
Jevano yang awalnya ingin ke rumah Reno untuk mengerjakan tugas itu pun, langsung memutar balik mobilnya. Bahkan Jevano membawa mobilnya dengan kecepatan dia atas rata-rata dan sudah melalui batasnya.
10 menit kemudian.
Carisa pun mendengar suara mobil yang baru saja tiba, Carisa masih takut untuk memastikan siapa itu. Takut kalau itu adalah pria asing yang mengejarnya tadi, dan membawa teman-temannya menggunakan mobil untuk mencari dirinya.
Carisa lebih memilih untuk tetap diam, dan menunggu pesan dari Jevano.
Carisa la gedung berdiri, saat suara yang di kenalnya itu sedang memanggil namanya dengan teriakan yang nyaring. Dan dapat membuat siapa saja dapat bangun dari tidur mereka, saat mendengar teriakan Jevano.
"Ca! Carisa?!" Panggil Jevano teriak.
"Jevano!" Panggil Carisa langsung berlari mendekat pada Jevano.
Tanpa perasaan yang ragu, Carisa pun langsung berhampur untuk memeluk Jevano erat dan senang saat Jevano berhasil menemukannya.
Jevano menghela nafasnya lega, dan membalas pelukan Carisa sejenak. Lalu setelahnya Jevano melepaskan pelukannya pada Carisa, "Kamu kenapa bisa disini sih Ca? Takut kenapa?" Tanya Jevano khawatir.
"A... aku takut Jev, ayo pulang..." Isak Carisa tak sanggup.
"C... Ca ini juga kenapa? Lsger kamu kenapa?" Tanya Jevano panik saat melihat terdapat bercak merah di leher Carisa, ah tidak di tangan Carisa juga.
Hingga hal tersebut membuat Jevano, jadi berpikiran yang tidak-tidak. Karena ruang algeri Carisa terlihat seperti bekas kissmark dari seseorang, Jevano takut terjadi hal buruk pada Carisa.
"Jev... ayo pulang... sekarang, aku takut..."Rengek Carisa membuat Jevano langsung menganggukkan kepalanya setuju.
Jevano pun membawa Carisa untuk masuk ke dalam mobilnya hingga membukakan pintu mobil untuk Carisa, dan memastikan Carisa merasa aman di dekatnya.
Setelahnya, Jevano pun menutup pintu dan memutari mobilnya dan memasuki mobilnya.
Lalu, Jevano pun pergi meninggalkan tempat sunyi itu, dan di kenal cukup rawan dengan begal.
Jevano pun diam-diam melirik Carisa yang tidak pelan, serta tangan Carisa yang sedang meremas ujung baju tidurnya takut.
Mata Jevano juga gak lepas dari sekantong plastik yang berisi obat, yang sedari tadi di genggam oleh gadis itu.
__ADS_1
"Carisa lagi sakit? Atau lagi gak enak badan apa ya?" Tanya Jevano dalam hati.
"Mau beli minum dulu? Kita ke swalayan depan bentar ya? Mau? Tawar Jevano dan Carisa pun menganggukkan kepalanya pasti.
Jevano pun menghela nafasnya kasar, dan meriah tangan Carisa untuk di genggamnya. "Aku disini Ca, jangan takut" Ucap Jevano dan Carisa pun hanya meneteskan air matanya dan menganggukkan kepalanya.
Dapat Jevano rasakan, kalau Carisa memang sangat ketakutan. Bahkan tangan Carisa benar-benar dingin, dan terlihat pucat. Dan itu membuat kekhawatiran Jevano jadi bertambah, apalagi tadi dirinya melihat beberapa bercak merah di leher gadis itu.
Jevano takut saja, kalau hal yang di takutkannya itu benar tejadi. Jevano merasa was-was, bagaimana kalau Carisa di lecehkan oleh orang asing? Pikir Jevano.
Jevano pun mematikan mesin mobilnya, "Ca kamu mau ikut atau" Ucap ejgano langsung di potong oleh Carisa.
"Aku ikut Jev," Jawab Carisa cepat dan Jevano pun menganggukkan kepalanya. "Ya udah ayo," Ajak Jevano.
Lantas keduanya pun masuk ke dalam swalayan tersebut, dengan Carisa yang tidak mau melepaskan ujung kemeja Jevano.
Karena Jevano dapat merasakan Carisa merasa ketakutan, Jevano pun meriah tangan Carisa untuk di genggamnya.
