How Way Us Fell In Love

How Way Us Fell In Love
36


__ADS_3

Falshback On.


"Pa.. Papa?" Ucap Aurel terkejut saat dirinya baru saja pulang dari les privat dan menemukan Papa nya yang sedang bercumbu di ruang tamu dengan seorang selebriti muda.


Yang mungkin seumuran dengannya? Entahlah, Aurel pun tak yakin soal itu. Karena Aurel melihat wajah polos gadis itu, yang bisa di bilang terlihat sangat muda.


Aldi yang menyadari kedatangan anaknya pun, langsung membalikkan badannya hingga membuat Aurel dan Aldi saling bertukar tatap.


"Udah pulang?" Tanya Aldi berjalan mendekat pada putrinya.


Sedangkan gadis tadi, langsung merapikan pakaiannya karena malu dengan Aurel. Aurel pun melirik sekilas pas gadis itu, dapat Aurel pastikan kalau wajah gadis itu sembab dan baru saja selesai menangis, atau bahkan sedang menangis.


"Papa maksa dia buat mau tidur sama Papa?" Tanya Aurel yang sudah tidak tahan lagi.


Aldi pun tak bergeming hanya melihat putrinya saja, allu melipat kedua tangannya di depan dadanya.


Aurel mendelikkan matanya malas melihat respon Papa nya, "Kenapa aku harus ngelihatnya di ruang tamu? Kenapa gak lakuin di kamar? Di tempat tidur jahanam itu? Kenapa gak di kamar aja?!" Teriak Aurel frustasi meninggikan suaranya pada Aldi.


Aldi pun menatap tajam pada putrinya, dengan wajahnya yang memerah. Namun Aldi mengalihkan tatapannya pada gadis yang di cumbunya secara paksa tadi, sedang memunguti tas dan juga sepatunya.


Mungkin gadis itu ingin kabur, pikir Aldi.


"Apa Papa sadar? Atau Papa masih belum sadar juga? Papa sudah menebak Mama, dan... astaga... Aurel gak bisa percaya ini."


"Apa Papa malah sekarang gak ada rasa bersalah sedikit pun ke Mama? Papa selalu tidur dengan wanita yang berbeda setiap malam? Bahkan membawa wanita kotor itu ke dalam rumah kita?" Isak Aurel menyampaikan unek-uneknya selama ini pada Aldi.


"Papa juga gak mikirin gimana perasaan Aurel? Mental putri Papa? Apa Papa pikir Aurel selama ini diam, berarti Aurel oke-oke aja sama kelakuan Papa yang biadab? Papa juga ngelakuin itu terang-terangan di depan Aurel Pa..." Jelas Aurel.


"Dia bahkan... se usia dengan ku... atau bahkan mungkin lebih muda? Tebak Aurel sarkas.

__ADS_1


"Jaga ucapan mu itu Aurel," Peringat Aldi mengepal tangannya agar tetap berusaha sabar pada ucapan tajam putrinya.


"Apa Aurel gak boleh marah sama Papa? Apa Aurel gak boleh juga dapatin apa yang Aurel mau? Papa gak capek main perempuan terus? Papa gak bosan? Menjijikan! Aku melihatnya setiap hari! Aku muakk!" Bentak Aurel tak tahan dan sudah berada di luar kendalinya.


Aldi menyipitkan matanya dan berjalan mendekat pada anaknya, "Apa kau bilang? Anak ******? Huh? Bilang apa kamu tadi? Bilang apa hah?!" Bentak Aldi menarik rambut Aurel kasar.


"Menjijikan! Papa pria menjijikkan yang pernah ada di hidup ku!" Teriak Aurel frustasi.


Plak!


Aldi baru saja menampar Aurel, dan itu masih di bawah alam sadar pria itu. "Kamu pikir Mama kamu itu gak menjijukam Aurel Fitri Afnan?!" Bentak Aldi.


"Mama kamu itu bahkan lebih menjijikan! Dia tidur dengan pria lain setelah menikah sama Papa! Kamu pikir siapa yang buat Papa kamu jadi seperti ini?! Mama kamu sakit jiwa seperti itu?! Itu adalah tanggung jawabnya atas kesalahan besar yang di lakukannya sama Papa!" Ucap Aldi meninggikan suaranya dan menarik rambut Aurel semakin kuat.


