
"Jangankan untuk ketemu Carisa, masuk ke rumah aja gak boleh" Jawab Jevano benar adanya.
"Good boy, yang penting kamu udah berani tanggung jawab. Udah bener kok," Ucap Naufal membernarkan Jevano.
"Tapi Carisa, aku pengen lihat keadaan Carisa" Ucap Jevano putus asa.
"Loh tadi kamu gak ketemu sama Carisa?" Tanya Haris.
"Kan tadi aku udah bilang, angankan ketemu Carisa. Mau masuk ke rumah aja gak boleh," Jawab Jevano.
"Loh trus tadi? Kamu?" Tanya Haris.
"Cuma di teras aja, tadi aku ngobrol sama Om Saka ya cuma di depan teras rumah aja" Jawab Jevano seadanya.
"Gak papa Jev, mungkin Om Saka masih marah sama kamu. Aku tahu kamu pasti itu di pukul ya sama Om Saka?" Tanya Naufal.
Jevano pun reflek memegangi pipinya yang belum kunjung di obati, "iya" Jawab Jevano jujur.
Keesokan pagi.
"Pagi Ma, Pa" Sapa Jevano pada kedua orang tuanya yang sudah duduk rapi di ruang makan.
"Pagi sayang," Jawab Tiara yang sedang meletakkan nasi untuk suaminya.
"Gimana? Udah baikan kan Jev?" Tanya Deri.
"Udah Pa," Jawab Jevano sambil menarik kursi dan duduk di meja makan.
"Pa, Ma" Panggil Jevano terdengar serius.
"Hm? Kenapa sayang? Mau bilang sesuatu?" Tanya Tiara yang sedang menyiapkan untuk piringnya sendiri.
Jsvamo pun memperhatikan Tiara yang sedang meletakkan lauk ke dalam piringnya, karena Jevano tak bergeming. Lantas Deri pun menyadarkan Jevano dari lamunannya yang sedang memperhatikan Mama nya.
"Kenapa sih Vano? Papa lihat dari kemarin kamu kayak linglung gitu? Ada masalah?" Tanya Deri.
Jevano menghela nafasnya dan menundukkan kepalanya, "Eh itu pipi kamu kenapa? Kok kayak bengkak? Memar ya? Iya bukan? Berantam sama siapa kamu tadi malam?" Tanya Tiara.
"Iya Ma, Jevano di pukul sama Om Saka" Jawab Jevano jujur.
__ADS_1
"Loh? Saka?! Kenapa bisa mukul kamu?" Tanya Deri tegas.
Karena setahunya, Saka adalah orang yang berkepala dingin. Mana mungkin? Pikir Deri, ketika anaknya mengatakan kalau dirinya di pukul oleh Saka.
"Carisa hamil," Ucap Jevano menundukkan kepalanya membuat Tiara dan Deri terkejut bukan main.
"Jevano? Kamu" Ucap Tiara di potong oleh Jevano.
"Jevano lagi gak bercanda kok Ma, Jevano serius. Maaaf Ma Pa, ini salah Jevano. Jevano mau tanggung jawab, kita ke rumah Carisa pagi ini yuk Pa? Ma?" Ajak Jevano.
"Bentar Vano, ini ulah kamu? Kamu ngehamilin Carisa?" Tanya Tiara lagi memastikan.
Jevano pun menganggukkan kepalanya tertunduk, "Aduh! Kenapa buat sekarang sih! Kenapa kamu bikin cucu buat Mama sama Papa pas kamu masih sekolah?! Waktunya gak tepat!" Omel Tiara terdengar marah.
"Selesai sarapan kita harus kesana sekarang juga, Ma hubungi Ayu" Titah Deri.
"Pa... masa depan anak kita itu masih panjang, Vano kamu yakin itu darah daging kamu? Kamu yakin Carisa benar-benar hamil anak kamu?" Tanya Tiara lagi yang masih tidak dapat mempercayai hal itu.
"Maaf Ma, Pa. Jevano udah gagal jadi anak kebanggan Mama sama Papa" Sesal Jevano untuk kesekian kalinya menundukkan kepalanya.
Taira memejamkan mata pusing, dan memegangi kepalanya yang terasa sakit. Tiara rasanya sudah tidak dapat lagi berkata-kata kasar, pada anak semata wayangnya itu.
