
"Gak ada sekolah, gak ada hp, gak ada laptop, gak ada keluar rumah! Dengar itu!" Ucap Saka langsung menarik ayu keluar dari kamar Carisa dan membanting pintu Carisa.
Tidak lupa, untuk mengunci pintu kamar putrinya.
Duar!
Saka pun menutup pintu Carisa dengan membanting, tidak lupa mengunci pintu kamar Carisa dari luar.
"Hiks... sekarang Papa sama Mama udah tahu, aku harus gimana hiks..." Isak Carisa menangis di dalam kamarnya, dan menekuk kedua lututnya.
Carisa pun menyimpan wajahnya di tumpuan lututnya, dan menangis dalam diam hingga tanpa sadar gadis itu pun tertidur.
...🐈⬛🐈⬛🐈⬛...
"Vano udah bangun kamu?" Tanya Reno yang masih setia berada di kamar inap Jevano.
Sedangkan Haris sedang mencari makanan bersama Naufal keluar, sambil mengantar Rina pulang. Ketiganya sudah berencana untuk menginap di ruang sakit malam ini, Karana lagi lupa besok adalah hari Minggu.
Dan mereka juga sudah mendapatkan izin dari orang tua mereka masing-masing, untuk menjaga Jevano malam ini.
"Carisa mana?" Tanya Jevano langsung menanyakan keberadaan Carisa.
"Dia udah pulang Jev, tadi Carisa balik apa dokter gak lama keluar dari ruang UGD" Jelas Reno benar adanya.
Jevano pun menghela nafasnya kasar, dan menurunkan padangannya ke bawah. "Kamu kayaknya memang udah beneran suka ya sama Carisa? Bukan kamu jadiin untuk pelampiasan supaya lupa sama Yura kan?" Tanya Jevano.
"Aku gak tau Ren, aku masih belum yakin sama perasaan aku. Tapi setiap aku lagi sama Carisa aku nyaman, aku lupa sama Yura" Jawab Jevano.
Reno pun menghela nafasnya pasrah, "Kalo gak suka mana mungkin kamu sampai ngelakuin itu ke Carisa Vano" Jelas Reno.
"Carisa juga ngelakuin itu kepaksa, udah pasti dia gak suka sama aku. Dia juga kelihatannya benci banget sama aku Ren, pas aku datang aja dia gak mau keluar kamar. Dia gak mau lihat aku lagi," Ungkap Jevano sedih.
Ceklek
Pintu kamar inap Jevano baru saja terbuka, dan betapa terkejutnya Reno apalagi jegano. Saat melihat Ayu, Mama Carisa yang mengunjungi Jevano di rumah sakit.
__ADS_1
"Tante..." Lirih Jevano.
Ayu pun tersenyum ramah, lalu menutup pintu kamar inap Jevano. Lalu menghampiri Jevano dan juga Reno yang di kenalnya, beberapa waktu yang lalu.
"Gimana? Udah mendingan? Tante dengar dari Mama kamu, kamu lagi sakit? Mama kamu tadi minta tolong buatin sop ayam Jev, nanti di makan ya?" Ucap Ayu tanpa basa-basi dan langsung meletakkan rantang itu di atas meja.
"M... makasih Tante," Jawab Jevano gugup.
"Duduk Tante," Ucap Reno memberikan kursi duduk pada Ayu.
"Makasih ya Reno," Ucap Ayu lalu duduk di kursi duduk tersebut.
"Udah mendingan Jev?" Tanya Ayu khawatir.
"Iya Tante, lumayan kok. Udah gak terlalu pusing," Jawab Jevano seadanya.
"Ohiya Jev, Reno tadi Carisa memang kemari? Kalian udah baikan kan?" Tanya Ayu.
"Iya Tante, tadi Carisa kemari jenguk Jevano" Bohong Reno membuat Jevano menatap Reno dan menaikkan alisnya, lalu Reno pun menggeleng-gelengkan kepalanya kecil dan mengisyaratkan pada Jevano untuk tetap diam saja.
...🐈⬛🐈⬛🐈⬛...
Tok tok tok
"Non?"
