How Way Us Fell In Love

How Way Us Fell In Love
60


__ADS_3

20 Menit Kemudian.


Deri, Tiara dan Jevano baru saja tiba di bandara. Ketiganya pun segara bergegas keluar dari mobil, dan berlari dari parkiran untuk masuk ke dalam bandara.


Namun saat di depan pintu bandara, ketiganya bertemu dengan sekretaris keluarga Leonarka yang memang segaja di minta untuk menunggu Jevano dan keluarganya kalau pun datang.


Dan itu benar terjadi, Saka tidak salah menduga.


"Arya!" Panggil Deri menghampiri Arya diekori oleh Tiara dan juga Jevano.


"Dimana Saka? Carisa? Ayu juga?" Tanya Deri.


Arya pun melirik jam tangannya, "Maaf Pak.mereka udah berangkat dari 12 menit yang lalu," Jawab Arya bohong, lalu mengeluarkan surat dari jasnya dan diberikannya pada Deri.


"Ini titipan dari Nona Carisa untuk Jevano," Ucap Arya memberikan surat itu.


"Bohong!" Ucap Jevano saat melihat Carisa sekilas yang sedang berjalan menuju pintu Check in.


Jevano pun masuk begitu saja ke dalam, tanpa memperdulikan Arya dan juga kedua orang tuanya.Saat ini, yang Jevano pikirkan hanyalah Carisa seorang.


Jevano ingin menahan Carisa untuk segera pergi ke Negera yang entah kemana, dan meminta maaf sebesar-besarnya kepada Carisa. Jevano juga berharap dirinya dapat merubah rencana yang akan di lakukan Carisa, dan kembali padanya.


Jevano pun berlari sebisanya, kalau saja Jevano lari lebih cepat seperti layaknya kereta api yang sedang melaju kencang. Mungkin Jevano pasti akan sempat untuk segera menarik Carisa dari sana, namun apalah daya.


Jevano sudah terlambat, karena Carisa sudah terlebih dahulu masuk pintu check in. Jevano awalnya memaksa untuk masuk, namun dirinya tidak diizinkan karena tidak memiliki tiket pesawat.


"Carisa! Carisa!" Panggil Jevano namun Carisa menulikan telinganya, dengan segaja memakai headset di kepalanya untuk menutupi kupingnya dan mendengarkan musik.


Carisa menghela nafasnya kasar, dan berusaha untuk merelakan semuanya. Tanpa sadar air matanya lolos begitu saja, cairan juga berusaha sekuat tenaga untuk tidak menoleh kebelakang.


Tentu saja, Carisa Takut. Takut kalau dinding tembok yang sudah di bangunnya runtuh, saat melihat Jevano.


"Vano!" Panggil Deri.


"Pa..." Isak Jevano.


Dear Jevano.


Hai?

__ADS_1


Nothing special, makasih udah mau ngerawat aku selagi orang tua aku perjalanan bisnis. Makasih udah mau nemenin aku, sampai masa depan aku benar-benar berantakan. Haha, aku binggung mau nulis apa untuk kamu.


Cuma aku gak bisa, aku binggung gimana perasaan aku ke kamu. Kalau boleh jujur, ya aku suka. But? Aku benci atas apa yang udah kamu lakuin ke aku, oke itu bisa di bilang kita memang sama-sama mau. Tapi di awal, aku udah nahan kamu.


Actually, aku memang benar-benar kepaksa Jev.


Aku gak bisa pertahanin dia, aku mau gugurin anak kamu ini Jev. Aku masih pengen buat nata masa depan aku, masa depan aku masih panjang banget. Maaf, aku udah jahat banget sama anak ini.


Ini aku lakuin yang menurut pandangan aku, orang tua aku yang terbaik untuk kita berdua.


Untuk ke depannya aku minta ke kamu jangan cari-cari aku ya? Mulai sekarang, kita udah gak ada hubungan apa-apa lagi.


Jangan hubungi aku, keluarga ku, bahkan orang terdekat aku sekalipun. Kamu pasti tahu caranya menghargai perasaan orang lain kan?


Terima kasih untuk lukanya, dan segalanya.


