How Way Us Fell In Love

How Way Us Fell In Love
28


__ADS_3

"Non kalo Non 30 menit lagi belum balik, saya susul ya" Ucap satpam itu tegas.


"Siap Pak!" Jawab Carisa sambil menggaruk-garuk tangannya yang gatal.


"Tunggu Non!" Tahan satpam itu menahan pergerakan Carisa dengan memanggil gadis itu. "Nama toko apoteknya apa Non?" Tanya satpam itu.


"Apotek sehat Pak," Jawab Carisa. "Pak saga pergi dulu ya, gatal banget soalnya" Pamit Carisa.


"Hati-hati ya Non," Pesan satpam itu membuat Carisa menganggukkan kepalanya.


Lantas Carisa pun dengan beraninya pergi, dan meninggalkan rumahnya dengan berjalan kaki di jam 9 malam lewat begini.


"Duh aku kok jadi deg-deg an gini sih?" Batin Carisa tak enak.


Carisa pun mengikuti arah jalan yang tunjukkan oleh google maps, Carisa merasa bersyukur saat dirinya sampai dengan selamat di apotek dan juga google maps memberikan jalan yang benar untuknya dan sangat ramai.


Maksudnya, jalannya tidak sepi. Sehingga membuat Carisa merasa agak nyaman, jika pun sesuatu terjadi padanya setidaknya Carisa dapat meminta pertolongan pada orang sekitarnya dengan berteriak keras.


"Mba ada antishimin?" Tanya Carisa saat dirinya baru saja sampai di apotek.


"Ada dek, mau berapa?" Tanya apotek tersebut.


"Satu papan Kak," Jawab Carisa.


"Sebentar ya dek," Jawab apoteker tersebut dan Carisa pun menganggukkan kepalanya.


Tak perlu menunggu waktu yang lama, karena apoteker itu sudah kembali dengan sebuah obat satu papan di genggamannya.


"Ini di minum 2×1 aja ya dek, di makan sesudah makan" Ucap apoteker itu.


"Iya Kak, makasih. Kak saya boleh minum sekarang aja gak Kak? Boleh minta air putihnya?" izin Carisa.


"Udah makan malam belum?" Tanya apoteker itu membuat Carisa menganggukkan kepalanya bohong.


"Oh boleh kok, bentar ya saya ambilkan air putih dulu" Pamit apoteker itu mengambilkan air untuk Carisa.


Setelah mengambil air putih, apoteker itu pun kembali dengan segelas air putih di tangannya. Dan di berikannya pada Carisa, "Ini Dek, minum dulu" Ucap apoteker itu memberikan Carisa segelas air putih.


"Makasih Kak, maaf ngerepotin banget" Ucap Carisa tak enak sambil mengambil segelas air tersebut.


"Gak ngerepotin sama sekali kok Dek," Ucap apoteker itu tersenyum ramah.


Setelah Carisa meminum pil obat alerginya, lantas Carisa pun langsung pamit dan berterima kasih pada apoteker itu untuk segera pulang ke rumahnya.


Saat Carisa hendak menuju pulang ke rumahnya, jantung Carisa berdar tidak beraturan. Karena Carisa merasakan ada seseorang, yang sedang mengikutinya dari belakang.


Langkah demi langkah,


Tuk


Tuk


Tuk


Tuk


Tuk

__ADS_1


Tuk


Tuk


Tuk


Tuk


Tuk


Tuk


Tuk


Tuk


Tuk


Tuk


Tuk


Tuk


Semakin dekat,


Carisa pun melebarkan matanya, ketika langkah yang di dengarnya itu mulai terdengar semakin dekat dan terdengar jelas di telinganya.


"Lari? Engga? Lari? Oke lari!" Ucap Carisa dalam hati dan langsung berlari cepat tidak tentu arah.


Mata Carisa pun langsung membola saat mendagsr langkah di belakangnya juga ikut berlari, dan sepertinya sedang mengejarnya tebak Carisa.


Damn!


Yang benar saja, Carisa memang sedang di kejar oleh orang asing yang tidak di kenalnya. Karena pada malam itu juga sangat gelap, jadi Carisa tidak dapat melihat siapa orang yang sedang mengejarnya.


Karena orang itu memakai pakaian bewarna gelap.


Dug!


