
"Hai?!" Sapa Nabila.
"Loh?" Ucap Carisa terkejut.
"Gak usah kaget, kita berdua memang sekolah disini kok. Kita sekelas sama Jevano," Jelas Lia tersenyum ramah pada Carisa.
"Ahh... gitu..." Sahut Carisa.
"Kamu sendirian? Kita boleh gabung disini gak?" Tanya Nabila.
"Dia sama aku," Ucap Aurel yang baru saja tiba, dengan membawa sebuah nampan yang berisi makanan dan minuman.
Nabila, Rina, dan Lia pun terkejut saat melihat Aurel yang menjadi teman makan di kantin dengan Carisa. Dan ketiganya terlihat meremehkan Aurel, dengan tatapan yang tak suka.
Nabila dan Lia sangat terlihat jelas dan tidak menyukai Aurel, sedangkan Rina memilih untuk menyimpan rasa tidak sukanya itu pada Aurel.
"Kamu temanan sama dia?" Tanya Lia tak suka dan menujuk Aurel yang baru saja duduk.
Carisa pun menganggukkan kepalanya bangga, "Iya memangnya kenapa?" Tanya Carisa.
"Dia itu anak pembunuh, kamu gak" Ucap Nabila di potong Rina.
"Maaf ya, teman aku mulutnya suka gak di rem kalo mau bicara. Aurel maaf ya! Kita pergi dulu, ayo ayo!" Ajak Rina menarik paksa kedua temannya dari sana.
Aurel pun mendengus kesal sambil mengaduk mienya asal, "Kayaknya kita gak bisa temanan deh. Kamu lihat kan? Kalo kamu temanan sama aku, kamu gak bakal punya teman selain aku disini" Jelas Aurel.
"Gak kok, aku gak perlu punya teman banyak tapi munafik. Aku mau kok temanan sama kamu Rel," Jawab Carisa jujur.
Aurel pun mengedip-ngedipkan matanya berkali-kali, karena baru kali ini dirinya menemukan teman sebaik Carisa.
"Maksih Carisa, maaf ya ko aku jadi buat kamu gak nyaman gini" Ucap Aurel tak enak hati.
"Ngapain bilang makasih sih? Aku santai aja, malah aku senang bisa punya temen kayak kamu. Seharusnya aku yang bilang makasih ke kamu, soalnya kamu udah bawain ini untuk aku" Ujar Carisa terkekeh pelan dan menunjukkan pada mangkok somaynya.
__ADS_1
Dan keduanya pun terkekeh pelan, "Tau gak? Itu 3 orang yang disini tadi itu mereka sengaja mau dekatin kamu, soalnya Rina suka sama Jevano" Ujar Aurel.
Karena Aurel juga pernah di dekati oleh ketiga orang itu, karena dulunya Aurel juga pernah dekat dengan komplotan Jevano.
"Rina?" Tanya Carisa yang memang tidak mengenal siapa itu sosok Rina.
"Rina itu yang pamit ke kita tadi," Jawab Aurel.
"Kamu kok bisa tahu dia suka sama Jevano?" Tanya Carisa.
"Satu angkatan juga tau gimana perasaan Rina ke Jevano cuma Jevano nya aja yang memang gak tau, atau memang pura-pura gak tau"Ujar Aurel.
"Kamu tau banyak juga ya," Kekeh Carisa.
"Hih aku tu bukan tau banyak, tapi Jevano itu memang sepopuler itu ke sekolah. Jadi kalo ada yang suka sama dia, pasti kita itu tau" Jelas Aurel. "Udah deh, jangan ngomong lagi. Makan dulu," Cicit Aurel.
"Yeuu padahal yang ngajak aku ngomong dari tadi itu kamu Rel," Sahut Carisa terkekeh pelan.
"No kantin sekolah lah ayo!" Ajak Haris.
"Gak dulu deh, lebih enakkan kantin sini" Jawab Jevano.
"Ck, Fal kuy lahh" Ajak Haris.
