How Way Us Fell In Love

How Way Us Fell In Love
53


__ADS_3

"Eh mau kemana?" Tanya Haris heboh yang belum menghabiskan makan siangnya.


Karena Reno pergi meninggalkan Haris begitu saja, lantas Haris pun mau tak mau meninggalkan makanannya dan memimilih untuk menyusul sahabatnya itu.


Haris pun tercengang saat melihat Reno yang berhenti di depan pintu ruang kandungan, "Heh ngapain disini??" Tanya Haris mengecilkan suaranya.


"Ris tadi aku lihat Carisa masuk kesini, ngapain ya kira-kira?" Tanya Reno.


"H.. hah? Ca.. Carisa? Carisa yang kita kenal maksud kamu?" Tanya Haris.


Reno pun menganggukkan kepalanya semangat, "Iya Carisa! Carisa loh!" Pekik Reno memelankan suaranya.


"Ah ngaco kamu Ren, ngapain juga si Carisa kesini heh! Ini kan buat ibu-ibu hamil gitu bukan sih?" Tanya Haris yang masih berpikiran positif.


"Ya kamu pikir aja, ngapain anak seusia kita ke dokter kandungan?" Tanya Reno sewot.


"Ayo kita pastiin!" Ucap Haris yang hendak memutar kenop pintu khusus ruang kandungan itu, namun Reno menahan tangan Haris cepat.


"Eh tunggu dulu!" Ucap Reno.


"Lah kenapa Ren?" Yana Haris.


"Ya pelan-pelan lah, gimana kalau nanti Carisa lihat kita disana?" Tanya Reno.


"Ya udah sih, kenapa sih emangnya?" Tanya Haris.


"Ya kamu pikir aja lah Ris! Carisa kan gak tau kalau kita tahu Carisa ituu udah ngapa-ngapain sama Jevano, terus kira cowok! Gak bawa pasangan lagi, ntar aku di kira homo sama kamu buat bayi-bayian!" Ucap Reno ada benarnya juga.


"Dih amit-amit jabang bayi! Terus ini gimana dong?" Tanya Haris.


"Pelan-pelan, jangan sampai muka kamu kelihatan. Ayo beli masker dulu," Ajak Reno menarik tangan Haris.


"Gak Ren tunggu," Ucap Haris menahan tangan Reno yang menariknya. "Kamu aja yang beli maskernya, aku jaga-jaga disini" Ucap Haris.


"Ya udah tunggu sini, jangan gegabah ya tapi!" Seru Reno menarik tangan Haris.


Reno pun pergi meninggalkan Haris, dan memberi masker yang terdapat di kantin rumah sakit yang mereka kunjungi tadi.


Hadis pun menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal, "Ngapain ya Carisa kesini?" Guman Haris pelan.


"Nih pake!" Suruh Reno yang baru saja kembali dari kantin membeli masker.


"Lah kok cepat?" Tanya Haris heran.


"Gak antri tadi soalnya, udah siapin kamera kamu Ris!" Suruh Reno dan lagi-lagi Harus pun hanya menurut saja pada Reno.


"Matiin dulu suara kameranya Ris!" Suruh Reno membuat Haris menganggukkan kepalanya menurut.

__ADS_1


"Mana sih? Gak ada tuh," Tanya Haris yang mengintip di balik pintu.


"Eh itu! Di bangku paling depan! Yang duduk sensian itu Ris! Pake cardigan ping, cepat foto cepat!" Seruh Reno memukul-mukul pelan pundak Haris.


Cekrek


Cekrek


Cekrek


"Eh buset, banyak banget Ris."


"Udah deh, yuk cabut ke kamar inap Jevano" Ajak Haris menarik Reno dan kali ini Reno yang menurut pada Haris.


Keduanya pun langsung segera bergegas menuju ruang inap Jevano, tidak membutuhkan waktu yang lama karena keduanya menaiki lift dan kebetulan lift sedang tidak sampai pada saat itu.


Hingga keduanya dapat mempercepat gerka mereka, setelah keduanya sampai di lantai 6. Lantas, keduanya pun segera menuju ruang inap VVIP milik sahabatnya itu.


Ceklek


"Vano!" Heboh Haris.


"Kenapa sih?" Tanya Naufal.


"Ya ampun ini urgent banget tahu gak!" Heboh Haris menatap Naufal allu mantap Rina, dan tiba-tiba Haris pun. jadi terdiam.


