
Brukh!
"Eh? Carisa?!" Ucap Aurel semakin panik saat melihat Carisa yang tiba-tiba berlutut di bawah, hingga beberapa perhatian orang-orang disana pun tertuju pada mereka.
Leon pun terkejut bukan main, dan langsung menghampiri Carisa dan Aurel khawatir. "Ca? Hei kenapa?" Tanya Leon khawatir.
"Carisa?" Panggil Aurel namun Carisa tak menjawab saat keduanya memanggil namanya.
"Ca ayo bangun, hujannya makin deras" Ajak Leon membantu Carisa untuk bangun.
"Carisa!" Panggil Jevano.
"Je... Jevano..." Lirih Carisa pelan.
Jevano pun menghela nafasnya kasar, setelah menemukan keberadaan Carisa. Dengan nafas yang menggebu-gebu, Jevano pun langsung membawa Carisa ke dalam pelukannya.
"Aku disini Ca, jangan takut..." Ucap Jevano mengusap kepala Carisa.
Aurel dan Leon pun binggung bukan main, bahkan beberapa pengunjung yang disana pun begitu. Takut soal apa? Pikir mereka.
"Jev itu Carisa pucat banget, ayo kita bawa ke rumah sakit aja" Ucap Aurel khawatir pada temannya
"Engga Rel, Carisa aku bawa ke rumah aja kita pamit" Ucap Jevamo dan memasukkan kepala Carisa ke dalam jaket hodie yang di bawanya.
"Eh itu Carisa sakit! Mukanya aja pucat! Bawa ke rumah sakit! Kalo kamu gak mau bawa ke rumah sakit, biar aku sama Aurel aja yang bawa!" Ucap Leon meninggikan suaranya marah pada Jevano.
"Ck! Carisa gak bisa di bawa ke rumah sakit sembarangan!" Sela Jevano membentak Leon.
"Jev aku udah gak tahan..." Ucap Carisa mendukkan kepalanya dan menggenggam ujung baju Jevano takut.
"Heh! Kamu gak lihat? Mukanya pucat bodoh!" Ucap Leon mengumpat pada Jevano.
"Aduh..n Leon udah, udah" Ucap Aurel menahan Leon yang hendak memukul Jevano.
"Jev, yaudah buru bawa Carisa pulang" Ucap Aurel sambil menahan Leon.
"Rel kamu ini apa-apaan sih?!" Omel Leon pada Aurel dan tak habis pikir dengan jalan pikiran sepupunya ini.
Jevano pun langsung membawa Carisa pergi dari sana, selagi Aurel menahan Leon. Jevano juga malas sekali rasanya, kalau sudah berurusan dengan Leon yang sangat keras kepala.
Dan merasa kalau hanya dirinya lah, yang paling benar atas segalanya.
__ADS_1
Setelah sampai di mobil, Jevano pun langsung membawa mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Dengan Carisa yang masih terisak di balik hodie, dan tangan gadis itu yang sedang merawat tangannya kuat-kuat.
Jevano merasa sedikit bersyukur, karena tidak ada suara gemuruh petir hari ini. Untuk saat ini Carisa masih baik-baik saja, selagi itu masih hujan rintik gerimis dan tidak deras.
Karena Jevano merasa rumah Carisa dan juga rumahnya masih jauh, Jevano pun memutuskan untuk membawa Carisa ke hotel yang terdekat di daerah yang mereka lewati.
Lantas Jevano memesan kamar untuknya dan juga Carisa, Jevano pun membuka jaket hodie yang berada di kepala Carisa saat menaiki lift.
"Gimana? Udah baikan? Ada yang sakit?" Tanya Jevano saat melihat Carisa sudah tidak bergemetaran lagi seperti tadi.
Carisa pun menganggukkan kepalanya, dan menatap Jevano yang sudah basah kuyup. "Jev... baju kamu basah..." Ucap Carisa memperhatikan Jevano dari atas sampai bawah.
"Iya gak papa... nanti di atas aku ganti. Kamu serius kan? Udah gak papa kan?" Tanya Jevano khawatir sambil memegangi wajah mungil milik Carisa.
Carisa pun menganggukkan kepalanya, "Aku udah gak papa, makasih banyak Jev" Ucap Carisa membuat Jevano tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.
Ting!
Lift pun terbuka, "Kita disini dulu ya Ca? Nanti kalau hujannya udah berhenti baru kita pulang. Rumah kamu sama rumah aku masih jauh dari sini" Jelas Jevano benar adanya, dan Carisa pun iya-iya saja.
