How Way Us Fell In Love

How Way Us Fell In Love
15


__ADS_3

"Kamu itu gimana sih? Itu kan bagus untuk kamu dan juga," Ucap Mama Rina terpotong.


"Apa sih Ma? Rina berangkat sekarang!" Ucap Rina langsung bangkit dari duduknya.


"Rina yang sopan bicara sama orang tua! Mama sama Papa gak pernah ya ajarin kamu jadi anak kurang ajar!" Ucap Papa Rina dengan suara yang agak menunggu hingga membuat Rina membalikan badannya dengan terpaksa.


"Maaf," Ucap Rina tertunduk dan membuat Papanya menghela nafasnya kasar serta menatap putrinya dengan tetapan elang.


"Mama kamu benar, kamu itu" Ucap Papanya lagi terpotong.


"Mama sama Papa tahu gak sih? Rina juga punya harga diri! Mama sama Papa mau Rina jadi perempuan gatal gitu? Yang suka genit-genit ke anak orang kaya? Supaya bisnis keluarganya lancar? Gak! Rina gak bakal ngelakuin hal segila itu!" Ucap Rina langsung keluar dari rumahnya.


Rina pun membuat nafasnya kasar, "Nyebelin banget!" Pekiknya keras di depan gerbang depan rumahnya.


...^^^Room chat ^^^...


Rina :


Fal


Pulang sekolah nanti sibuk gak?


^^^Naufal :^^^


^^^Gak^^^


^^^Kenapa emang?^^^


Rina:


Temenin ke pantai yuk?


Pulang semah aja


^^^Naufal :^^^


^^^Berantam lagi?^^^


Rina :


:(


^^^Naufal :^^^


^^^Oke^^^


^^^Berangkat sekolah sama siapa?^^^


^^^Selagi aku masih manasin mobil^^^


Rina :

__ADS_1


Boleh gak aku nebeng?


Bentar deh, aku ke rumah kamu aja


^^^Naufal :^^^


^^^Gak usah^^^


^^^Tunggu di depan komplek aja^^^


Rina :


Oke


Makasih


read


...🐈‍⬛🐈‍⬛🐈‍⬛...


"Jev kayaknya duh... aku pake rok pendek tahu!" Rengek Carisa saat melihat tembok tinggi di depannya.


"Lah? Tadi katanya bisa manjat," Jawab Jevano.


"Iya aku bisa manjat! Tapi ya kamu pikir sendiri lah! Masa aku manjat pake rok sependek ini?" Tanya Carisa sewot sendiri.


Jevano pun menghela nafasnya kasar, "Ya udah tunggu di sini bentar! Jangan kemana-mana! Aku mau pinjam tangga Wak Iyan dulu bentar," Ucap Jevano.


"Udah, kamu diem aja!" Ucap Jevano meninggalkan Carisa dan berkahir lah Carisa hanya bisa menurut saja.


Carisa melebarkan matanya saat melihat Jevano dengan seseorang yang datang bersamanya, sambil membawa sebuah tangga papan untuk memanjat tembok. Carisa pun menatap Jevano tak percaya, bagaimana bisa dia berpikiran soal itu? Pikir Carisa.


Jevano pun membuka ranselnya, dan mengeluarkan selimut yang kemarin di pakai Carisa di mobil. "Nih pakai! Untung aja kemarin belum aku keluarin, lilitin aja" Suruh Jevano.


Carisa gak bergeming, dan mengedip-ngedipkan matanya berkali-kali. "Ck! Lama banget sih!" Ucap Jevano menarik Carisa hingga membuat Carisa tersentak.


Jevano pun memakaikan selimut itu seperti rok panjang pada pinggang Carisa, hingga membuat Carisa malu setengah mati. Bahkan pipinya sekarang sudah memerah, karena menahan malu sekaligus salah tingkah.


"Astaga Carisa! Kamu ini ngerepotin banget!" Gerutu dalam hati.


"Kamu naik deluan," Ucap Jevano menunjukkan pada tangga yang sudah berdiri tegap di dinding itu sudah siap untuk di naiki.


"Kamu?" Tanya Carisa.


"Samaan, aku nanti tinggal manjat aja. Kamu baik tangga," Ucap Jevano dan Cairan pun menurut dan menaiki satu-persatu tangga itu pelan-pelan dengan perasaan sedikit takut.


Selama 17 tahun hidup, Carisa baru kali ini menaiki tangga seperti itu.


Jevano turun lebih dulu dari Carisa, "Carisa cepat!" Ucap Jevano.


