How Way Us Fell In Love

How Way Us Fell In Love
23


__ADS_3

"No hp kamu dari tadi ada notif banyak banget, kayaknya penting deh" Ucap Rina saat Jevano baru saja kembali memesan makanan dan minuman mereka.


"Oh ya? Makasih Rin," Sahut Jevano langsung mengecek ponselnya.


"Rin," Panggil Jevano.


"Ya?" Sahut Rina. "Kenapa?" Tanya Rina.


"Aku tinggal bentar ya? Aku ke depan dulu, atas nama Jevano" Ucap Jevano memberikan struk antrian makanan mereka.


"O..oh oke" Jawab Rina melihat pada arah tunjuk Jevano, dan tentu saja toko baju.


Rina yakin sekali, kalau Jevano pasti akan membelikan pakaian untuk Carisa.


Menyebalkan sekali, pikir Rina.


Lantas Jevano pun meninggalkan Rina di restoran itu, dan beralih pada toko pakaian yang berada di depan restoran itu. Tidak membutuhkan waktu yang lama, untuk Jevano mencari baju yang menurutnya cocok untuk Carisa.


Jevano pun mengamb baju casual untuk Carisa, apa kalian berpikiran kalau Jevano akan mengambil satu? Tentu saja tidak. Jevano membeli 3 pasang baju dan juga celana, dan nada warnanya juga di pasangkan dengan rok pendek di atas paha.


Jevano sengaja membeli 3 pasang, karena takut nuna nanti selera Carisa tidak sama dengan seleranya. Jevano pikir nanti biar Carisa sendiri yang memilih pakaian mana yang di sukainya, dan di pakainya nanti.


Hitung-hitung ucapan maaf Jevano pada Carisa.


Tunggu,


Kenapa Jevano harus minta maaf pada Carisa? Atau merasa bersalah pada Carisa? Apa karena meninggalkan gadis itu di rumahnya?


Oh ayolah, padahal Vaidaa sndiri yang mau untuk ikut ke rumahnya tadi.


Setelah Jevano membayar pakaian tersebut, barulah Jevano kembali ke restoran yang di kunjunginya bersama Rina.


"Lama ya? Maaf ya, kenapa kamu gak makan deluan aja? Aku gak papa kok," Ucap Jevano saat Rina belum menyentuh makanannya sama sekali.


"Gak kok, santai aja. Aku nunggu kamu dulu," Sahut Rina.


"Eh ngapain nungguin aku segala sih, ya udah ayo makan. Katanya tadi kamu lapar," Ucap Jevano langsung mencicipi makanan yang di pesannya.


"Eh bentar, aku mau telepon Carisa dulu" Ucap Jevano membuat Rina diam dengan perasaan cemburu setengah mati.

__ADS_1


Drtt drtt drtt


"Halo Jevano?!" Pekik Carisa.


"Halo? Ca? Mama udah pergi?" Tanya Jevano sambil menyuapi makanannya ke dalam mulutnya sendiri.


"Udah... beberapa menit yang lalu mungkin?" Ucap Carisa tak yakin.


"Kamu mau aku bawain apa? Ada yang mau di titip in? Makanan atau minuman? Aku mau balik nih," Tawar Jevano.


"Hmm.. aku bawain apa aja boleh deh, aku juga agak lapar hehehe" Jawab Carisa.


"Belum makan?" Tanya Jevano. "Kenapa gak ke bawah?" Tanya Jevano lagi.


Muak, muak sekali rasanya. Rina sangat ingin menangis sekarang saat melihat Jevano yang sedang menaruh perhatian berlebih pada Carisa, dan membuat Carisa seolah-olah menjadi pacar Jevano.


"Nanti aja, aku lagi malas turun lagi rebahan" Jawab Carisa benar adanya, akan sekarang pun dia sedang menajwab telepon dari Jevano sambil rebahan di atas kasur milik pria itu.


DUAR!


"Aaaaaaaaaa!" Pekik Carisa teriak saat mendengar suara petir dengan kilat yang terlihat sangat jelas di jendela besar kamar Jevano.


"Ca? Halo? Kenapa Ca? Ca? Carisa?!" Panggil Jevano.


"Kenapa No?" Tanya Rina panik saat mendengar suara teriakan Jevano, padahal Jevano tidak menyalakan mode speakernya.