Jevano dan Carisa pun masuk ke dalam kamar hotel mewah yang di pesankan oleh Jevano tadi, "Jev kamu gak mau mandi dulu? Kamu udah basah kuyup, aku yang basah cuma baju ini aja. Aku nanti pakai hodie kamu yang tadi ya?" Tanya Carisa.
"Iya pakai aja Ca," Jawab Jevano
"Ca aku gak bawa baju," Ucap Jevano.
"H...huh? O...oh ya udah kan ada bathrobe, pakai itu aja Jev" Suruh Carisa dan Jevano pun menelan ludahnya dalam-dalam.
"O...oke, nanti kalo kamu udah siap ganti pakaian bilang ya? Biar aku keluar dari kamar mandi," Ucap Jevano.
"Hah?... A... itu i...iya oke" Jawab Carisa terdiam kaku.
Jevano pun merutuki dirinya sendiri, dan segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sebenarnya Jevano adalah tipe anak yang tidak bisa terkena hujan sedikit pun, karena Jevano pasti akan demam jika air hujan itu menguyur tubuhnya.
Sekarang saja Jevano sudah merasakan amat teramat sakit pada kepalanya, dan merasa pusing.
15 menit kemudian.
"Ca udah?" Teriak Jevano dari dalam kamar mandi.
"Hah? Udah apa?" Tanya Carisa balik.
__ADS_1
"Udah ganti bajunya?" Tanya Jevano.
"Oh udah!" Seru Carisa.
Ceklek!
Jevano pun keluar dari kamar mandi, dengan tubuhnya yang di baluti oleh bathrobe dan juga celana ponggol yang melekat pada pinggulnya. Jevano pun berjalan pelan, dan terlihat sedikit pucat.
Carisa pun menghampiri Jevano dekat, lalu memperhatikan wajah Jevano. "Jev? Kenapa?" Tanah Carisa khawatir dan menyentuh jidat kepala Jevano.
"Ya ampun Jev, kamu demam!" Ucap Carisa heboh sendiri dan langsung menuntun Jevano untuk berbaring ke kasur.
"Kamu baring dulu disini, aku mau cari obat dulu" Ucap Carisa sambil menyelimuti Jevano dan hendak pergi.
Jevano pun menahan tangan Carisa, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya lemas. "Di luar hujan Ca, jangan keluar. Kompres aja," Ucap Jevano pelan.
Carisa pun menggigit bibirnya ragu, "Tapi..." Ucap Carisa menggantung.
"Kompres aja Ca," Pinta Jevano lemas dan menutup matanya.
"Ya udah bentar ya?" Ucap Carisa langsung bergegas untuk mencari kompres.
Setelah mendapatkan air hangat, dan handuk hotel. Carisa pun langsung menghampiri Jevano, dengan raut wajah khawatirnya.
Carisa pun mengkompres kepala Jevano, "Duh kenapa bisa jadi demam sih Jev..." Lirih Carisa mengompres kepala Jevano.
Setelah beberapa menit Carisa bolak-balik untuk mengompres kepala Jevano, namun panas Jevano tak juga kuning turun. Carisa pun mencoba untuk mengambil ponselnya, untuk mencari solusi apa agar panas Jevano segera turun.
Pipi Carisa pun langsung bersemu merah, saat membaca artikel dari website yang di bukanya. Dan menelan ludahnya dalam-dalam. Carisa menghela nafasnya kasar, dan mengumpulkan keberaniannya untuk menyentuh dada bidang Jevano untuk di kompresinya.
Carisa pun membuka pelan-pelan tali bathrobe Jevano, agar Jevano tidak terbangun dari tidurnya hingga tali itu pun terlepas.
Carisa menghembuskan nafasnya untuk kesekian kalinya, dan dengan perasaan yang gugup Carisa pun mulai mengkompres bagian dada bidang Jevano.
Dengan pelan Carisa mengkompres, takut membangunkan Jevano yang sedang tertidur lelap. Namun Carisa tidak tahu saja, kalau Jevano sejak tadi masih berada di alam sadarnya.
Hanya saja, Jevano memejamkan matanya yang terasa panas. Bahkan jantung Jevano saat ini, berdegup dengan kencang saat Carisa mengompres dada bidangnya.
Grep!
Carisa pun terkejut bukan main, dan melebarkan matanya saat Jevano menarik tangannya lalu jatuh di atas dada bidang Jevano.
__ADS_1
"Kaget ya?" Tanya Jevano tekekeh lemas.