah bisa melupakan Carisa. Sama sepertiny dirinya, yang sudah melupakan Jino dan kembali membuka hatinya untuk Jevano.


"Oh ya? Kalo gitu ceritanya dia gak bakal tega sih, kalo emang beneran ada orang lain di hati kamu. Kamu gak akan tega duain mantan kamu, iya kan Rel?" tanya Carisa tersengum paksa meminta Aurel untuk mengiyakan saja pertanyaannya.


"Hah? Aaa.. iya kamu bener," Jawab Aurel canggung.


"Tapi dia salah paham, yang di foto itu gak sepenuhnya bener Ca. Dia juga gak mau dengarin dulu penjelasan dari aku, dan ngeblokir semua akses aku ke dia" Jelas Jino.


Aurel merasa dirinya tidak berada di saat pembicaraan mereka saat ini, "Leon mana sih, lama banget sih ah!" Omel Aurel dalam hati.


...🙏🏻🙏🏻🙏🏻...


"Gimana Jev?" Tanya Deri pada anaknya soal perkembangan hubungannya dengan Carisa.


"Apanya Pa?" Tanya Jevano.

__ADS_1


"Kamu sama Carisa lah," Jawab Deri.


"Jevano denah Carisa udah gak sinisin Jevano lagi Pa," Kekeh Jevano. "Tapi Jevano masih belum siap ngaish tahu Carisa, kalo Jevano udah ingat semuanya" Jelas Jevano sambil menatap pancingannya.


"Loh? Memangnya Carisa selama ini sinisin kamu?" Tanya Deri. "Sinisin gimana? Kayak gak mau dekat-dekat sama kamu?" Tanya Deri membuat Jevano menganggukkan kepalanya sendu.


Deri pun menghela nafasnya kasar, "Ya Papa juga masih kesal sama perlakukan kamu ke Carisa. Bikin Papa mau aja, makanya jangan macam-macam lagi deh mana belum halal lagi." Omel Deri.


"Iya Pa Maaf,"


"Itu Carisa trauma sama apa yang udah kamu lakuin ke dia dulu Jev, kamu juga sih masih kecil jugak an berani banget. Tapi mau gimana lagi udah kejadian, tapi di satu sisi Papa sama Mama bangga sama kamu Jev. Kamu mau tanggung jawab atas apa yang udah kamu lakukan," Ucap Deri menyemangati anaknya.


Jevano pun tertunduk malu, binggung harus merespon apa. Rasanya Jevano ingin menangis saja, karena sudah mengecewakan orang tuanya dan banyak orang.


"Itu sebenarnya cara Carisa buat ngelindungi diri dia dari kamu nak, Carisa cuma gak mau itu terulang lagi. Jadi Papa minta kamu selama tunangan nanti dengan Carisa sampai kalian sah menjadi suami istri, kamu harus tahan dulu nafsu kamu itu dulu oke?" Ucap Deri membuat Jevano menganggukkan kepalanya menurut.


"Jangan terbawa suasana, kamu harus masih sekolah. Dengar?" Nasehat Deri membuat Jevano kembali menganggukkan kepalanya menurut.


"Jadi mulai sekarang, jangan aneh-aneh lagi. Biasakan pulang ke rumah sebelum jam 12 malam. Jangan sering ke bar lagi, Mama sama Papa tahu. Jangan ikut balapan liar lagi, kamu udah rasain sendiri kan akibatnya? Papa sama Mama sayang sama kamu nak, makanya kamu ngelarang kamu ini itu yang menurut kami itu gan baik."


"Coba kalo itu hal yang baik, ada gak Mama sama Papa larang kamu?" Tanya Deri.


Jevano pun menggeleng-gelengkan kepalanya tertunduk dan menangis, "Engga Pa" Jawabnya.


"Nah maka itu dia, Papa mohon ya nak. Kamu tinggalkan semua kebiasaan burun kamu itu, ini semua untuk kamu juga nanti kedepannya" Nasehat Deri.


"Iya Pa, maafin Jevano" Jawab Jevano.


"Bagus, mulai sekarang Papa sama Mama bantu kamu, tuntun kamu, tuntun anak Papa satu-satunya untuk menjadi yang lebih baik lagi untuk kedepannya. Kamh ini sudah beranjak dewasa nak, juga udah sewajarnya saatnya kamu mulai dari sekarang untuk belajar memanajemen waktu kamu."


"Supaya nanti itu menjadi bahan untuk kamu, mengatur manajemen perusahaan kita. Kamu bisa bilang sama Papa Mama, apa yang pengen kamu lakuin ke depannya. Papa sama Mama gak maksa kamu buat pimpin perusahaan kalo kamu hatinya tidak kesitu, Papa sama Mama pasti bakal dukung kamu apapun itu asal itu hal positif yang bermanfaat buat kamu sendiri Jev" Jelas Deri panjang lebar.

__ADS_1


...🙏🏻🙏🏻🙏🏻...


Hari ini Jevano sudah mulai berani untuk membawa kendaraan ke sekolah, ataupun Tiara dan Deri sangat keberatan soal itu. Tiara juga melarang keras jevano untuk menaiki motor untuk saat ini, dan hanya mengizinkan Jevano untuk membawa mobil saja.


Sebenarnya motor Jevano juga sudah tidak layak pakai lagi, karena bagian depannya sudah hancur. Tadinya juga Jevano. mau memakai motor matic yang ada di rumah saja, tapi tetap saja Tiara dan Deri melarang Jevano.


"Aaaa Ma Pa... kalo naik mobil Jevano terlambat, ini aja udah jam berapa. Belum manasin mobil lagi, belum macetnya, gak bisa nyalip" Gerutunya.


"Gak, gak ada. Pilih naik mobil, atau gak sama sekali. Kamu bernagkatnya sama supir," Ucap Tiara tegas.


"Pa..." Rengeknya.


"Ya udah pergi sekarang, biar gak telat" Titah Deri.


"Yaudah dehhh" Ucap Jevano langsung pergi ke bagasi mobil untuk memanaskan mesin mobil terlebih dahulu.


Ohiya, hari ini Jevano tidak menjemput Carisa. Karena Carisa tidak ingin, dan melarang Jevano. Carisa takut kalau nantinya ada apa-apa dengan Jevano, saat menuju ke rumahnya.


Apalagi Carisa masih belum tahu kalau ingatan Jevano sudah kembali, hingga Carisa berpikir nanti Jevano akan lupa jalan menuju ke rumahnya.


Tadi pagi keduanya sempat ribut sebentar, tetapi Jevano pun akhirnya memilih untuk mengalah saja.


"Ma Pa Jevano pamit" Ucap Jevano menyalami kedua tangan orang tuanya.


"Iya hati-hati kamu, jangan ngebut-ngebut" Peringat Deri.


"Iya Pa..." Jawabnya.


"Kalo ada apa-apa di jalan telepon Mama sama Papa cepat" Tambah Tiara.


"Astaga... Ma Pa Jevano bukan anak SD" Ucapnya kesal.

__ADS_1


"Yaudah sana hati-hati," Ucap Tiara.


__ADS_2