How Way Us Fell In Love

How Way Us Fell In Love
67


__ADS_3

"Woi Dico sama Jevano kecelakaan di palang merah kereta api! Gak tau Jevano atau Dico yang mati!" Ucap salah satu teman Dico.


Haris yang mendengar itu pun langsung melebarkan matanya terkejut dan panik, "Eh anjir?! Serius?! Siapa yang meninggal? Bukan temen aku kan?!" Tanya Haris heboh penuh harap.


"Gak tau anj*ng! Ayo kita susul kesana aja mereka!" Ajak teman-teman Dico pada yang lainnya.


"Eh aku numpang dong!" Rengek Haris.


"Ck yaudah buruan sama aku!" Ucap salah satu teman Dico.


Lantas Haris pun langsung menghubungi teman-temannya, ah tidak bukan ide bagus untuk mengirim pesan pikirnya. Lantas Haris pun langsung menelepon Naufal, "Halo kenapa?" Tanya Naufal.


"Woi!!! Jevano kecelakaan anjir! Cepat buru ke rumah sakit, ntar aku share loc! Katanya ada yang meninggal gak tau deh Dico atau Jevano! Mereka katanya kelindas kereta api! Cepat buruan!" Teriak Haris di telepon.


"Eh serius kamu?! Jangan main-main dah Ris! Soal nyawa orang nih ya!" Peringat Naufal, karena Haris suka bercanda hal yang tidak-tidak.


"Iya! Sumpah dah! Aku lagi gak becandaan! Cepat buruan!" Ucap Haris langsung memutuskan sambungan teleponnya dengan Naufal.


"Kenapa Fal?" Tanya Aurel penasaran.


Jevano! Jevano kelindas kereta api! Ayo kita kesana!" Ajak Naufal panik dan langsung bangkit dari duduknya.


"Eh serius kamu Fal? Jadi dia ikut balap liar?" Tanya Reno.


"Iya serius! Itu katanya ada yang meninggal tadi, gak tau Jevano atau Dico nya yang meninggal!" Panik Naufal.


"Duh Rel maaf banget, kayaknya aku gak bisa ngantar kamu pulang deh" Ucap Naufal tak enak hati pada Aurel dengan perasaan khawatirnya pada sahabatnya itu.


Siapa lagi, kalau bukan Jevano.


"K... kamu serius Fal? Jevano gak mungkin..." Ucao Carisa tak kalah khawatir.


"Mau ikut gak Ca? Ayo, aku bawa mobil Haris nih!" Tawar Reno membuat Carisa langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Aku juga ikut," Sahut Aurel.

__ADS_1


"Kamu gimana Leon?" Tanya Aurel


"Ya udah ayo," Ajak Leon akngsung bangkit dari duduknya.


Lantas kelimanya pun langsung segera bergegas menuju ke rumah sakit, yang lokasinya sudah di kirimkan oleh Haris.


Di rumah sakit.


"Haris!" Panggil Naufal di koridor di depan ruang UGD.


"Di... dia udah gak ada..." Ucap Haris menundukkan kepalanya.


Rasanya badan Carisa melemas seketika tak percaya, Cairan pun langsung berjalan terlebih dahulu untuk mendekati Haris.


"Kamu bercanda kan Ris? Jevano itu kuat, dia gak bakal pergi secepat itu dari aku. Dia masih punya tanggung jawab yang penting sama aku, Jevano" Ucap Carisa terpotong karena beberapa perawat keluar sambil mendorong sebuah brangkar yang di tempati oleh seorang jenazah.


"Gak... Gak... gak mungkin, aku pasti lagi mimpi kan? Itu bukan Jevano kan Ris?" Tanya Carisa langsung terduduk di lantai menggeluarkan air matanya yang tertahan sejak tadi.


"Gak Ca, Jevano masih di tangani sama dokter. maksud aku Dico yang udah gak ada,"Jelas Hadris bercongkok di depan Carisa.


Yang lainnya pun bernafas lega, setelah mendengar penjelasan Haris barusan.


"Udah hubungi Tante Tiara?" Tanya Naufal berbisik pada Haris.


Haris pun menggelengkan kepalanya, "Bentar aku telepon dulu" Pamit Haris hendak menelepon keluarga Jevano.


