
DUAR!
"Aaaaaaaaa!" Pekik Carisa lagi-lagi dan menutup kupingnya rapat-rapat dan maracau tidak jelas.
Oke mungkin Jevano sedikit mengerti, menurutnya itu mungkin Karana petir. Tapi apa mungkin? Pikirnya.
Dengan secepat kilat Jevano pun langsung membawa Carisa ke dalam pelukannya, dan memakaikan earphone milik ya pada kuping Carisa. Dan memutarkan sebuah lagu, serta menaikkan volume dari musik itu.
setelah beberapa menit, Jevano pun menghela nafasnya lega. Karena dirinya sudah tidak mendengar racun aneh yang keluar dari mulut Carisa, yang Jevano dengar hanya lah isakan tangisan gadis itu.
Gadis itu juga meremas ujung kemeja Jevano, untuk menghilangkan rasa takut dan kekhawatiran dirinya. Di saat Jevano merasa Carisa sudah lebih baik, Jevano pun melepaskan pelukannya pada Carisa.
"Ca? Kenapa?" Tanya Jevano memegangi bahu Carisa dan menatap gadis itu dalam.
Carisa pun meneteskan air matanya, hingga membuat Jevano binggung namun tetap mengelap air mata gadis itu. "Kenapa hm?" Tanya Jevano lembut.
Carisa pun menggelengkan kepalanya, "Jev aku takut... petir itu... dia datang lagi... hujan... aku gak bisa aku takut... hiks... petirnya sama yang kayak aku lihat dulu... hiks..." Isak Carisa.
Jevano pun menghela nafasnya tak mengerti maksud ucapan Carisa, lantas Jevano pun memilih untuk menenangkan gadis itu lagi, dan kembali membawa Carisa masuk ke dalam dekapan hangatnya.
"it's okey Ca, aku disini. Jangan takut..." Ucap Jevano dan Carisa pun hanya terisak tidak merespon ucapan Jevano.
Hujan pun mulai reda, hingga membuat Carisa terlelap di dekapan Jevano. Karena Jevano sudah tidak mendengar isakan dari Carisa, Jevano pun melepaskan pelukannya perlahan saat mengetahui Carisa sudah tertidur pulas.
Lantas Jevano pun merebahkan badan Carisa di tempat tidur miliknya, dan menyelimuti gadis itu.
Setelahnya Jevano pun melihat ponsel Carisa, yang spertinya tidak sengaja di lempar gadis itu ke lantai karena panik. Lantas Jevano mengambil ponsel itu, dan yang benar saja. Ponsel Carisa pecah, dan terdapat warna hijau di layarnya.
Kalau menurut Jevano, ponsel itu sudah tidak layak pakai pikirnya.
Jevano pun merasa aneh dan membuka ponselnya untuk mencari sesuatu yang ingin di ketahuinya. Jevano pun membuka google, untuk mencari apa penyebab Carisa seperti itu.
Apa itu karena phobia hujan? Emangnya ada? Pikir Jevano.
__ADS_1
"Ombrophobia adalah ketakutan tidak rasional terhadap hujan dan gerimis. Hal ini bisa terjadi cedera akibat hujan, atau mengalami kecelakaan akibat hujan kehilangan harta benda ataukehilangan orang yang di cintai akibat hujan?" Baca Jevano tak yakin di google.
"Carisa ngalami salah satu dari ini?" Gumam Jevano dan kembali mencari belajar atau hal apa saja yang di derita eh penderita dan cara mengatasinya.
Dari apa yang Jevano lihat tadi, Carisa menunjukkan semua gelaja yang di bacanya di website yang di bukanya. Lantas untuk memastikannya, Jevano pun lebih memilih untuk menelepon Mama nya saja.
Drtt drtt drtt
"Halo? Udah pulang kamu?" Tanya Tiara di telepon.
"Udah kok Ma," Jawab Jevano.
"Bagus deh, Carisa mana? Udah tidur?" Tanya tiara
"Kok Mama tahu? Iya dia baru aja tidur" Jawab Jevano.
"Iya dong, apasih yang gak Mama tahu?" Bangga Tiara saat tebakannya benar.
"Iya deh Ma iya, Ma Jevano mau nanya deh sama Mama" Ucap Jevano.