Carisa terjatuh,


Saat Carisa berlari dan menoleh ke belakang, Carisa tak sengaja terjatuh dan tersandung pada batu yang berukuran sedang di depannya.


Dan jatuhlah Carisa dengan cara tersandung, matsnya semakin membola saat melihat orang asing tersebut semakin dekat dengannya, dengan deru nafas yang tergesa-gesa.


"Hah... hah... gadis manis? Mau lari kemana? Mau main ke rumah Om hm?" Tanya orang itu menyentuh dagu Carisa.


Carisa bergemetaran takut, saat orang asing itu dengan beraninya memegangi dagunya dengan lancang tanpa izin darinya.


"Ja... jangan sentuh dagu saya," Ucap Carisa gugup dan takut, lalu menepis tangan pria asing tersebut


"Hey? Kenapa? Jangan takut... Om gak gigit kamu kok, mau main sebentar?" Ajak orang asing itu membantu Carisa berdiri, dan Carisa pun menurut saja karena dirinya takut.


Orang asing itu pun meremas lembut dan mengelus lembut baju Carisa, hingga membuat air mata Carisa menetes karena takut. "Kenapa nangis? Ayo ikut Om," Ajak orang asing itu menarik Carisa.


Saat Carisa di tarik oleh pria asing itu, Carisa pun memiliki ide dan inisiatif untuk menendang ******** pria itu dan lari.

__ADS_1


Dug!


"ARGHH! Sialan!" Umpat pria asing itu mengaduh kesakitan memegangi ***********, saat Carisa menendang *********** dengan brutal.


Carisa pun mengambil kesempat emas itu untuk kabur saat tangannya terlepas dari genggaman pria mesum itu, dan lari sekuat tenaga.


Dapat Carisa lihat dari belakang, kalau pria asing itu juga masih mengikutinya dan berlari dengan terpapah-papah karena *********** yang masih sakit, pikir Carisa.


Carisa pun berusaha lari secepat mungkin, dengan lutu yang di seretnya karena terluka saat tersandung tadi. Saat menemukan jalan gang, Carisa pun langsung bersembunyi di balik-balik tong sampah besar.


Dan menutupi mulutnya rapat-rapat karena takut, takut kalau sampai pria asing itu mendengar isakannya. Lalu secara terang-terangan, melecehkan dirinya seperti tadi.


"Sialan! Kemana dia pergi?" Gerutu pria asing itu. "Aku hampir aja dapat gadis perawan! Awas aja kalau ketemu!" Ucap pria asing itu kesal, lalu pergi meninggalkan Carisa karena hilang tanpa jejak.


Padahal tidak tahu saja, kalau Carisa sedang menahan idak tangisnya di balik beberapa tong sampah yang bau itu, yang tempat itu itu terdapat gang kecil yang terdapat disana.


Setelah pria asing itu menggerutu, pria itu pun pergi meninggalkan lokasi tesebut saat tidak menemukan Carisa.


Hingga membuat Carisa, bernafas lega dan bersyukur.


Jevano! Hanya pria itu yang terlintas di pikiran Carisa.


Dengan cekatan, Carisa pun menghubungi Jevano. Tidak, Carisa menelepon Jevano. Karena kalau menelepon, itu adalah ide yang sangat-sangat gila.


Carisa takut kalau saja pria asing itu masih mengincarnya, atau bahkan mencarinya dengan berjaga di sekitar sini. Lantas Carisa pun berpikiran, untuk lebih baik menghubungi Jevano melalui media chat saja.


...Room Chat...


^^^Carisa :^^^


^^^*send location*^^^


^^^Jev😭^^^


^^^Jemput aku disini tolong, urgent banget please!^^^


^^^Aku takut bangettt^^^


^^^Jangan di telpon aku takut dia dengar suara ponsel aku^^^


^^^Pleaseee buruan!^^^


^^^Jevvv^^^


^^^P^^^


^^^P^^^


Jevano :


Tunggu disana, jangan di matiin lokasi hpnya


^^^Carisa:^^^


^^^Cepatttt😭^^^


^^^read^^^

__ADS_1


Carisa pun menghela nafasnya lega, saat Jevano alngsung membalas pesannya saat dirinya baru saja mengirim pesan tersebut.


Carisa masih bersembunyi di balik tong sampah itu, dan menahan isakan tangisnya agar tidak bersuara.


__ADS_2