"Kamu gak lihat makanan aku belum habis hah?" Tanya Naufal agak kesal.
Lantas Haris pun memyadarkan tubuhnya di kursi kantin "Kalian kenapa sih selalu maunya makan disini terus? Aku kan juga pengen gitu makan di kantin dala sekolah, terus sambil ngelihatin Rina yang makannnya anggun banget uh," Ujar Haris sambil membayangkan Rina.
"Heh sadar deh! Rina tu sukanya sama Jevano! Bukan ulat bulu kayak kamu!" Ejek Naufal.
"Ck, apasih!" Jawab Jevano malas.
"Heh kamu gak capek apa No? Kasihan tu si Rina, sampai kapan kamu mau pura-pura gak tau kalo dia suka sama kamu?" Tanya Haris.
__ADS_1
Ah iya, Haris tidak benar-benar menaruh hati pada Rina. Tidak sama sekali, Haris hanya sekedar kagum saja pada Rina karena gadis itu terlihat sangat misterius, anggun, berwibawa dan pokoknya Haris hanya kagum saja pada gadis itu.
Karena pada nyatanya, Haus juga sedang menyukai orang lain. Dan sayangnya, rasanya sukanya itu bertepuk sebelah tangan.
"Kamu gak ada niatan buka hati buat Rina gak?" Tanya Naudal random.
"Kalian berdua tahu sendirian kan? Aku sukanya yang gimana?" Tanya Jevano, lantas keduanya pun langsung menganggukkan kepalanya mengerti.
"Iya juga sih ya," Ucap Haris menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. "Kamu kan gak suka sama cewe yang mandiri ke Rina, kamu itu sukanya sama cewe yang menye-menye gak jelas kita kayak Yura hahaha" Tawa Haris pecah.
"Bukan Ris, Jevano tu sukanya sama cewe yang bergantungan sama dia. Yang kalo ada apa-apa tu ya selalu minta tolong ya ke Jevano," Sahut Naufal terkekeh pelan.
"Makanya Jevano sampai sekarang gak bisa move on dari Yura, orang Yura nya aja sekarang dikit-dikit minta tolongnya ke Vano terus, manja! Luka kena silet sikit aja udah mewek. Ck! Coba Rina deh, aduh.... dia gak bakal ngeluh tuh pasti" Ucap Haris lagi-lagi membangga-banggakan Rina.
"Ck kalian! Eh tapi Yura tadi malam nge chat aku," Ucap Jevano jujur yang memang selalu terbuka kepada teman-temannya.
"Tu kan apa ku bilang! Jevano itu pasti gak bakal bisa lepas dari Yura! Soalnya Yura selalu gitu ke Jevano, minta tolong Mulu heran!" Jelas anudak yang di angguki setuju oleh Haris.
"Udah deh No, biar aku sama Naufal aja yang jemput si Yura di bandara. Kita mau bantuin kamu move on dari dia," Saran Haris.
"Kasian banget ya teman ku, si Rina belum sempat confess ke Jevano. Eh si Yura udah mau balik aja ya," Ucap Naufal terkekeh.
"Abis si Rina juga diam-diam aja buset, gemes sendiri tau gak? Seharusnya tu kamu ajarin dong itu si Rina buat dekat-dekat ke Jevano terus, ngintilin ni anak kemana-mana" Jelas Haris.
"Heh? Kalian berdua kenapa ngomongnya di depan aku sih???" Tanya Jevano heran pada teman-temannya.
...🐈⬛🐈⬛🐈⬛...
Kamu sama Jevano memang sedekat itu ya? Aku belum pernah lihat Jevano. ngeboncengin cewe lain selain Yura," Tanya Aurel pada Carisa.
"Gak kok, aku sama Jevano aja baru kenal hari Sabtu kemarin. Orang tua aku sama Jevano. itu kayak sahabatan gitu," Jelas Caidaa jujur dan membuat Aurel menganggukkan kepalanya mengerti.
"Omong-omong Yura itu siapa nya Jevano?" Tanya Carisa penasaran.
__ADS_1