"Ma... Carisa takut hujan?" Tanya Jevano.
Tiara pun mengehentikan aktifitasnya sejenak, hingga dirinya tersadar dan langsung bangkit dari kursinya. "Astaga! Jevano! Mama lupa! Tadi... aduh gimana? Carisa nya sekarang gimana? Baik-baik aja kan? Gak berontak kan?" Tanya Tiara bertubi-tubi khawatir.
"Udah tidur kok Ma, hujannya juga udah berhenti" Nss Jevano. "Kenapa sih Ma?" Tanya Jevano.
Flashback on
Saat itu Carisa baru saja pulang dari kelas tambahannya, atau dengan bahasa kerennya yang sering kita sebut adalah les. Carisa pulang sekitar jam 4 sore, saat itu Carisa masih berumur 9 tahun dan masih duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar (SD).
"Yahh hujan..." Lirih Carisa saat dirinya baru saja keluar dari gerbang sekolahnya, karena ingin menunggu jemputan dari orang tuanya yang belum kunjung datang.
Karena hari ini, Carisa pulang lebih cepat dari biasanya. Carisa tidak membawa ponselnya, hingga dirinya tidak bisa menghubungi orang tuanya kalau dirinya pulang cepat hari ini.
__ADS_1
Carisa pun mencari tempat yang kiranya bisa di tempatinya untuk berteduh, untuk menghindari rintikan hujan yang mulai membasahi kepalanya.
Carisa pun berdiri di samping seorang gadis yang sedang menggenggam payungnya, mungkin menurut Carisa umurnya sekitar 20 tahun. Melihat dari gaya stylish nya, dan juga tinggi badannya serta wajahnya yang sudah terlihat dewasa bagi Carisa.
Carisa pun merasakan bahunya yang sedikit basah, lalu mendekatkan dirinya pada gadis yang sedang menggenggam payung itu.
"Kamu mau pakai payung Kakak gak?" Tanga gadis itu.
"Kalo aku gabung satu payung sama Kakak boleh gak Kak? Bentar aja kok Kak, bentar lagi Mama atau Papa aku pasti udah jemput kok" Jelas Carisa meminta izin.
"Gak usah kamu pinjam, nih buat kamu aja" Ucap gadis itu memberikan bayungnya pada Carisa.
"Loh? Kakak gimana?" Tanya Carisa binggung.
"Kakak mau main hujan, lagian rumah Kakak dekat kok. Udah lama juga gak main hujan, nih ambil aja" Ucap Gadis itu lagi-lagi memberikan payung miliknya pada Carisa.
"Serius gak papa Kak? Nanti Kaka sakit loh main hujan," Jawab Carisa.
"Iya gak papa, Kakak gak bakal sakit kalo main hujan kayak gini. Kamu jaga diri baik-baik ya, happy always!" Ucap gadis itu ramah meninggalkan Carisa dengan wajah tersenyum.
Baru saja gadis itu berjalan menjauh, dan tentu saja masih menatap Carisa dengan tatapan ramahnya dan juga Carisa juga tentu saja menatap bahagia pada gadis itu. Karena terlihat sangat bahagia, saat berjalan di jalan yang di penuhi rintikan hujan yang cukup deras.
DUAR!
Carisa langsung melebarkan matanya terkejut, hingga payung itu terlepas dari genggamnya. Carisa pun berjalan mundur karena takut, Carisa melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana gadis yang baik hati itu tersambar petir. Dan tergeletak di pinggir jalan dengan badan yang menghitam? Bahkan hingga kejang-kejang.
Kaki Carisa rasanya melemas, apalagi beberapa saat kemudian banyak orang yang berdatangan untuk menolong gadisbitu. Carisa pun menggeleng-gelengkan kepalanya, dan berakhir tak sadar diri.
Carisa berpikir, kalau saja Carisa tidak menerima tawaran gadis itu atau bahkan mencegah gadis baik hati itu untuk main hujan. Mungkin Kakak itu pasti tidak akan tersambar petir, tepat di hadapannya.
Carisa masih merasa bersalah akan kejadian itu, dan menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang sudah terjadi.
Carisa takut, takut pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Flashback off