"Iya iya!" Ucap Carisa meninggikan suaranya.

__ADS_1


"Eh? Jangan teriak! Nanti ada yang dengar!" Peringat Jevano mengecilkan suaranya.


Carisa pun akhirnya sudah sampai di atas tembok, dan hanya tinggal lompat ke bawah saja. Namun dirinya terpeleset, lalu berteriak kesakitan dan terperangkap basah oleh kepala sekolah.


"Heh?! Ngapain kalian lewat sana?!" Ucap kepala sekolah itu berkacak pinggang.


"Carisa?! Aduh..." Ucap Jevano langsung menghampiri Carisa.


Lantas kepala sekah itu pun langsung menghampiri kedua siswa itu, "Makanya jangan lewat belakang! Udah tahu terlambat bukannya lewat pintu depan!" Omel kepala sekolah.


"Maaf Bu," Ucap Cariaa tertunduk.


Kepala sekolah pun langsung menjewer kuping Jevano, "Kamu juga ya Vano! Tidak siap-siap nya kamu membuat masalah di sekolah! Astaga..." Ucap kelas sekolah itu menjewer kuping Jevano gemas.


"Arghhh... argh... Bu sakit Buu!" Rengek Jevano memegangi kupingnya sakit.


"Kalian berdua ikut ibu!" Ucap kepala sekolah itu.


Lantas Jevano pun membantu Carisa berdiri, "Ayo bangun" Ajak Jevano membantu Carisa bangkit.


"Duh maaf ya... gara-gara aku teriak, kita jadi kedapatan gini. Mana telat lagi," Ucap Carisa tak enak pada Jevano.


"Santai, aku sering kok terlambat. Ya udah ayo," Ajak Jevano membantu Carisa berjalan dengan tertatih.


Lantas keduanya pun langsung mengikuti kepala sekolah keduanya berjalan beriringan menuju lapangan sekolah. Tentu saja Carisa dan Jevano akan di hukum, bersama anak-anak yang terlambat datang ke sekolah hari ini.


"Eh Vano, udah lama juga ya gak lihat kamu terlambat terus di hukum disini" Ejek syila pada Jevano dan Jevano pun hanya mendelikkan matanyabmlas pada temannya itu.


Saat mendengar ucapan Syila barusan, membuat Carisa semakin merasa bersalah pada Jevano. Karena Carisa berpikir kalau dirinya, hanya bisa merepotkan Jevano saja.


"Ca capek gak? Kaki kamu sakit?" Tanya Jevano melihat lutut kaki Carisa yang lecet saat turun dari tembok sekolah tadi.


"Gak kok Jev, gak papa gak capek, gak sakit juga. Maaf ya? Gara-gara aku kamu jadi ikutan di hukum kayak gini," Ucap Carisa menundukkan kepalanya menyesal.


"Gak papa ih, minta maaf terus dari tadi" Sahut Jevano terkekeh pelan. "Aku sering masuk terlambat, cuma gak lewat depan aja. Tapi lewat jalan yang tadi, jadi santai aja Ca. Gak usah ngerasa bersalah gitu, aku jadi gak enak ke kamunya" Jelas Jevano yang mengerti bagaimana perasaan Carisa saat ini.


"O... Oke" Jawab Carisa.


Lantas Jevano dan Carisa pun segera untuk menyelesaikan tugasnya, Carisa dan Jevano di beri hukuman untuk menyapu halaman sekolah sebagai hukuman karena datang terlambat ke sekolah. Tidak hanya mereka berdua, tapi seluruh siswa yang datang terlambat akan diberi hukuman membersihkan lapangan sekolah.


"Ca kamu tadi terlambat?" Tanya Aurel dan Carisa menganggukkan kepalanya lesu.


"Kok bisa?" Tanya Aurel penasara.


Carisa pun menghela nafasnya kasar dan menceritakan pada Aurel, bagaimana dirinya bisa telat datang ke sekolah. Mulai dari mengambil ponselnya yang ketinggalan di rumah Jevano, sampai tertangkap basah memanjat tembok sekolah bersama Jevano.


Hingga berkahir di hukum, untuk membersihkan lapangan sekolah.


"Menurut kamu aku ngerepotin banget gak si Rel?" Tanya Carisa.


"Hmm... di bilang ngerepotin iya juga sih, tapi di bilang gak ngerepotin juga bisa sih. Lagian Jevano nya gak marah ke kamu, sama protes gitu kan? terus juga gak masalahin soal itu kan? Udah santai aja," Jelas Aurel.

__ADS_1


__ADS_2