"Mau apa Ca? Es krim mau?" Tanya Jevano.
"Mau air putih aja Jev," Jawab Carisa dan Jevano pun menganggukkan kepalanya, lalu mengambil dua botol air mineral untuknya dan Carisa.
Jevano pun mengambil secara random beberapa cemilan makanan, dengan Ceria yang setia mengikuti Jevano dan memegangi tangan Jevano yang enggan untuk di lepaskannya.
Setelah merasa cukup, Jevano dan Carisa pun alngsung menuju kasir untuk membayar makanan dan juga minuman yang mereka beli tadi.
Di mobil.
"Minum dulu Ca," Ucap Jevano membukakan air meninerak yang di belinya tadi, dan memberikannya pada Carisa.
Carisa pun emngamb air itu, dan meminumnya dengan beberapa kali teguk.
"Udah siap cerita hm?" Tanya Jevano lembut membuat Carisa menatap Jevano dengan mata yang berkaca-kaca.
"Jev..." Panggil Carisa meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Kenapa hey? Ya udah gak papa, kalo kamu belum siap cerita gak papa. Jangan anngis oke? Hm?" Ucap Jevano tak suka melihat Carisa menangis dan menghapus air mata gadis itu lembut.
"Aku takut... tadi aku... hampir aja... hiks..." Isak Carisa menangis lagi, hingga membuat Jevano menarik Carisa untuk masuk ke dalam dekapannya, dan menepuk-nepuk pundak Carisa pelan.
Setelah Carisa meras tenang, Cairan pun melepaskan pelukannya dari Jevano dan menceritakan apa ayang sebanrnya terjadi padanya kepada Jevano.
Mulai dari dirinya yang awalnya alergi makan udang, hingga berakhir di kejar-kejar oleh pria asing yang mesum.
Jevano pun menghela nafasnya kasar, "Kamu sampai gak sadar Ca. Kalo lutut kamu lima gini, bentar aku beli Betadine sama plaster dulu. Kamu tunggu disini aja, jangan takut. Ini mobilnya aku kunci," Uvak Jevano langsung keluar dari mobil dan mengunci pintu mobilnya.
Carisa pun mengedip-ngedipkan matanya melongo melihat Jevano, dan Carisa sangat merasa nyaman dan aman. Dan juga sangat suka, saat Jevano memperlakukannya seperti seorang tuan putri.
Tak lama Jevano pun sudah kembali membeli barang-barang, yang sekiranya di butuhkannya untuk mengobati luka Carisa.
Ceklek
Jevano pun masuk ke dalam mobil, dan menutup pintu mobilnya dengan tangan kirinya yang memengangi sekantong plastik.
Jevano menghidupkan lampu di dalam mobil, "Siniin" Ucap Jevano menepuk-nepuk pahanya pelan.
"Hah?" Tanya Carisa binggung.
"Letak disini kakinya, biar aku obati dulu" Ucap Jevano sambil menepuk-nepuk pahanya lagi.
Jevano pun menghela nafasnya kasar, "Kamu mau angkat kaki mu sendiri. Atau kamu" Ucap Jevano karena Carisa langsung meletakkan kakinya di paha Jevano.
"Maaf... jadi ngerepotin kamu terus" Ucap Carisa tertunduk tak enak.
"Lain kali kamu juga bilang Ca, jangan sungkan-sungkan sama aku. Bilang kalo kamu gak bisa makan makanan yang buat kamu alergi gini bilang juga kalo mau keluar."
"Biar aku yang temenin, aku tadi sempat aja berpikir yang gak-gak pas lihat leher kamu Ca.. astaga.. Lain kali jangan rahasia-rahasiaan deh Ca, kamu gak tahu luar dalam orang disini."
"Gak tahu dimana tempat rawan hal yang kayak gitu, disini keras, pelecahan disini itu udah dimana-mana. Jangan anggap sepele, aku bakal ada setiap kamu butuh aku kok Ca" Omel Jevano panjang lebar pada Carisa sambil mengobati lutut gadis itu.
"Hmm.. iyaa, makasih Jev" Sahut Carisa.
__ADS_1
"Aghh! Pelan-pelan Jev!" Gerutu Carisa kesakitan.
"Eh?" Kaget Jevano. "Sakit? Maaf-maaf, tangan sebentar ya?" Ucap Jevano tak enak sendiri saat memegangi kaki Carisa yang posisikan di atas pahanya.