Tapi Rina dapat mendengar teriakan Carisa, sangking kerasnya teriakan Carisa sampai Rina pun ikut mendengar teriakan gadis itu.


"Gak tau ini Carisa tiba-tiba teriak," Panik Jevano dan khawatir.


"Halo? Ca?" Panggil Jevano lagi.


Lantas Jevano pun mematikan panggilan itu, dan kembali menelepon Carisa. Namun panggilan itu tidak di jawab oleh Carisa, hingga semakin membuat Jevano khawatir bukan main.


"Rin kayaknya aku harus bakin sekarang deh, maaf ya? Aku takut Carisa kenapa-kenapa di rumah, soalnya dia sendirian. Kamu juga dengar sendiri kan tadi? Aku gak bisa nyupurin kamu pulang, maaf ya?" Ucap Jevano pamit dan langsung pergi meninggalkan Rina tanpa meminta persetujuan gadis itu.


Rina pun tersenyum kikuk saat melihat kepergian Jevano, "Carisa kamu memang benar-benar ngerepotin banget buat Jevano," Kesal Rina.


"Duh Ca angkat dong..." Gerutu Jevano samb menunggu taksi pesanannya datang.

__ADS_1


"Mana hujannya lagi deres banget, pasti macet banget ini" Gumam Jevano.


30 menit kemudian.


"Hiks... hiks... jangan.... berhenti.... please... hiks..."Isak Carisa yang masih setia sembunyi di dalam selimut dan menutup telinganya rapat-rapat.


Carisa megidap Ombrophobia yang di akibatkan oleh kecelakaan yang di alaminya, ah tidak itu bukan Carisa sendiri yang mengalaminya. Namu. Carisa melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana seseorang yang berada di hadapannya tersambar petir saat umurnya masih 9 tahun.


Bahkan jaraknya tidak jauh dari Carisa pada saat itu, dan hanya berjarak 4 meter saja.


Dan orang itu meninggal dunia, tepat di hadapannya. Pada saat kejadian itu terjadi, Carisa langsung pingsan karena terkejut.


Apalagi orang yang tersambar petir itu adalah orang yang sudah menolongnya, orang itu memberikan payungnya pada Carisa yang baru saja pulang dari sekolah dan hujan pun turun sangat deras.


Carisa selalu berpikir, kalau saja orang itu tidak memberikan payungnya pada Carisa. Mungkin orang itu masih tetap bernafas sampai detik ini dan dirinya akan mengantikan orang itu.


Dan itu lebih baik, pikir Carisa. Daripada dirinya harus terus-menerus mengigat kejadian itu, saat hujan turun.


"Hiks.... ku mohon... berhenti..." Isak Carisa.


Ceklek


"Carisa? Ca?" Panggil Jevano menghampiri Carisa yang sedang masih dalam selimut Jevano.


"Ca kenapa? Kamu kenapa hei?" Tanya Jevano binggung.


Jevano pun membuka selimut itu pelan-pelan, "Gak! Jangan di buka! Hiks... hiks... Jangan... takut... berhenti..." Isak Carisa lagi yang semakin membuat Jevano panik dan khawatir dalam waktu yang bersamaan.


"Hei Ca? Kenapa? Aku disini, kamu takut apa?" Tanya Jevano lembut dan mengusap kepala Carisa dari balik selimut.


Carisa pun hanya menangis saja, dan bergumam 'Berhenti... takut..." hanya itu saja kalimat yang di ulanginya sambil menangis. Dengan secara paksa, Jevano pun membuka selimut itu yang membuat Carisa semakin ketakutan dan bergemetaran hebat.


"Hei? Ca kenapa?" Panik ejhani memegangi tangan Carisa yang bergetar.


Carisa membisu, wajahnya pucat dan tidak dapat mengatakan apa yang di rasakannya saat ini pada Jevano. Sehingga membuat Jevano kalut, dan pusing bukan main.


DUAR!


"Aaaaaaaaa!" Pekik Carisa lagi-lagi dan menutup kupingnya rapat-rapat dan maracau tidak jelas.

__ADS_1


Oke mungkin Jevano sedikit mengerti, menurutnya itu mungkin Karana petir. Tapi apa mungkin? Pikirnya.


__ADS_2