^^^Tertanda^^^


^^^Carisa^^^


Jevano menitihkan air matanya, saat membaca surat yang di berikan Carisa untuknya. Sungguh, walaupun singkat tapi hati Jevano merasa sakit saat membaca isi surat itu.


"Jev... Papa sama Mama ngerti gimana perasaan kamu saat ini, tapi ini juga usaha kita untuk ngehargain Carisa dan keluarganya. Mereka minta kita harus jaga privasi mereka Jev," Ucap Deri pada anak semata wayangnya.


"Pa tapi .." Ucap Jevano terdengar putus asa.


"Ca kenapa sayang?" Tanya Ayu khawatir saat memperhatikan putrinya yang sejak tadi memegangi perutnya sakit dan di ikuti dengan wajahnya yang pucat.


"Kenapa Ca?" Tanya Saka khawatir.


Carisa pun menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, dan meremat tanga Saka erat, membuat Saka panik bukan main begitupun juga dengan Ayu.


"Pa ini Carisa kenapa Pa?" Tanya Tiara khawatir.


"Akh..." Ucap Carisa tak tahan.


"Pa! Carisa pendarahan Pa!"Panik Ayu heboh.


"Hah?!" Ucap Saka terkejut saat melihat pada kaki putrinya, dan benar saja di betis Carisa sudah mengalir darah segar.

__ADS_1


"Ma cepat telepon ambulan! Cepat!" Suruh Saka langsung menggendong Carisa dan membawa Carisa keluar dari lapangan bandara.


Saka pun berlari cepat sambil menggendong putri kesayangannya yang sedang menahan sakit teramat sakit itu, "Tahan sebentar ya sayang?" Ucap Saka sambil berlari-lari tergesa-gesa.


Jevano, Deri, Tiara berencana akan segara pulang, dan baru saja hendak keluar dari bandara dengan Deri yang berjalan sambil merangkul Jevano yang terlihat sangat lemas.


Namun langkah kaki ketiganya terhenti, saat melihat ambulan yang baru saja tiba di hadapan mereka. Dahi ketiganya langsung berkerut, saat melihat mobil ambulan itu berhenti tepat di hadapan mereka dan saling bertukar tatap.


Saka dan Ayu yang berlari-lari pun, langsung berteriak untuk memanggil tim medis yang mana Saka masih mengendong Carisa yang sudah tak sadarkan diri.


Hingga membuat Jevano, Deri, dan. juga Ayu menoleh ke belakang. Berapa terkejutnya ketiganya, apalagi melihat Ayu dan Saka yang berlari-lari sambil mengendong Carisa.


Jevano melihatnya! Jevano melihat ada darah yang mengalir di betis Carisa karena Carisa mamakai rok di atas lutut.


Jevano pun berlari untuk mendekat Saka, Ayu melihat itu. Dengan tidak sukanya, Ayu pun menolak Jevano hingga pria itu terjatuh di lantai. Tiara yang melihat itu pun menggerang kesal, saat Ayu menolak Jevano dengan teganya.


Tiara pun langsung berlari pada putranya, dan membantu Jevano untuk bangun dari lantai.


Pa... Ma... itu Carisa kenapa... Ayo kita susul," Panik Jevano.


"Jevano kamu deluan aja! Cepat susul! Kunci mobil sama kan kan?" Tanya Deri membuat Jevano menganggukkan kepalanya pasti.


Papa sama Mama?" Tanya Jevano.


"Kita gampang, cepat susul! Itu ambulannya udah mau gerak!" Titah Deri menyuruh Jevano untuk gerak cepat.


"Ma, Pa makasih. Jevano pamit! maaf!" Ucap Jevano pamit kepada orang tuanya dan meninggal bandara untuk menyusul ambulan itu menuju ke rumah sakit yang akan di tuju.


...🐈‍⬛🐈‍⬛🐈‍⬛...


"Rel," Panggil Leon.


"Carisa gak sekolah ya?" Tanya Leon lagi membuat Aurel menggelengkan kepalanya.


"Emang Carisa sakit apa sih? Parah ya?" Tanya Leon penasaran.


"Gak tau Lin," Jawab Aurel.


"Kita susul ke rumahnya yuk? Pengen jenguk Carisa," Ajak Leon.

__ADS_1


__ADS_2