How Way Us Fell In Love

How Way Us Fell In Love
76


__ADS_3

"Je... Jevano..." Lirih Carisa. "Kamu..." Ucap Carisa menggantung.


"Kamu siapa?" Tanya Jevano yang memang tidak mengingat Carisa siapa.


Carisa pun meneteskan air matanya untuk sekian kalinya, entah mengapa rasanya sakit sekali rasanya saat Jevano yang ditunggunya untuk sadar itu sama sekali tidak mengingat dirinya siapa.


"Jev, ini aku Carisa. Kamu yakin gak ingat aku?" Tanya Carisa meraih tangan Jevano.


Jevano pun menarik tangannya dari Carisa, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku gak kenal, aku gak tahu aku siapa. Aku gak tahu," Ucap Jevano berusaha mengingat siapa dirinya dan juga Carisa, sambil mengangi kepalanya yang ngilu.


Carisa pun dengan segera menekan tombol darurat, yang berada di pinggir brangkar Jevano. Agar dokter maupun perawat, segera menuju kamar inap Jevano.


"Kamu yakin gak ingat aku? Coba ayo kamu ingat-ingat dulu..." Ucap Carisa memaksa.


Jevano pun memegangi kepalanya sakit, "Agh... aku gak ingat, gak tahu" Ucap Jevano kesakitan.


Ceklek

__ADS_1


Dokter dan beberapa perawat pun masuk, hingga mengalihkan perhatian Carisa pada dokter dan perawat yang baru saja masuk.


"Dok Jevano udah sadar, tapi dia gak ingat sama saya. Jevano juga gak tahu dia siapa Dok" Jelas Carisa.


"Sebentar ya Dek, biar saya periksa dulu" Ucap dokter itu mendekat pada Jevano dan Carisa pun menganggukkan kepalanya.


"Permisi, selamat malam" Sapa dokter itu pada Jevano.


Jevano pun mengerutkan dahinya, "Malam?" Tanyanya.


"Bagaimana perasaan anda?" Tanya dokter itu.


Dokter itu pun tersenyum simpul, "Apa kamu ingat siapa gadis ini?" Tanya dokter itu menunjuk pada Carisa.


Jevano pun menggelengkan kepalanya, "Lalu bagiamana dengan nama kamu? Apa kamu ingat siapa nama kamu?" Tanya dokter itu lagi.


Lagi-lagi jegano pun menggelengkan kepalanya binggung, "Bagiamana dengan orang ini?" Tanya dokter itu menunjukkan foto keluarga Jevano, Tiara dan juga Deri melalui ponsel milik dokter itu.

__ADS_1


"Apa mereka orang tua saya?" Tanya Jevano tak yakin.


Dokter itu pun menganggukkan kepalanya tersenyum ramah, "Iya apa kamu ingat?" Tanya dokter itu lagi.


Jevano pun kembali menggelengkan kepalanya pelan, "Agh..." Ucap Jevano memegangi kepalanya sakit.


"Jangan terlalu di paksa, untuk saat ini istirahat saja dulu. Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk kamu mengingat semuanya," Ucap dokter itu memegangi bahu Jevano agar Jevano merasa tenang.


Setelah mengatakan itu, dokter itu pun mengajak Carisa sedikit berbincang dan meminta Carisa untuk segera menghubungi keluarga Jevano.


"Terima kasih dokter," Ucap Carisa dan dokter itu pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ramah.


Setelah kepergian dokter itu, Carisa pun dengan segera untuk menghubungi keluarga Jevano dan juga kedua orang tuanya serta teman-temannya. Untuk memberitahukan, kalau Jevano sudah sadar.


Setelah menghubungi semuanya, Carisa pun duduk di hadapan Jevano di samping brangkar pria itu. Carisa menundukkan kepalanya canggung, begitu pun juga Jevano. Jevano menatap pada tv yang berada di hadapannya saat ini, dengan perasaan yang canggung pula.


Kalau boleh jujur, sebenarnya Jevano merasa dirinya sangat dekat dengan gadis yang berada di satu ruangan ini bersamanya. Apalagi, orang pertama yang di lihatnya saat bangun adalah Carisa bukan orang tuanya.

__ADS_1


"Em.... aku boleh tahu hubungan aku sama kamu apa?" Tanya Jevano random tiba-tiba.


"Huh?" Tanya Carisa terkejut dan berpikir. "Hubungan kita?" Tanyanya.


__ADS_2