Carisa pun menggeratkan tangannya dengan perasaan takut akan kehilangan Jevano, dan mengigit bibirnya cemas. "Jangan terlalu di pikirin, kita doain Jevano bakalan baik-baik aja" Ucap Naufal pada Carisa, dan Carisa pun menganggukkan kepalanya yakin.


Selepas menghubungi keluarga Jevano, Haris pun kembali pada teman-temannya dengan wajah khawatirnya pada kondisi Jevano.


"Apa kata orang tua Jevano?" Tanya Reno.


"Lagi jalan kesini," Jawab Haris singkat.


"Kenapa bisa kejadian sih?" Tanya Aurel.

__ADS_1


"Anu itu..." Ucao Haris menggaruk tengkuk lehernya binggung harus menjelaskan bagaimana pada Aurel. "Jevano itu... apa ya... dia pokoknya ikut balapan liar, terus ya gitu deh" Jelas Haris.


"Terus Jevano sekarang gimana? Dia gak ada luka-luka parah kan? Cuma lecet-lecet aja kan? Kenapa dokter lama banget di dalam sana," Tanya Carisa merengek khawatir.


Haris pun mengulum bibirnya binggung harus mengatakan apa pada Carisa, "Hmm... sebenarnya kepala Jevano yang parah Ca, aku gak tau deh dia bakal baik-baik aja apa gak. Itu Jevano nabrak samping mobil orang, terus kepalanya terantuk ke kaca mobil gitu sama helm" Jelas Haris.


"Dico?" Tanya Reno.


"Dia yang kelindas kereta api, badan sama kakinya kepisah. Tewas di tempat kejadian," Ucap Haris menundukkan kepalanya.


Naufal pun memijit kepalanya pusing dan binggung, "Terus ini gimana dong?" Tanya Naufal.


"Ya gitu lah, Jevano pastinya harus tanggung jawab juga kan sama mobil yang udah dia tabrak itu. Dan untung aja gak ada korban jiwa, kita tunggu Tante Tiara sama Om Deri dulu. Tadi aku udah minta nomor hp abang-abang yang punya mobil itu kok, kartu tanda siswa Jevano di dompet Jevano ada sama dia" Jelas Haris pada teman-temannya.


Mereka pun hanya diam saja, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hingga perhatian mereka teralihkan pada kedatangan orang tua Jevano yang berlari-lari di koridor rumah sakit.


"Haris!" Panggil Deri dan mereka pun semua menoleh ke sumber suara.


"Carisa..." Lirih Taira.


"Tante..." Hack Cairan langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Tiara untuk memeluknya.


"Jevano gak kenapa-kenapa kan Ca?" Tanya Tiara menangis sambil memeluk Tiara.


Sedangkan Haris, sedang menceritakan kronologi kejadian pada Deri. Dengan cepat, Deri meminta sekretarisnya untuk segera mengurus soal mobil yang di tabrak oleh Jevano.


Sudah 4 jam lamanya mereka berada di depan ruang operasi, dan sekarang sudah pukul jam 1 malam. namun dokter belum juga kunjung keluar dari ruang operasi, iya tadi Jevano langsung dilarikan ke ruang operasi setalah tanda tangan izin dari orang tua Jevano.


Carisa tadinya sudah di suruh untuk segera pulang ke rumah, namun dirinya enggan dan meminta izin pada kedua orang tuanya untuk tetap berada di rumah sakit sampai Jevano dilihatnya benar-benar sudah aman.


Mau tak mau Ayu dan Saka pun menuruti permintaan putrinya itu, yang merengek pada mereka sambil menangis. Hingga berakhirlah kini Ayu dan Saka menemani Carisa di rumah sakit, Aurel dan Leon sudah pulang terlebih dahulu.


Sedangkan Naufal dan Harus, dan Reno masih berada di rumah sakit. Bak seorang teman yang setia menemani temannya di saat susah dan senang.


Ketiganya juga sudah meminta izin kepada orang tua mereka, dan izin untuk tidak hadir untuk sekolah di eson hari. Karena ingin menemani Jevano, dan menunggu perkembangan Jevano.

__ADS_1


Dan ketiga orang tua mereka masing-masing pun mengizinkannya, mengingat sebaik apa kedua orang tua Jevano kepada keluarga mereka.


"Ma Jevano bakal baik-baik aja kan?" Tanya Carisa meneteskan air matanya.


__ADS_2