Lantas Deri, Tiara dan juga Jevano langsung menuju kediaman Leonarka. Untuk melihat apa yang dikatakan Jevano itu benar atau tidaknya, dan memastikan serta membicarakan yang akan mereka lakukan kedepannya bagaimana.
Untuk anak mereka, dan masa depan keduanya.
Sesampainya mereka disana, Tiara dengan perasaan tidak sabaran langsung turun dari mobil saat pagar rumah Carisa belum di buka oleh penjaga.
Namun Tiara sempat di tahan oleh satpam itu, karena Tiara hendak membuka pintu pagar itu dengan tangannya sendiri .
"Kenapa?" Tanya Tiaea sinis dan tak suka. "Kamu gak tau saya siapanya majikan kamu?" Tanya Tiara.
Jevano yang melihat hal tersebut pun, turun dari mobil menyusul Mama nya.
"Nyonya, Tuan, dan Nona sedang berpergian ke luar negeri Bu. Tidak ada seorang pun yang ada dirumah," Jawab satpam itu sopan.
Tiara pun mengerutkan dahinya binggung, karena setahunya sahabatnya itu tidak memiliki jadwal ke luar negeri untuk 3 bulan ke depan. Atau mungkin dadakan? Pikir Tiara.
Namun Tiara merasa aneh, kenapa juga Carisa hadus ikut? Dengan perasaan yang terburu-buru pun Tiara mengeluarkan ponselnya, dan hendak menelepon Ayu.
__ADS_1
Namun, tidak ada jawaban sama sekali.
Tiara pun hendak menelepon Saka, dalam sekali panggilan Saka pun langsung mengangkat telepon dari Tiara.
"Halo? Saka?" Panggil Tiara di telepon.
"Tiara, bisa aku bicara dengan Deri?" Tanya Saka terdengar formal.
"Deri? A... aaa oke, sebentar ya" Ucap Tiara memberikan ponselnya pada suami.
"Speaker," Ucap Tiara lalu mengajak Jevano untuk masuk ke dalam mobil.
"Halo? Saka?" Sapa Deri.
"Deri, maaf menganggu waktu mu. Maaf untuk mengatakan ini juga, ku rasa hubungan kita sampai disini saja bukan? Ini semua sudah jelas. Ku rasa juga Jevano pasti sudah jelaskan, kenapa alasan aku ingin memutuskan hubungan kita begitu saja."
"Untuk kerugian proyek yang lagi kita kerjakan, aku akan urus secepatnya. Terima kasih, ah iya tolong jangan cari tahu apapun soal Carisa. Itupun kalau kau menghargai kami dan Carisa, ini permintaan Carisa. Aku hanya ingin putri ku, bahagia dengan pilihannya."
"Aku harap kamu dan Tiara, aku mengerti apa alasan aku untuk melakukan ini. Tolong jaga privasi anakku, tolong didik anak mu dengan baik. Sekian," Ucap Saka lantang langsung memutuskan telepon sepihak.
Tut.
Setelah mengatakan hal seperti itu pada sahabatnya, Saka pun langsung memblokir nomor Tiara, Deri, bahkan Jevano sekalipun.
Saka pun melirik dari kaca tengah spion mobil pada putrinya, yang sedang menatap keluar jendela. Saat ini Saka, Carisa, dan juga ayu sedang dalam perjalanan menuju ke bandara.
"Semua akan baik-baik saja sayang," Ucap Ayu mengusap rambut putrinya sayang.
"Jevano mereka masih di Jakarta, ayo cepat! Kita harus ke bandara sekarang juga!" Ucap Tiara.
"Ma tadi Mama gak dengar? Kita harus jaga privasi Carisa," Jelas Deri.
"Gak Pa, kita gak bisa mutusin hubungan kita sama mereka gitu aja! Ayo Jevano cepat? Kamu bilang kamu tanggung akan kan?!" Pekik Tiara kesal sendiri pada anaknya.
"I... iya Ma," Jaana Jevano langsung menjalankan mobilnya di atas kecepatan rata-rata, untuk menuju ke bandara.
"Percepat mobilnya sekarang, mereka pasti tahu kita masih berada di Jakarta dan hendak menyusul ke bandara" Perintah Saka pada supir pribadi mereka.
"Baik Tuan," Jawab supir itu melajukan mobilnya lebih cepat.
__ADS_1