"Em... Rin ini privasi banget, maaf ya kita gak maksud apa-apa kok. Ren kamu bisikin ke Naufal deh," Pinta Haris.


"Apa sih?" Tanya Jevano lemas.


"Carisa di rumah sakit ini, di dokter kandungan" Bisik Reno pelan pada Naufal membuat Naufal terkejut bukan main dan membelalakkan matanya.


"Serius?" Tanya Naufal tak percaya.


Haris pun berjalan mendekati ranjang Jevano, dan menunjukkan foto yang di ambilnya tadi pada Jevano dan tidak memberikan Rina untuk melihat foto itu. Sehingga membuat gadis itu kesal, dan sangat penasaran karena mereka menyembunyikan dengan terang-terangan.


"Rumah sakit? Disini?" Tanya Jevano mengernyitkan dahinya membuat Haris menganggukkan kepalanya.


Haris pun melirik Rina sekilas, dan mendekatkan dirinya pada Jevano. Hendak membisikan sesuatu pada Jevano, "Carisa ke dokter kandungan" Ucap Haris terpotong.


"Apa?! Kalian yakin itu" Ucap Jevano terhenti saat matanya bertemu dengan mata Rina sejenak.


"Cepat Jev, sanggup kan? Selagi Carisa disini, kamu bomah mau tanggung jawab sama perbuatan kamu kan?" Bisik Reno.


"Eh mau ngapain?" Tanya Rina menahan Jevano yang hendak melepas impudnya.


"Awas Rin, jangan halangi aku" Jval ejvank melepaskan tangan Rina paksa.

__ADS_1


"Eh eh kamu gak boleh copot" Ucap Rina di potong Jevano cepat.


"Ini darurat, aku harus keluar sekarang" Ucap Jevano.


"Jev, ayo!" Ajak Haris dengan singgap untuk membantu Jevano berjalan ke lantai 2.


Rina pun hendak menyusul, namun tangannya di tahan oleh Naufal. "Mau kemana?" Tanya Naufal.


"Fal please... aku" Ucap Rina terpotong.


"Kamu masih penasaran sama Jevano? Katanya mau move on, kalo kamu kayak gini caranya gimana?" Tanya Naufal membuat Rina langsung kembali duduk di kursi yang di dudukinya tadi.


"Kamu datang sendirian?" Tanya Dokter itu.


Carisa pun me.gangukkan kepalanya pelan, "Jadi kamu mau cek kehamilan?" Tanya Dokter kandungan itu membuat Carisa menganggukkan kepalanya pelan.


"Udah tes pakai testpack belum?" Tanya Dokter itu lagi.


"Kenapa jadi banyak tanya gini sih, dia gak curiga kan" Batin Carisa.


"Udah Dok," Jawab Carisa.


"Hasilnya?" Tanya Dokter itu.


Carisa pun sedikit menundukkan kepalanya, dan tidak menatap dokter itu. "Hasilnya positif Dok," Jawab Carisa.


"Kamu sudah menikah?" Tanya Dokter itu.


"Boleh lihat status kamu KTP kamu?" Tanya dokter itu curiga mengingat saat melihat daftar formulir Carisa yang masih di bawah umur.


Carisa pun mengigit bibirnya takut, "Belum dok" Jawabnya jujur.


Dokter itu pun sudah menduga dan menghela nafasnya kasar, "Pacar kamu mana?" Tanya Dokter itu.


Carisa pun terdiam, membuat dokter itu jadi merasa sedikit bersalah karena banyak bertanya pada Carisa.


"Ya sudah ayo, mari kita cek" Ajak dokert itu.


Carisa pun dituntun untuk berbaring di tempat tidur itu, dengan perasaan yang sangat gugup. "Disini," Ucap disket itu memegang perut Carisa.


"Ada satu nyawa disini, kamu memang hamil. Usianya sekitar 2 Minggu," Hal disket kandungan itu sambil memperhatikan layar komputer USG.


Jevano pun berlari dengan lemas, menuju ruang kandunga. Karena lift rumah sakit tidak mau terbuka, sehingga mau tidak mau Jevano pun lantas turun menggunakan tangga.


Carisa pun mengigit bibirnya takut, dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Dok tolong saya.. saya gak mau mimpi saya hancur dok, dok... saya mau aborsi sekarang juga tolong" Ucap Carisa terisak.


"Kamu yakin?" Tanya dokter itu kasihan.

__ADS_1


__ADS_2