"Aaaaa Paa.. sakit lepas!!!" Ucap Aurel memberontak saat Aldi menarik Aurel menaiki tangga rumahnya.


"Kamu bilang apa tadi? Menujukan? Kamu bilang Papa kamu ini menjijikkan kan Aurel?! Baik! Biar kamu rasakan apa yang Papa rasakan, bagaimana indahnya surga dunia ini!" Ucap Ladi menarik Aurel paksa untuk masuk ke dalam kamar.


Aldi pun membanting Aurel ke atas tempat tidur miliknya, hingga membuat Aurel ketakutan setengah mati. "Tidak Aurel tidak, jangan biarkan lelaki brengsek ini menyentuh mu sedikit pun!" Ucap Aurel dalam hati.


"Kamu bilang hal ini menjijikkan hm? Di kasur yang kamu bilang kalau ini kasur jahanam Aurel? Ayolah, ini sangat nikmat. Kamu nikmatin saja permainan Papa oke?" Ucap Aldi mulai menggerayangi tubuh anaknya dan mencium bibir Aurel kasar.


Aurel memberontak dan menangis, DNA tentu saja gadis itu takut bukan main. Namun apalah daya, walaupun Aldi sudah berumur kepala empat, dirinya masih masih kuat untuk menahan Aurel sekuat tenaganya.


Aurel pun meleas, dan mengikuti Aurel permainan Papanya, yang berusaha untuk merusak anaknya sendiri. Aurel tidak menyerahkan dirinya begitu saja kepada Aldi, hanya saja Aurel sedang membuat taktik untuk melepaskan dirinya dari tua bangka gila itu.


Karena Aldi merasa Aurel sudah tidak memberontak lagi, Aldi melepaskan ciumannya dan melirik gadis itu dengan air mata yang tiada hentinya mengalir.


Aldi tersenyum miring, "Gadis pintar, kamu menikmatinya kan? Kamuu yakin ini adalah kegiatan yang paling menjijikan itu?" Ucap Aldi sambil menghapus air mata putrinya.

__ADS_1


Aurel bergemetaran takut, "Apa aku harus menjadi seorang pembunuh?" Batin gadis itu takut namun sedang menimbang-nimbang.


Aldi pun menjalankan aksinya, dan berusaha untuk membuka kancing kemeja yang Aurel kenakan hingga membuat Aurel semakin ketakutan dan meremat kasur erat-erat.


"Ini saatnya Aurel, jangan biarkan dia menyentuh tubuh terlalu jauh" Batin Aurel.


Bugh!


"Akh! Kurang ajar!" Umpat Aldi saat Aurel menendang ******** pria itu hingga terjatuh dari atas kasur.


Aurel pun mengambil kesempat untuk kabur, namun saat dirinya hendak kabur. Kakinya di tarik oleh Papa nya yang sedang mengaduh kesakitan pada area ***********.


"Hiks... Pa... lepasin Aurel... Papa harus sadar... jangan sentuh Aurel tolong!" Teriak Aurel ketakutan.


Plak!


"Gadis bodoh! Kamu ini gak berguna sama sekali Aurel! Hanya tubuh kamu yang berguna untuk Papa!" Ucap Aldi sarkas dan langsung menarik Aurel kasar untuk kembali ke ranjang yang di sebut jahanam oleh Aurel.


Namun Aurel melawannya, dan memegang pada meja yang terdapat disana, agar Papa nya tidak dapat menariknya.


"Sialan!" Ucap Aldi alngsung menghampiri anaknya dan menganggukkan kepala Aurel hingga membuat kepala Aurel mengeluarkan darah segar dan tak sadarkan diri.


"Bagus! Ah tapi ini gak bakalan enak, kalo dia tidur! Dia gak bakal tahu gimana rasa menjijikan itu!" Ucap Aldi kesal.


Plak!


"Bangun!" Ucap Aldi menampar pipi Aurel berkali-kali hingga, bahkan menyiram wajah Aurel dengan air agar gadis itu bangun.


Aurel pun membuka matanya, dan mengedipkan matanya berkali-kali. Berharap kalau tadi dirinya sedang bermimpi buruk, namun nyatanya tidak.

__ADS_1


"Bagus! Kamu udah sadar kan sekarang?" Tanya Aldi menarik seragam sekolah Aurel paksa namun Aurel menahannya.


"Paa.. Jangan... Aurel anak Papa..." Isak Aurel.


__ADS_2