Ceklek.
Asisten rumah tangga itu pun masuk, dan melihat Carisa yang sedang berbaring di atas tempat tidurnya. Menghadap jendela kamarnya, yang di biarkan gordennya terbuka dan menujukkan rumah yang berada di depan rumahnya.
"Non ini sarapannya di makan dulu," Ucap asisten rumah tangga itu.
Sudah hampir seminggu lamanya Carisa di kurung oleh Papa nya di kamar, dan hanya di beri makan saja. Namun Carisa tak kunjung mengatakan apapun, hingga membuat Papa nya itu geram sendiri pada anak semata wayangnya itu.
Jevano? Jevano tidak tahu soal ini, namun Jevano hari sudah keluar dari rumah sakit dan akan istirahat di rumah dengan pantauan seorang dokter pribadi kepercayaan keluarganya.
__ADS_1
Tidak ada seorang pun yang membahas soal Carisa pada Jevano, sembako Ayu Mama Carisa datang menjenguk Jevano 4 hari yang lalu.
"Ah iya, Jevano juga masih tahu soal kehamilan Carisa. Jevano hanya percaya kalau Carisa ke dokter kandungan, karena untuk memeriksa sirklus datang bulannya yang tidak beraturan.
Setelah meletakkan nampan berisi sarapan untuk Carisa, asisten rumah tangga itu pun keluar dari kamarnya. Carisa pun bangkit dari tidurnya dan membawa makanan itu lagi ke toilet, dan membuangnya seolah-olah dirinya sudah memakan semua makanan itu.
Carisa pun melihat pada cctv yang tedapat di sudut dinding kamarnya, dan menatap sini pada cctv itu. Carisa tahu, pasti dirinya sedang di awasi.
Carisa pun membuang wajahnya kesal dan muak, lalu kembali ke tempat tidurnya.
Sudah terhitung 4 hari Carisa tidak memakan apapun selain minum, lapar? Tentu saja.
Ceklek
Dapat Carisa tebak dari suara langkah kaki itu, pasti adalah langkah kaki Papanya Saka. "Carisa," Panggil Saka lalu duduk di tepi pinggir kasur.
Bahu Carisa tampak bergetar, "Pa... Carisa mau lanjutin sekolah ke luar negeri, Carisa mau sembunyiin anak ini. Carisa gak mau nyerah sama mimpi Carisa, yang udah Carisa siapin Pa... Carisa gak mau cowo itu harus bertanggung jawab sama anak ini."
"Kalau pun Papa sama izinin Carisa aborsi, Carisa mau" Ucap Caris yang masih setia dengan pendiriannya dan memunggungi Saka.
Saka memejamkan matanya dan menghela nafasnya kasar, "Papa akan kasih izin kamu ke luar negeri tapi jangan aborsi anak itu. Asalkan, kamu masih tahu sama Papa siapa Ayah kandung anak yang kamu kandung itu" Final saka langsung bangkit dari ranjang Carisa dan hendak keluar kamar Carisa.
Carisa pun langsung bangkit dari tidurnya, dengan wajah yang sembab. "Pa tunggu!" Panggil Carisa membuat Saka kembali membalikkan badannya.
Carisa pun memberanikan dirinya, untuk mengatakan pada Saka siapa Ayah kandung dari anak yang sedang di kandungnya saat ini.
"I... iya Carisa mau bilang siapa Ayah anak ini, tapi Papa janji dulu sama Carisa" Ucap Carisa.
"Oke, apa? as you wish sweety. Bilang sama Papa siapa yang udah beraninya nyentuh putri kesayangan Papa?" Tanya Saka lembut.
"Tapi Papa janji dulu, Papa gak akan minta dia tanggung jawab. Dan Carisa pindah ke luar negeri?" Ucap Carisa.
Saka pun mau tak mau, menuruti permintaan putrinya. "Iya, Papa pasti turutin tergantung kondisinya" Jelas Saka.
Carisa pun menghela nafasnya gugup, "I.. iya kalo gitu... Jevano. Ayah dari anak ini Jevano Pa" Ucap Carisa takut.
__ADS_1